<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491</id><updated>2012-01-16T10:32:52.718+07:00</updated><title type='text'>Agricultur Online</title><subtitle type='html'>Agriculture Online Mengupas Tentang Budidaya Pertanian</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>91</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8484167652131891125</id><published>2009-12-07T23:01:00.002+07:00</published><updated>2009-12-07T23:06:47.368+07:00</updated><title type='text'> KOMPOS </title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/Sx0n25gZd8I/AAAAAAAAAPs/dIhSXS5DYb4/s1600-h/question-mark.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/Sx0n25gZd8I/AAAAAAAAAPs/dIhSXS5DYb4/s200/question-mark.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412526151272331202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa itu kompos ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bahan Organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humus merupakan salah satu bentuk bahan organik. Jaringan asli berupa tubuh tumbuhan atau fauna baru yang belum lapuk terus menerus mengalami serangan-serangan jasad mikro yang menggunakannya sebagai sumber energinya dan bahan bangunan tubuhnya. Hasil pelapukan bahan asli yang dilakukan oleh jasad mikro disebut humus.Humus biasanya berwarna gelap dan dijumpai terutama pada lapisan tanah atas. Definisi humus yaitu fraksi bahan organik tanah yang kurang lebih stabil, sisa dari sebagian besar residu tanaman serta binatang yang telah terdekomposisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humus merupakan bentuk bahan organik yang lebih stabil, dalam bentuk inilah bahan organik banyak terakumulasi dalam tanah. Humus memiliki kontribusi terbesar terhadap durabilitas dan kesuburan tanah. Humuslah yang aktif dan bersifat menyerupai liat, yaitu bermuatan negatif. Tetapi tidak seperti liat yang kebanyakan kristalin, humus selalu amorf (tidak beraturan bentuknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humus merupakan senyawa rumit yang agak tahan lapuk (resisten), berwarna coklat, amorf, bersifat koloidal dan berasal dari jaringan tumbuhan atau hewan yang telah diubah atau dibentuk oleh berbagai jasad mikro. Humus tidaklah resisten sama sekali terhadap kerja bakteri. Mereka tidak stabil terutama apabial terjadi perubahan regim suhu, kelembapan dan aerasi.Adanya humus pada tanah sangat membantu mengurangi pengaruh buruk liat terhadap struktur tanah, dalam hal ini humus merangsang granulasi agregat tanah. Kemampuan humus menahan air dan ion hara melebihi kemampuan liat. Tinggi daya menahan (menyimpan) unsur hara adalah akibat tingginya kapasitas tukar kation dari humus, karena humus mempunyai beberapa gugus yang aktif terutama gugus karboksil. Dengan sifat demikian keberadaan humus dalam tanah akan membantu meningkatkan produktivitas tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan Ciri Humus&lt;br /&gt;• Bersifat koloidal seperti liat tetapi amorfous.&lt;br /&gt;• Luas permukaan dan daya jerap jauh melebihi liat.&lt;br /&gt;• Kapasitas tukar kation 150-300 me/100 g, liat hanya 8-100 me/100 g.&lt;br /&gt;• Daya jerap air 80-90% dari bobotnya, liat hanya 15-20%.&lt;br /&gt;• Daya kohesi dan plastisitasnya rendah sehingga mengurangi sifat lekat dari liat dan membantu granulasi agregat tanah.&lt;br /&gt;• Misel humus tersusun dari lignin, poliuronida, dan protein liat yang didampingi oleh C, H, O, N, S, P dan unsur lainnya.&lt;br /&gt;• Muatan negatif berasal dari gugus -COOH dan -OH yang tersembul di pinggiran dimana ion H dapat digantikan oleh kation lain.&lt;br /&gt;• Mempunyai kemampuan meningkatkan unsur hara tersedia seperti Ca, Mg, dan K.&lt;br /&gt;1. Merupakan sumber energi jasad mikro.&lt;br /&gt;2. Memberikan warna gelap pada tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang Mempengaruhi Bahan Organik Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik dan nitrogen tanah, faktor yang penting adalah kedalaman tanah, iklim, tekstur tanah dan drainase.&lt;br /&gt;Kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organik dan N. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm (15-20%). Semakin ke bawah kadar bahan organik semakin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik memang terkonsentrasi di lapisan atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin ke daerah dingin, kadar bahan organik dan N makin tinggi. Pada kondisi yang sama kadar bahan organik dan N bertambah 2 hingga 3 kali tiap suhu tahunan rata-rata turun 100C. bila kelembaban efektif meningkat, kadar bahan organik dan N juga bertambah. Hal itu menunjukkan suatu hambatan kegiatan organisme tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekstur tanah juga cukup berperan, makin tinggi jumlah liat maka makin tinggi kadar bahan organik dan N tanah, bila kondisi lainnya sama. Tanah berpasir memungkinkan oksidasi yang baik sehingga bahan organik cepat habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri (Hakim et al, 1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Bahan Organik Bagi Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.&lt;br /&gt;Bahan organik umumnya ditemukan dipermukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi bagi sebagian besar organisme tanah. Dalam memainkan peranan tersebut bahan organik sangat ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh karena kelancaran dekomposisinya, serta hasil dari dekomposisi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Fisika Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan tanaman di atasnya. Kadar air optimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah 0,5 bar/ atmosfer.&lt;br /&gt;• Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu tanah.&lt;br /&gt;• Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya&lt;br /&gt;• Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.&lt;br /&gt;Salah satu peran bahan organik yaitu sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah. Menurut Arsyad (1989) peranan bahan organik dalam pembentukan agregat yang stabil terjadi karena mudahnya tanah membentuk kompleks dengan bahan organik. Hai ini berlangsung melalui mekanisme:&lt;br /&gt;• Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah, diantaranya jamur dan cendawan, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Miselia atau hifa cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan bakteri berfungsi seperti semen yang menyatukan agregat.&lt;br /&gt;• Peningkatan secara fisik butir-butir prima oleh miselia jamur dan aktinomisetes. Dengan cara ini pembentukan struktur tanpa adanya fraksi liat dapat terjadi dalam tanah.&lt;br /&gt;• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan bagian-bagian pada senyawa organik yang berbentuk rantai panjang.&lt;br /&gt;• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antar bagian negatif liat dengan bagian negatif (karbosil) dari senyawa organik dengan perantara basa dan ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antara bagian negatif liat dan bagian positf dari senyawa organik berbentuk rantai polimer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Kimia Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada koloid mineral yang meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK akibat penambahan bahan organik dikarenakan pelapukan bahan organik akan menghasilkan humus (koloid organik) yang mempunyai permukaan dapat menahan unsur hara dan air sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan organik dapat menyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah. Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali. Berbeda dengan pupuk komersil dimana biasanya ditambahkan dalam jumlah yang banyak karena sangat larut air sehingga pada periode hujan terjadi kehilangan yang sangat tinggi, nutrien yang tersimpan dalam residu organik tidak larut dalam air sehingga dilepaskan oleh proses mikrobiologis. Kehilangan karena pencucian tidak seserius seperti yang terjadi pada pupuk komersil. Sebagai hasilnya kandungan nitrogen tersedia stabil pada level intermediet dan mengurangi bahaya kekurangan dan kelebihan. Bahan organik berperan sebagai penambah hara N, P, K bagi tanaman dari hasil mineralisasi oleh mikroorganisme. Mineralisasi merupakan lawan kata dari immobilisasi. Mineralisasi merupakan transformasi oleh mikroorganisme dari sebuah unsur pada bahan organik menjadi anorganik, seperti nitrogen pada protein menjadi amonium atau nitrit. Melalui mineralisasi, unsur hara menjadi tersedia bagi tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan kation yang mudah dipertukarkan dan pelarutan sejumlah unsur hara dari mineral oleh asam humus. Bahan organik dapat menjaga keberlangsungan suplai dan ketersediaan hara dengan adanya kation yang mudah dipertukarkan. Nitrogen, fosfor dan belerang diikat dalam bentuk organik dan asam humus hasil dekomposisi bahan organik akan mengekstraksi unsur hara dari batuan mineral. Mempengaruhi kemasaman atau pH. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan atau malah menurunkan pH tanah, hal ini bergantung pada jenis tanah dan bahan organik yang ditambahkan. Penurunan pH tanah akibat penambahan bahan organik dapat terjadi karena dekomposisi bahan organik yang banyak menghasilkan asam-asam dominan. Sedangkan kenaikan pH akibat penambahan bahan organik yang terjadi pada tanah masam dimana kandungan aluminium tanah tinggi , terjadi karena bahan organik mengikat Al sebagai senyawa kompleks sehingga tidak terhidrolisis lagi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan bahan organik terhadap perbaikan sifat kimia tanah tidak terlepas dalam kaitannya dengan dekomposisi bahan organik, karena pada proses ini terjadi perubahan terhadap komposisi kimia bahan organik dari senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses yang terjadi dalam dekomposisi yaitu perombakan sisa tanaman atau hewan oleh miroorganisme tanah atau enzim-enzim lainnya, peningkatan biomassa organisme, dan akumulasi serta pelepasan akhir. Akumulasi residu tanaman dan hewan sebagai bahan organik dalam tanah antara lain terdiri dari karbohidrat, lignin, tanin, lemak, minyak, lilin, resin, senyawa N, pigmen dan mineral, sehingga hal ini dapat menambahkan unsur-unsur hara dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Biologi Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat. Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh.&lt;br /&gt;Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Bahan Organik Bagi Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan. Peranan bahan organik ada yang bersifat langsung terhadap tanaman, tetapi sebagian besar mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat dan ciri tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Langsung Bahan Organik pada Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penelitian ditemukan bahwa beberapa zat tumbuh dan vitamin dapat diserap langsung dari bahan organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Dulu dianggap orang bahwa hanya asam amino, alanin, dan glisin yang diserap tanaman. Serapan senyawa N tersebut ternyata relatif rendah daripada bentuk N lainnya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin serta pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan jasad mikro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik ini merupakan sumber nutrien inorganik bagi tanaman. Jadi tingkat pertumbuhan tanaman untuk periode yang lama sebanding dengan suplai nutrien organik dan inorganik. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan langsung utama bahan organik adalah untuk menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan, sehingga pemupukan dengan pupuk anorganik yang biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi kuantitasnya karena tumbuhan sudah mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah tersebut. Efisiensi nutrisi tanaman meningkat apabila pememukaan tanah dilindungi dengan bahan organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Tidak Langsung Bahan Organik pada Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman merupakan pengaruhnya terhadap sifat-sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah. Bahan organik tanah mempengaruhi sebagian besar proses fisika, biologi dan kimia dalam tanah. Bahan organik memiliki peranan kimia di dalam menyediakan N, P dan S untuk tanaman peranan biologis di dalam mempengaruhi aktifitas organisme mikroflora dan mikrofauna, serta peranan fisik di dalam memperbaiki struktur tanah dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut. Besarnya pengaruh ini bervariasi tergantung perubahan pada setiap faktor utama lingkungan. Sehubungan dengan hasil-hasil dekomposisi bahan organik dan sifat-sifat humus maka dapat dikatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat dan ciri tanah. Peranan tidak langsung bahan organik bagi tanaman meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air karena bahan organik, terutama yang telah menjadi humus dengan ratio C/N 20 dan kadar C 57% dapat menyerap air 2-4 kali lipat dari bobotnya. Karena kandungan air tersebut, maka bahan organik terutama yang sudah menjadi humus dapat menjadi penyangga bagi ketersediaan air.&lt;br /&gt;• Membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi unsur-unsur tersebut dari pencucian. Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali.&lt;br /&gt;• Meningkatkan kapasitas tukar kation tanah Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.&lt;br /&gt;• Memperbaiki struktur tanah Tanah yang mengandung bahan organik berstruktur gembur, dan apabila dicampurkan dengan bahan mineral akan memberikan struktur remah dan mudah untuk dilakukan pengolahan. Struktur tanah yang demikian merupakan sifat fisik tanah yang baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur liat, pasir, atau gumpal akan memberikan sifat fisik yang lebih baik bila tercampur dengan bahan organik.&lt;br /&gt;• Mengurangi erosi&lt;br /&gt;• Memperbaiki agregasi tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.&lt;br /&gt;• Menstabilkan temperatur. Bahan organik dapat menyerap panas tinggi dan dapat juga menjadi isolator panas karena mempunyai daya hantar panas yang rendah, sehingga temperatur optimum yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk pertumbuhannya dapat terpenuhi dengan baik.&lt;br /&gt;• Meningkatkan efisiensi pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Demikian pula dengan peranannya dalam menanggulangi erosi dan produktivitas lahan. Penambahan bahan organik akan lebih baik jika diiringi dengan pola penanaman yang sesuai, misalnya dengan pola tanaman sela pada sistem tumpangsari. Pengelolaan tanah atau lahan yang sesuai akan mendukung terciptanya suatu konservasi bagi tanah dan air serta memberikan keuntungan tersendiri bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Lesman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8484167652131891125?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8484167652131891125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8484167652131891125&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8484167652131891125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8484167652131891125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/12/kompos.html' title='&lt;center&gt; KOMPOS &lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/Sx0n25gZd8I/AAAAAAAAAPs/dIhSXS5DYb4/s72-c/question-mark.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-5224639945893619661</id><published>2009-12-07T22:52:00.002+07:00</published><updated>2009-12-07T22:56:46.788+07:00</updated><title type='text'>MACAM-MACAM BAHAN ORGANIK</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam bahan organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah, biasanya berupa pupuk. Pupuk merupakan bahan alami yang ditambahkan pada tanah supaya kesuburan tanah dapat meningkat. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari alam yaitu dari sisa-sisa organisme hidup baik sisa tanaman maupun sisa hewan yang mengandung unsur-unsur hara baik makro maupun mikro yang yang dibutuhkan oleh tumbuhan supaya dapat tumbuh dengan subur. Pupuk organik terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, diombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur-usur yang dapat digunakan oleh tanaman, tanpa mencemari tanah dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk organik dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair biasanya berupa saringan dari pupuk padat. Pupuk cair ini dimaksudkan agar penggunannya lebih mudah, tidak mengandung kotoran, dan sekaligus menjaga kelembaban tanah. Pupuk padat dapat berupa pupuk hijau, pupuk serasah, kompos, maupun pupuk kandang. Kesemuanya akan berpengaruh positif terhadap tanah jika pemberiannya ke tanah setelah pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PUPUK PADAT/KERING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk Hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk hijau terbuat dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah. Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah dari familia Leguminoceae atau kacang-kacangan dan jenis rumput-rumputan (rumput gajah). Jenis tersebut dapat menghasilkan bahan organik lebih banyak, daya serap haranya lebih besar dan mempunyai bintil akar yang membantu mengikat nitrogen dari udara. Keuntungan penggunaan pupuk hijau antara lain&lt;br /&gt;   1. mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air&lt;br /&gt;   2. mencegah adanya erosi&lt;br /&gt;   3. dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit yang berasal dari tanah dan gulma jika ditanam pada waktu tanah bero&lt;br /&gt;   4. sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk inorganik&lt;br /&gt;Namun pupuk hijau juga memiliki kekurangan yaitu :&lt;br /&gt;    * tanaman hijau dapat sebagai kendala dalam waktu, tenaga, lahan, dan air&lt;br /&gt;    * pada pola tanam yang menggunakan rotasi dengan tanaman legume dapat mengundang hama ataupun penyakit&lt;br /&gt;    *  dapat menimbulkan persaingan dngan tanaman pokok dalam hal tempa, air dan hara pada pola pertanaman tumpang sari.&lt;br /&gt;Pupuk Seresah&lt;br /&gt;Pupuk seresah merupakan suatu pemanfaatan limbah atau komponen tanaman yang sudah tidak terpakai. Misalnya jerami kering, bonggol jerami, rumput tebasan, tongkol jagung, dan lain-lain. Pupuk seresah sering disebut pupuk penutup tanah karena pemanfaatannya dapat secara langsung, yaitu ditutupkan pada permukaan tanah di sekitar tanaman (mulsa). Peranan pupuk ini diantaranya :&lt;br /&gt;    *  dapat menjaga kelembaban tanah, mengurangi penguapan, penghematan pengairan&lt;br /&gt;    *  mencegah erosi, permukaan tanah yang tertutup mulsa tidak mudah larut dan terbawa air&lt;br /&gt;    * menghambat adanya pencucian unsur hara oleh air dan aliran permukaan&lt;br /&gt;    *  menghambat pertumbuhan gulma&lt;br /&gt;    *  menjaga tekstur tanah tetap remah&lt;br /&gt;    *  menghindari kontaminasi penyakit akibat percikan air hujan&lt;br /&gt;    *  memperlancar kegiatan jasad renik tanah sehingga membantu menyuburkan tanah dan sumber humus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk Kompos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kompos merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan, seperti jerami, alang-alang, sekam padi, dan lain-lain termasuk kotoran hewan. Sebenarnya pupuk hijau dan seresah dapat dikatakan sebgai pupuk kompos. Tetapi sekarang sudah banyak spesifikasi mengenai kompos. Biasanya orang lebih suka menggunakan limbah atau sampah domestik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan bahan yang dapat diperbaharui yang tidak tercmpur logam dan plastik. Hal ini juga diharapkan dapat menanggulangi adanya timbunan sampah yang menggunung serta megurangi polusi dan pencemaran di perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk Kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani terbiasa membuat dan menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk karena murah, mudah pengerjaannya, begitu pula pengaruhnya terhadap tanaman. Penggunaan pupuk ini merupakan manifestasi penggabungan pertanian dan peternakan yang sekaligus merupakan syarat mutlak bagi konsep pertanian organik.Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.p1, li.p1, div.p1 {mso-style-name:p1; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --&gt; Pupuk kandang mempunyai keuntungan sifat yang lebih baik daripada pupuk organik lainnya apalagi dari pupuk anorganik, yaitu :&lt;br /&gt;    * Pupuk kandang merupakan humus banyak mengandung unsur-unsur organik yang dibutuhkan di dalam tanah. Oleh karena itu dapat mempertahankan struktur tanah sehingga mudah diolah dan banyak mengandung oksigen. Penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan dan poduksi pertanian. Hal ini disebakan tanah lebih banyak menahan air lebih banyak sehingga unsur hara akan terlarut dan lebih mudah diserap oleh bulu akar.&lt;br /&gt;    * Sumber hara makro dan mikro dalam keadaan seimbang yang sangat penting unuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang tidak terdapat pada pupuk lainnya bisa disediakan oleh pupuk kandang, misalnya S, Mn, Co, Br, dan lain-lain&lt;br /&gt;    * Pupuk kandang banyak mengandung mikrooganisme yang dapat membantu pembentukan humus di dalam tanah dan mensintesa senyawa tertentu yang berguna bagi tanaman, sehingga pupuk kandang merupakan suatu pupuk yang sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman dan keberadaannya dalam tanah tidak dapat digantikan oleh pupuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUPUK CAIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk oganik bukan hanya berbentuk padat dapat berbentuk cair seperti pupuk anorganik. Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya lebih cepat terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan baku pupuk cair dapat berasal dari pupuk padat dengan perlakuan perendaman. Setelah beberapa minggu dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pupuk cair dapat memudahkan dan menghemat tenaga. Keuntungan pupuk cair antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * pengerjaan pemupukan akan lebih cepat&lt;br /&gt;    * penggunaanya sekaligus melakukan perlakuan penyiraman sehingga dapat menjaga kelembaban tanah&lt;br /&gt;    * aplikasinya bersama pestisida organik berfungsi sebagai pencegah dan pemberantas penggangu tanaman.&lt;br /&gt;Jenis tanaman pupuk hijau yang sering digunakan untuk pembuatan pupuk cair misalnya daun johar, gamal, dan lamtorogun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULSA (PENUTUP TANAH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulsa atau penutup tanah sangat penting dan berpengaruh positif terhadap tanah maupun tanaman. Dalam peranannya untuk peningkatan kesuburan tanah, mulsa yang paling baik adalah mulsa yang berasal dari limbah pertanian seperti jerami padi, seresah dan ilalang, tidak dari plastik. Selain fungsinya untuk menjaga kelembaban tanah, setelah mulsa membusuk akan berguna sebagai pupuk organik yang memperbaiki struktur dan tekstur tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang tidak menggunakan mulsa akan mudah terkena erosi bila erkena air hujan maupun pecah-pecah apabila terlalu banyak penguapan. Seperti diketahui bahwa erosi akan memperburuk kesuburan tanah dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta tanaman menjadi mudah roboh. Sedangkan kondisi tanah yang pecah-pecah akan berpengaruh buruk pada perakaran tanaman berupa putusnya akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya mulsa, air hujan yang jatuh akan meresap ke bawah sehingga tidak terjadi aliran permukaan. Selanjutnya dengan penguapan yang sedikit, air tanah tetap tersedia bagi tanaman. Karena mulsa berguna untuk mengurangi penguapan, mencegah erosi, menjaga kelembaban tanah, dan sebagai sumber penambah hara setelah menjadi pupuk hijau, lahan pertanaman yang menggunakan mulsa akan menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis pupuk yang termasuk kedalam pupuk organik adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa-sisa makanan ataupun alas kandang. Pupuk kandang berfungsi menambah unsur unsur hara baik makro maupun mikro kedalam tanah. selain itu pupuk kandang dapat mempertinggi humus, memperbaiki struktur tanah dan mendorong kehidupan jasad renik tanah. Pupuk kandang terdiri dari dua komponen asli, yaitu padat dan cair dengan perbandingan rata-rata 3 : 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel. Persentase Kadar Hara dalam Bagian Padat dan Cair dari Pupuk Kadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pupuk N total (%) P total (%) K total (%)&lt;br /&gt;Kotoran padat 55 100 65&lt;br /&gt;Kotoran cair 45 sedikit 35&lt;br /&gt;Total 100 100 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian kadar rata-rata unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang sangatlah bervariasi. Variasi ini disebabkan oleh macam atau jenis hewan, umur dan keadaan individu hewan, jenis makanan, bahan amparan dan cara pengelolaan dan penyimpanan pupuk kandang sebelum dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk hijau adalah tanaman atau bagian-bagian tanaman yang masih muda yang dibenamkan kedalam tanah dengan tujuan untuk menambah bahan organik dan unsur hara terutama nitrogen kedalam tanah.&lt;br /&gt;Dari segi biokimia keuntungan dari pemakaian pupuk hijau dapat dikatakan bahwa dengan pemakaian pupuk hijau berarti menambah persediaan bahan organik tanah. Disamping itu, tanaman calon pupuk hijau yang tumbuh mempunyai pengaruh terhadap pengawetan hara tanah karena mengabsorpsi hara, selain itu tanaman pupuk hijau berfungsi sebagai tanaman penutup tanah (cover crop) contohnya Centrosema sp dan Peuraria javanica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat biologi tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompos banyak mengandung mikroorganisme (fungi, aktinomicetes, bakteri dan algae) yang berfungsi untuk proses dekomposisi lanjut terhadap bahan organik tanah. Dengan ditambahkannya kompos didalam tanah, tidak hanya jutaan mikroorganisme yang ditambahkan kedalam tanah, akan tetapi mikroorganisme yang ada didalam tanah juga terpacu untuk berkembang biak. Selain itu aktifitas mikroorganisme didalam tanah juga menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan seperti auksin, giberellin dan sitokinin yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan akar-akar rambut sehingga daerah pencarian unsur-unsur hara semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk guano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guano merupakan deposit atau sedimen yang terdiri dari kotoran binatang, terutama kotoran burung laut dan kelelawar yang telah mengalami pengaruh alam dalam waktu relatif lama dan telah mengalami perubahan-perubahan. Unsur hara yang terdapat didalamnya adalah N dan P dan ada juga guano yang mengandung unsur kalium (K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam humus (Humic Acid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam humus merupakan senyawa kompleks bersifat koloid yang berasal dari bahan-bahan organik yang tahan terhadap dekomposisi dan sel-sel mikroorganisme yang sudah terurai, terbentuk pada akhir dekomposisi lanjut, berwarna coklat atau coklat kelam.&lt;br /&gt;Asam humus mempunyai kemampuan mengabsorpsi air mencapai 80-90%, sedangkan lempung silikat hanya 15-20%, selain itu dapat juga meningkatkan granulasi tanah dengan baik dan didalamnya terdapat unsur hara baik makro maupun mikro serta trace mineral lainnya yang dibutuhkan untuk perkembangan tumbuhan. Selain itu asam humus juga mempunyai kemampuan untuk mengikat vitamin dan zat-zat pengatur tumbuh yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah sehingga sangat bermanfaat untuk tumbuhan tingkat tinggi, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), perbaikan struktur tanah, memacu perkembangan berbagai kelompok mikroba yang menguntungkan dan lain-lain.&lt;br /&gt;Bila reaksi dari penambahan bahan organik berjalan sempurna, akan didapatkan senyawa-senyawa sederhana seperti air, udara, dan sebagainya. Bila bahan organik segar dimasukkan ke dalam tanah, senyawa- senyawa yang terkandung dalam bahan organik tersebut dilapuk secara simultan namun dengan laju yang berrbeda-beda. Tiga reaksi umum yang terjadi bila jaringan organik dimasukan ke dalam tanah :&lt;br /&gt;•   Limbah organik mengalami oksidasi enzimatik dengan CO2, air dan panas sebagai hasil utama&lt;br /&gt;• Unsur-unsur fungsional, Nitrogen, Fosfor, dan belerang dibebaaskan dan atau digunakan oleh serangkaian reaksi spesifik yang khas bagi tiap unsure&lt;br /&gt;•  Senyawa yang tahan terhadap serangan jasad mikro akan dibentuk baik dari senyawa yang berasal dari bahan organik semula atau hasil bentukan jasad mikro.&lt;br /&gt;Peningkatan porositas tanah ditentukan oleh ukuran dan padatan tanah yang dapat meningkatkan aerasi, kandungan air, dan menentukan perbandingan tata udara dan tata air yang baik. Pori-pori akan membentuk jaringan dalam tanah dalam bentuk tiga dimensi. Udara dalam ruang pori tanah umumnya didominasi oleh gas-gas O2, N2, dan CO2. Hal ini penting bagi pernafasan mikroorganisme tanah dan akar tanaman, dan mempengaruhi jumlah mikroba aerobik dan anaerobik tanah.&lt;br /&gt;Bahan organik dapat diperoleh dari residu tanaman seperti akar, batang, daun yang gugur, yang dikembalikan ke tanah.&lt;br /&gt;Bahan organik sangat besar peranannya dalam menyediakan media pertumbuhan dan perkembangan perakaran. Diantara peranan bahan organik meliputi:&lt;br /&gt;• Menjaga kelembaban bahan organik terutama yang telah menjadi humus dengan rasio C/N 20 dan kadar C 57% dapat menyerap air 2-4 kali lipat bobotnya. Karena kandungan air tersebut maka humus dapat menjadi penyangga bagi ketersediaan air. Tanah yang mengandung banyak bahan organik dapa menyimpan lebih banyak air sehingga kelembaban tanah akan terjaga&lt;br /&gt;• Menstabilkan temperatur bahan organik dapat menyerap panas yang tinggi namun dapat menjadi isolator panas juga karena mempunyai daya hantar panas yang rendah.&lt;br /&gt;• Memperbaiki struktur tanah sifat humus dari bahan organik adalah gembur. Bobot yang rendah, kelembaban tanah yang tinggi serta temperatur tanah yang stabil meningkatkan kegiatan jasad mikro tanah, sehingga percampurannya dengan bagian mineral memberikan struktur tanah yang gembur, remah dan mudah dioleh. Struktur tanah yang demikian merupakan kondisi fisik tanah yang baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur liat, pasir, atau gumpal akan memberikan sifat fisik yang lebih baik bila tercampur dengan bahan organic&lt;br /&gt;. Meningkatkan efisiensi pemupukan pemupukan dengan pupuk organik akan memberikan tambahan jumlah hara dalam tanah dengan cepat.&lt;br /&gt;•  Mengurangi erosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Bahan Organik Terhadap Produksi Tanaman&lt;br /&gt;Bahan organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan di dalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman. Akhirnya bahan organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Doeswono, 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan tersebut dapat berupa pupuk organic, yang proses perubahannya dapat terjadi secara alami atau buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang sangat baik. dan merupakan sumber dari unsur hara tumbuhan. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi dari sebagian besar organisme tanah,&lt;br /&gt;Bahan organik dapat diperoleh dari residu tanaman sepert akar, batang, daun yang gugur, yang dikembalikan ke tanah. 5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Fungsi bahan organik adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah.&lt;br /&gt;• Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lain-lain.&lt;br /&gt;• Menambah kemampuan tanah untuk menahan air.&lt;br /&gt;• Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara (Kapasitas tukar kation tanah menjadi tinggi)&lt;br /&gt;• Sumber energi bagi mikroorganisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik tidak mutlak dibutuhkan di dalam nutrisi tanaman, tetapi untuk nutrisi tanaman yang efisien, peranannya tidak bole ditawar lagi. Sumbangan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman merupakan pengruhnya terhadap sifat-sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah. Mereka memiliki peranan kimia di dalam menyediakan N, P dan S untuk tanaman peranan biologis di dalam mempengaruhi aktifitas organisme mikroflora dan mikrofauna, serta peranan fisik di dalam memperbaiki struktur tanah dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan. Hewan-hewan tanah tergantung pada bahan organik untuk makanan dan mendukung kondisi fisik yang diinginkan dengan mencampur tanah membentuk alur-alur. Sejak perang dunia ke dua, terdapat suatu peningkatan yang besar hasil tanaman pada beberapa negara. Hasil tanaman yang lebih besar terutama dimana hanya biji-bijian saja yang dipanen, sisa - sisa tanamna lebih banyak dikembalikan ke lahan dan disini lebih banyak penutupan oleh tanaman selama musim pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immobilisasi adalah konversi yang sebaliknya. Sebagai contoh adalah pengambilan amonium atau nitrat oleh tanaman atau mikroorganisme dan ditranformasikan ke dalam protein. Selanjutnya, demikian proses bolak - balik tersebut berlangsung.&lt;br /&gt;Apabila sisa-sisa tanaman segar ditambahkan ke dalam tanah, nitrogen di dalam tanaman itu dapat terdekomposisi dan termineralisasi oleh mikrrorganisme dan segera tersedia bagi tanaman, atau nitrogen itu mungkin tidak termineralisasi dan tidak tersedia bagi tanaman. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Seandainya semua faktor yang memepengaruhi dekomposisi optimum (seperti oksien, suhu dan kelembapan),faktor pembatas di dalam proses itu tinggal nisbah karbon organik terhadap nitrogen total di dalam tanaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembenaman bahan organik segar dengan nisbah C/N tinggi, seperti batang jagung (40) dan jerami (80), yang kemudian segera diikuti dengan penanaman memerlukan nitrogen tambahan. Alternatif lain, waktu tanam ditunda dulu agar dekomposisi berkesempatan berlangsung lebih lanjut dahulu beberapa hari. Bahan organik segar dengan nisbah C/N kecil, seperti alfalfa dan kotoran manusia, bisa lebih baik dan tanahnya dapat langsung ditanami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisbah C/N kebanyakan tanah mendekati 10. Nisbah C/N humus sendiri adalah 10. Tanah - tanah, terutama untuk pembibitan, yang nisbah C/N-nya tinggi selalu memerlukan pupuk nitrogen yang cepat tersedia agar defisiensi nitrogen tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Lesman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-5224639945893619661?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/5224639945893619661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=5224639945893619661&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5224639945893619661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5224639945893619661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/12/macam-macam-bahan-organik.html' title='&lt;center&gt;MACAM-MACAM BAHAN ORGANIK&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-7940361792170834210</id><published>2009-11-16T20:07:00.002+07:00</published><updated>2009-11-16T20:14:32.206+07:00</updated><title type='text'>RAGAM MEDIA TANAM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SwFPTNgKMtI/AAAAAAAAAPk/xraHNPzLeKY/s1600/media+tanam+by+banx+twopey.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SwFPTNgKMtI/AAAAAAAAAPk/xraHNPzLeKY/s200/media+tanam+by+banx+twopey.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404688219281961682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak selalu sama. Di Asia Tenggara, misalnya, sejak tahun 1940 menggunakan media tanam berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa, kulit kelapa, atau batang pakis. Bahan-bahan tersebut juga tidak hanya digunakan secara tunggal, tetapi bisa dikombinasikan antara bahan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;Misalnya, pakis dan arang dicampur dengan perbandingan tertentu hingga menjadi media tanam baru. Pakis juga bisa dicampur dengan pecahan batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam, seorang hobiis harus memiliki pemahaman mengenai karakteristik media tanam yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya. 8erdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Bahan Organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8eberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam di antaranya arang, cacahan pakis, kompos, mosS, sabut kelapa, pupuk kandang, dan humus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat coeok digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembapan tinggi. Hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam )umlah banyak. Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Dengan demikian, jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bahan media ini juga tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur atau eendawan yang dapat merugikan tanaman. Namun, media arang eenderung miskin akan unsur hara. Oleh karenanya, ke dalam media tanam ini perlu disuplai unsur hara berupa aplikasi pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang dipeeah menjadi potongan-potongan keeil terlebih dahulu sehingga memudahkan dalam penempatan di dalam pot. Ukuran peeahan arang ini sangat bergantung pada wadah yang digunakan untuk menanam serta jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk mengisi wadah yang memiliki diameter 15 em atau lebih, umumnya digunakan peeahan arang yang berukuran panjang 3 em, lebar 2-3 em, dengan ketebalan 2-3 em. Untuk wadah (pot) yang lebih keeil, ukuran peeahan arang juga harus lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Batang Pakis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan warnanya, batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang pakis hitam dan batang pakis coklat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam lebih umum digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu, batang pakis ini pun mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dalam bentuk cacahan, batang pakis juga banyak dijual sebagai media tanam siap pakai dalam bentuk lempengan persegi empat. Umumnya, bentuk lempengan pakis digunakan sebagai media tanam anggrek. Kelemahan dari lempengan batang pakis ini adalah sering dihuni oleh semut atau binatang-binatang kecillainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik yang menjadi keunggulan media batang pakis lebih dikarenakan sifat-sifatnya yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kompos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut dikenal 2 peranan kompos yakni soil conditioner dan soil ameliorator. Soil ( ondotioner yaitu peranan kompos dalam memperbaiki struktur tanah, terutama tanah kering, sedangkan soil ameliorator berfungsi dalam Il1emperbaiki kemampuan tukar kation pada tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu Ydng telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan I IL,rubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Moss&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moss yang dijadikan sebagai media tanam berasal dari akar paku-pakuan, atau kadaka yang banyak dijumpai di hutan-hutan. Moss sering digunakan sebagai media tanam untuk masa penyemaian sampai dengan masa pembungaan. Media ini mempunyai banyak rongga sehingga memungkinkan akar tanaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sifatnya, media moss mampu mengikat air dengan baik serta memiliki sistem drainase dan aerasi yang lancar. Untuk hasil tanaman yang optimal, sebaiknya moss dikombinasikan dengan media tanam organik lainnya, seperti kulit kayu, tanah gambut, atau daun-daunan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. Pupuk kandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan sebelum diaplikasikan sebagai media tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sabut kelapa (coco peat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabut kelapa atau coco peat merupakan bahan organik alternatif yang dapat digunakan sebagai media tanam. Sabut kelapa untuk media tanam ,I 'iJdiknya berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sebaiknya dilakukan di daerah yang bercurah hujan rendah. Air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan media tanam ini mudah lapuk. Selain itu, tanaman pun menjadi cepat membusuk sehingga bisa menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi pembusukan, sabut kelapa perlu direndam terlebih dahulu di dalam larutan fungisida. Jika dibandingkan dengan media lain, pemberian fungisida pada media sabut kelapa harus lebih sering dilakukan karena&lt;br /&gt;sifatya yang cepat lapuk sehingga mudah ditumbuhi jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai untuk daerah panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sekam padi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekam padi adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Humus&lt;br /&gt;Humus adalah segala macam hasil pelapukan bahan organik oleh Jasad mikro dan merupakan sumber energi jasad mikro tersebut. Bahanbahan organik tersebut bisa berupa jaringan asli tubuh tumbuhan atau binatang mati yang belum lapuk. Biasanya, humus berwarna gelap dan ciijumpai terutama pada lapisan atas tanah (top soil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah. dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bias menyimpan unsur hara. Oleh karenanya, dapat menunjang kesuburan tanah, Namun, media tanam ini mudah ditumbuhi jamur, terlebih ketika tl'rjadi perubahan suhu, kelembapan, dan aerasi yang ekstrim. Humus Juga memiliki tingkat porousitas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air, Dengan demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media lain yang memiliki porousitas tinggi, misalnya tanah dan pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Bahan Anorganik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan o/eh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi.&lt;br /&gt;Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju. Selain itu, bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermikulit, dan perlit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gel atau hidrogel adalah kristal-kristal polimer yang sering digunakan sebagai media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media jenis ini sangat praktis dan efisien karena tidak perlu repot-repot untuk mengganti dengan yang baru, menyiram, atau memupuk. Selain itu, media tanam ini juga memiliki keanekaragaman warna sehingga pemilihannya dapat disesuaikan dengan selera dan warna tanaman. Oleh karenanya, hal tersebut akan menciptakan keindahan dan keasrian tanaman hias yang diletakkan di ruang tamu atau ruang kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua jenis tanaman hias indoor bisa ditanam dalam media ini, misalnya philodendron dan anthurium. Namun, gel tidak eaeak untuk tanaman hias berakar keras, seperti adenium atau tanaman hias bonsai. Hal itu bukan dikarenakan ketidakmampuan gel dalam memasok kebutuhan air, tetapi lebih dikarenakan pertumbuhan akar tanaman yang mengeras sehingga bisa membuat vas pecah. Sebagian besar nursery lebih memilih gel sebagai pengganti tanah untuk pengangkutan tanaman dalam jarak jauh. Tujuannya agar kelembapan tanaman tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan lain dari gel yaitu tetap cantik meskipun bersanding dengan media lain. Di Jepang gel digunakan sebagai komponen terarium bersama dengan pasir. Gel yang berwarna-warni dapat memberi kesan hidup pada taman miniatur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses :o::misahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau ~'lgin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan ::emupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pasir seoagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah yang bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk :gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci :erlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat ,enyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kerikil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, penggunaaan kerikil sebagai media tanam memang :idakjauh berbeda dengan pasir. Hanya saja, kerikil memiliki pori-pori makro lebih banyak daripada pasir. Kerikil sering digunakan sebagai media untuk budi daya tanaman secara hidroponik. Penggunaan media ini akan membantu peredaran larutan unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak menekan pertumbuhan akar. Namun, kerikil memiliki kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga mudah basah dan cepat kering jika penyiraman tidak dilakukan secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring kemajuan teknologi, saat ini banyak dijumpai kerikil sintesis. Sifat kerikil sintesis cenderung menyerupai batu apung, yakni memiliki rongga-rongga udara sehingga memiliki bobot yang ringan. Kelebihan kerikil sintesis dibandingkan dengan kerikil biasa adalah kemampuannya yang cukup baik dalam menyerap air. Selain itu, sistem drainase yang dihasilkan juga baik sehingga tetap dapat mempertahankan kelembapan dan sirkulasi udara dalam media tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pecahan batu bata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecahan batu bata juga dapat dijadikan alternatif sebagai media tanam. Seperti halnya bahan anorganik lainnya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan akar. Sebaiknya, ukuran batu-bata yang akan digunakan sebagai media tanam dibuat keeil, seperti kerikil, dengan ukuran sekitar 2-3 em. Semakin keeil ukurannya, kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara akan semakin balk. Selain itu, ukuran yang semakin keeil juga akan membuat sirkulasi udara dan kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media tanam ini adalah kondisinya yang miskin hara. Selain itu, kebersihan dan kesterilan pecahan batu bata yang belum tentu terjamin. Oleh karena itu, penggunaan media ini perlu ditambahkan dengan pupuk kandang yang komposisi haranya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun miskin unsur hara, media pecahan batu bata tidak mudah melapuk. Dengan demikian, pecahan batu bata cocok digunakan sebagai media tanam di dasar pot karena memiliki kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Tanaman yang sering menggunakan pecahan batu bata sebagai media dasar pot adalah anggrek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Spons (floralfoam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hobiis yang berkecimpung dalam budi daya tanaman hias sudah sering memanfaatkan spans sebagai media tanam anorganik. Dilihat dari sifatnya, spans sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan ditempatkan di mana saja. Walaupun ringan, media jenis ini tidak membutuhkan pemberat karena setelah direndam atau disiram air akan menjadi berat dengan sendirinya sehingga dapat menegakkan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain dari media tanam spans adalah tingginya daya serap terhadap air dan unsur hara esensial yang biasanya diberikan dalam bentuk larutan. Namun, penggunaannya tidak tahan lama karena bahannya mudah hancur. Oleh karena itu, jika spans sudah terlihat tidak layak pakai (mudah hancur ketika dipegang), sebaiknya segera diganti dengan yang baru. Berdasarkan kelebihan dan kekurangannya tersebut, spans sering digunakan sebagai media tanam untuk tanaman hias bunga potong (cutting flower) yang penggunaannya eenderung hanya sementara waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tanah liat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori berukuran keeil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang eukup kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara. Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, eangkok, dan bonsai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Vermikulit dan perlit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan dari pemananasan kepingan-kepingan mika serta mengandung potasium dan H',lum. Berdasarkan sifatnya, vermikulit merupakan media tanam yang memiliki kemampuan kapasitas tukar kation yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat jenis, dan meningkatkan daya serap air jika digunakan sebagai campuran media tanaman. Jika digunakan sebagai campuran media tanam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya absorpsi air sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan vermikulit, perlit merupakan produk mineral berbobot ringan serta memiliki kapasitas tukar kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai campuran media tanam, fungsi perlit sama dengan Vermikulit, yakni menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya serap air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan vermikulit dan perlit sebagai media tanam sebaiknya dikombinasikan dengan bahan organik untuk mengoptimalkan tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Gabus (styrofoam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Styrofoam merupakan bahan anorganik yang terbuat dari kopolimer styren yang dapat dijadikan sebagai alternatif media tanam. Mulanya, styrofoam hanya digunakan sebagai media aklimatisasi (penyesuaian diri) bagi tanaman sebelum ditanam di lahan. Proses aklimatisasi tersebut hanya bersifat sementara. Styrofoam yang digunakan berbentuk kubus jengan ukuran (1 x 1 x 1) cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, beberapa nursery menggunakan styrofoam sebagai campuran media tanam untuk meningkatkan porousitas media tanam. Jntuk keperluan ini, styrofoam yang digunakan dalam bentuk yang sudah dihancurkan sehingga menjadi bola-bola kecil, berukuran sebesar biji kedelai. Penambahan styrofoam ke dalam media tanam membuatnya menjadi ringan. Namun, media tanam sering dijadikan sarang oleh semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.kebonkembang.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-7940361792170834210?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/7940361792170834210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=7940361792170834210&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7940361792170834210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7940361792170834210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/11/ragam-media-tanam.html' title='&lt;center&gt;RAGAM MEDIA TANAM&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SwFPTNgKMtI/AAAAAAAAAPk/xraHNPzLeKY/s72-c/media+tanam+by+banx+twopey.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-9168988834060075977</id><published>2009-03-24T20:12:00.000+07:00</published><updated>2009-03-24T20:18:44.485+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Sansevieria</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScjdjuSalHI/AAAAAAAAAOc/-3GU0mMhk0Y/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScjdjuSalHI/AAAAAAAAAOc/-3GU0mMhk0Y/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316742965901300850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagai tanaman hias sansevieria sangat mudah dirawat, tidak membutuhkan banyak lahan, dan dapat berfungsi sebagai penyerap polutan. Ketiganya adalah sifat utama sansevieria yang memenuhi kriteria terhadap tuntutan masyarakat yang semakin sibuk, tak punya lahan yang luas, serta sarat dengan polusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kenapa tanaman ini mempunyai banyak ragam adalah karena perbanyakan yang dilakukan pada tanaman ini tidak selalu menghasilkan jenis yang sama dengan induknya. Kecantikan sansevieria ditunjukkan dari ragam jenis, bentuk, ukuran, dan warna daun. Ragam jenis yang ada di alam tidak hanya diperoleh dari persilangan tanaman tetapi juga karena mutasi. Tanaman ini mudah mengalami mutasi, bahkan saat dilakukan pengembangbiakan melalui stek daun, yang seharusnya anakan akan seperti induknya namun pada sansevieria akan sering terjadi mutasi sehingga anaknya berbeda dengan induknya. Selain itu keistimewaanya adalah ada berbagai ukuran daun baik yang besar, kecil, bentuk memanjang atau pendek, melebar atau membulat juga corak warna yang juga beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik lainnya adalah mampu tumbuh di naungan yang sangat minim cahaya dan pada tempat yang mendapat cahaya penuh. Tetap tumbuh pada kondisi kering sehingga jika beberapa hari tidak disiram pun tanaman ini masih mampu tumbuh. Pembudadayaanya pun sangat sederhana dan mudah.&lt;br /&gt;7 (tujuh) syarat yang harus dimiliki tanaman agar menjadi tren dan diterima masyarakat yaitu cantik, variasi bentuk beragam, variasi warna tinggi, perawatan mudah, tingkat perbanyakan sedang, pertumbuhan lambat, serta bersifat anti polutan dan anti radiasi sejalan dengan penelitian NASA yang menyebutkan sansevieria mampu menyerap 107 polutan udara. Jadi semua sayarat untuk jadi tren terpenuhi oleh sansevieria. Tanaman ini mempunyai jalur metabolisme CAM (Crasulaceaen Acid Metabolism), dimana di malam hari penyerapan oksigen sedikit sehingga tidak mengganggu proses pernafasan manusia.&lt;br /&gt;Bertambahnya variasi penampilan dan karakter sansevieria juga banyak dipengaruhi karena adanya mutasi dari spesies yang sama sehingga menampilkan bentuk, ukuran, dan warna daun yang berbeda. Mutasi dapat terjadi akibat perbanyakan melalui stek daun dan karena adanya pengaruh dari factor lingkungan seperti tingkat kesuburan tanah, suhu, dan pengaruh cahaya. Sinar matahari memiliki spectrum yang beragam berdasarkan panjang gelombang elektromagnetik, salah satunya adalah sinar X dan gamma yang bergelombang pendek. Keduanya merupakan radiasi pengion yang dapat melepas energi (ionisasi) ketika melewati atau menembus materi. Proses ionisasi itu terjadi dalam jaringan tanaman sehingga menyebabkan perubahan sel, genom, kromosom, dan DNA atau gen. Perubahan ini disebut mutasi, hanya saja intensitas sinar X dan gamma dalam sinar matahari sangat rendah sehingga mutasi di alam sangat lamban. Mutasi juga dapat terjadi dengan menginduksi mutagen yang berasal dari bahan-bahan kimia yang ditransfer ke molekul lain yang memiliki kepadatan electron yang cukup tinggi sehingga struktur DNA pada tanaman berubah. Meski demikian adakalanya tanaman mutasi kembali normal apabila dikembangbiakan secara generatif. Walaupun mengalami mutasi, tanaman mutan tetap menyimpan gen normal. Pada generasi tertentu gen normal itu berpeluang muncul kembali. Mutasi akan bertahan bila bagian tanaman yang mengalami mutasi diisolasi dan diperbanyak dengan kultur jaringan.&lt;br /&gt;Kesamaan sosok sansevieria pada jenis-jenis tertentu mudah mengecoh. Perbedaan fisik meskipun hanya sedikit kadang jadi alasan untuk menaikkan harga dengan memberi nama baru. Penamaan yang tidak mengacu pada sumber yang benar akan membuat tanaman ini mempunyai dua nama. Kerancuan ini dapat terjadi karena tanaman kurang cocok dengan lingkungan yang baru sehingga penampilannya berubah. Sansevieria mudah berubah bentuk, penampilan baru ini kerap stabil sehingga nama barunya menjadi paten.Sansevieria trifasciata yang merupakan spesies, paling banyak menghasilkan varian-varian baru karena adanya penyimpangan, menghasilkan kurang lebih 60 varian. Sementara yang termasuk kedalam sansevieria species ada lebih dari 140 jenis.&lt;br /&gt;SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;Sansevieria memerlukan media dan udara yang tidak lembab, suhu optimal siang hari 24-29˚C dan malam hari 18-21˚C, serta tumbuh ideal dengan pencahayaan penuh meski tetap tumbuh jika cahaya kurang.&lt;br /&gt;MEDIA&lt;br /&gt;Pemilihan media dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal yaitu ketinggian tempat, ketersediaan bahan, dan iklim. Syarat utama media untuk sansevieria adalah porous. Adapun alternative pilihan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pasir malang : tanah : pupuk organic : bahan organik (arang sekam, cocopeat atau cacahan pakis) 2 :1 : 1 : 1&lt;br /&gt;2. Pasir malang : sekam bakar 2 : 1&lt;br /&gt;3. Sekam bakar : pasir malang : pupuk kandang 1 : 1 : 1 atau 1 : 2 : 1&lt;br /&gt;4. Sekam bakar : pasir malang : pakis 2 : 1 : 1&lt;br /&gt;PEMUPUKAN&lt;br /&gt;Pemupukan yang paling tepat adalah menggunakan pupuk majemuk yang bersifat slow release. Pupuk ini berbentuk butiran dengan cara pemberian ditebar di permukaan media. Karena sansevieria merupakan tanamana hias daun maka kandungan N yang tinggi sangat diperlukan. Pemberian pupuk adalah 2-3 bulan sekali. Dapat ditambahkan pula pupuk daun atau pupuk cair lengkap yang merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsure makro dan mikro yang diaplikasikan melalui daun 2-4 minggu sekali.&lt;br /&gt;PENYIRAMAN&lt;br /&gt;Frekuensi penyiraman disesuaikan dengan kelembaban media. Pada musim kemarau cukup 2-3 hari sekali.&lt;br /&gt;HAMA PENYAKIT&lt;br /&gt;Hama yang sering menyerang adalah ulat, siput telanjang, dan trips. Penyakit yang sering menyerang antara lain jamur Aspergillus niger yang menyebabkan busuk rimpang, bakteri Erwinia carotovora yang menyebabkan busuk basah, jamur Fusarium moniliforme yang menyebabkan busuk daun, jamur Sclerotium rolfsii yang menyebabkan bercak kering, dan nematoda Meloidogyne spp yang menyerang perakaran sansevieria. Pengendalian yang dilakukan dapat secara preventif, kuratif ataupun kimiawi tergantung seberapa berat serangan yang terjadi.&lt;br /&gt;PERAWATAN SANSEVIERIA VARIEGATA&lt;br /&gt;Sansevieria variegata lebih lemah dibanding yng normal karena jumlah kloroplas tanaman variegata lebih sedikit, sehingga penyerapan cahaya matahari tidak optimal. Bila persentase variegata cenderung mendominasi maka kebutuhan cahaya ikut berkurang, bila berlebih maka bagian variegata akan terbakar, maka mutlak diperlukan jaring peneduh misal shading net 50-60%. Tanaman sebaiknya ditanam pada media 100% pasir dan diberikan pupuk seimbang yang bersifat slow release yang dicampur kedalam media.&lt;br /&gt;PEMASUNGAN SANSEVIERIA&lt;br /&gt;Untuk sansevieria yang berdaun tebal dan panjang, arah pertumbuhannya sering tidak beraturan, maka diperlukan modifikasi yaitu pasungan dengan teknik jepit untuk mengarahkan pertumbuhan daun dan jarak antar daun akan menjadi sama. Teknik jepit ini menggabungkan bambu yang keras dengan styrofoam yang lembut agar daun sansevieria tidak terluka. Styrofoam berada di bagian dalam yang bersentuhan langsung dengan daun sedang bambu di bagian luar sebagai penyangga. Bisa juga digunakan bahan lain.&lt;br /&gt;PERBANYAKAN&lt;br /&gt;Sansevieria dapat diperbanyak secara generatif dengan perkawinan bunga untuk mendapatkan hybrid baru tetapi memerlukan waktu yang lama dalam pembungaan dan pemasakan biji. Selain itu, perbanyakan dapat pula dilakukan secara vegetatif, cara ini yang sering banyak dilakukan. Diantaranya adalah dengan pisah anakan, stek daun, potong pucuk, cacah daun, cabut pucuk, stek rimpang, dan kultur jaringan.&lt;br /&gt;1. Pisah anakan merupakan cara konvensional. Anakan dipisah setelah 2-4 bulan. Pada bagian yang terpotong diolesi fungisida dan zat perangsang akar, setelah ditanam disimpan di tempat teduh.&lt;br /&gt;2. Stek daun dapat dilakukan pada daun yang tua. Stek daun mampu menghasilkan anakan yang berbeda dengan induknya. Pada jenis sansevieria yang memiliki kombinasi warna kuning dan hijau, perbanyakan stek daun umumnya menghasilkan anakan berdaun hijau. Daun dipotong 5-10 cm yang dicelupkan kedalam zat perangsang akar, ditanam 1-1,5 cm disiram dan ditempatkan di tempat teduh. Tunas anakan muncul setelah berumur 3-4 bulan.&lt;br /&gt;3. Potong pucuk untuk sansevieria berdaun pendek dengan daun minimal 12 daun, dengan memotong pucuk minimal 3-4 daun dan dijaga agar daun satu dengan lainnya tetap melekat, dioles fungisida dan zat perangsang akar kemudian ditanam, disimpan ditempat yang teduh. Selang 1 bulan akan keluar 2-3 anakan.&lt;br /&gt;4. Cacah daun dilakukan dengan cara memotong-motong daun sansevieria dalam ukuran kecil yaitu 5 cm dan jumlah yang banyak. Bagian daun mulai dari ujung sampai ke pangkal digunakan untuk perbanyakan. Setelah 4-5 bulan atau memiliki 3 daun maka anakan siap dipisah.&lt;br /&gt;5. Teknik cabut pucuk cocok untuk sansevieria berdaun renggang. Caranya dengan mencabut daun termuda dengan menggunakan tangan, 1 bulan akan keluar 1-3 anakan.&lt;br /&gt;6. Stek rimpang dilakukan dengan memotong-motong rimpang yang tua, setiap potongan harus memiliki satu mata tunas, diolesi fungisida dan zat perangsang akar kemudian ditanam.&lt;br /&gt;7. Metode kultur jaringan digunakan untuk melestarikan jenis sansevieria yang langka dan memiliki tingkat pertumbuhan yang lambat. Eksplan yang biasa digunakan adalah tunas pucuk, tunas lateral pada bonggol atau pucuk rimpang.&lt;br /&gt;REPOTTING&lt;br /&gt;Repotting dilakukan dengan hati-hati agar tanaman tidak stress, goncangan dihindari seminimal mungkin, apabila ada bagian tanaman yang patah diolesi fungisida, akar yang membusuk dipotong, apabila tanaman yang dipindah telah mempunyai anakan maka anakan harus telah mempunyai 5-6 helai daun untuk mengurangi resiko kematian kemudian disiram, penyiraman selanjutnya dilakukan 3 hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-9168988834060075977?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/9168988834060075977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=9168988834060075977&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/9168988834060075977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/9168988834060075977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/03/budidaya-sansevieria_24.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Sansevieria&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScjdjuSalHI/AAAAAAAAAOc/-3GU0mMhk0Y/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-1829682276066873515</id><published>2009-03-21T21:26:00.000+07:00</published><updated>2009-03-21T21:35:51.846+07:00</updated><title type='text'>KAKTUS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScT6eMen2JI/AAAAAAAAAOM/iy3vNi-aBmo/s1600-h/kaktus.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScT6eMen2JI/AAAAAAAAAOM/iy3vNi-aBmo/s200/kaktus.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315648856856713362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kaktus berasal dari kata Yunani kaktos. Artinya, tanaman berduri. Adalah Linneaus, ahli botani yang membuat klasifikasi tanaman, yang memasukkan kaktus ke dalam kelompok tumbuhan berduri atau Cactaceae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila merujuk pada sejarah, kaktus telah tumbuh sekitar 100 juta tahun lalu. Dulu kaktus punya bentuk tubuh yang tinggi. Lalu sekitar 60 juta tahun kemudian, kaktus dinyatakan punah. Ini terjadi akibat letusan gunung berapi yang ikut menenggelamkan Benua Amerika, yang notabene tempatnya bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kegiatan vulkanik gunung berapi itu berhenti, kaktus kembali tumbuh. Namun kaktus generasi ”anyar” ini tumbuh dengan bentuk yang lebih pendek dari moyangnya tadi. Kaktus bentuk pendek itulah yang sering kita jumpai pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, kaktus datang dari dataran tandus seperti Amerika Selatan dan Meksiko. Daerah-daerah itu punya curah hujan rendah dengan frekuensi yang tak tentu. Perubahan suhu yang ada pun sangat ekstrem. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kaktus itu berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, Kanada Utara sampai ke Kepulauan Galapagos, di Pasifik dan Kepulauan tropis di India Timur dan Karibia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wilayah hidup kaktus amat beragam. Dari daerah pantai yang mengarah ke laut, hutan belantara sampai ke gunung berbalut es macam Pegunungan Andes. Jadi, bukan hal aneh bila bertemu kaktus pada ketinggian 3000 – 4000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kenyataan tadi, bisa dibilang kaktus termasuk tanaman yang mampu bertahan di segala medan. Kaktus mudah melakukan penyesuaian dan bentuk-bentuk adaptasi pada tubuhnya. ”Contoh adaptasi ini bisa dilihat dengan jelas. Bila kondisi alamnya tidak sesuai, ukuran daun kaktus akan mengecil atau malah sama sekali tidak keluar daun. Perakarannya menyempit dan batang dijadikan tempat penyimpanan air,” tutur Joesi yang sejak sekolah dasar sudah tertarik pada kaktus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di daerah yang bersuhu panas dan tanah gersang, kaktus beradaptasi dengan cara membentuk kulit tubuh yang tebal dan berlapis lilin. Tak ketinggalan, tumbuh bulu-bulu halus atau duri-duri yang tajam. Fungsinya jelas, mengurangi pengeluaran air dari tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penyebaran, burung pemakan buah kaktus dianggap berjasa menebarkan benih ke segala tempat di belahan dunia. Walau begitu, manusia tetap diakui sebagai faktor utama dalam menyebarluaskan tanaman berkeping dua ini. Peran itu bisa dilihat ketika mereka melakukan perpindahan tempat, kaktus tak pernah tertinggal dalam daftar bawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling gampang, proses penyebaran kaktus di negeri sendiri. Di Indonesia, kaktus masuk lewat tangan-tangan pemerintahan jajahan Belanda. Bule-bule asal negeri kincir angin itu yang pertama kali dan membudidayakan bibit kaktus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS KAKTUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 2000 jenis kaktus ada di belahan bumi. Dari 100 an marga, kaktus dikelompokan menjadi 3 suku: Preskioidea, Opuntodeae dan Cereoidea. Jenis Preskioidea biasanya mempunyai daun dan berduri. Bentuknya bisa berupa pohon semak hingga tinggi 10 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik opuntodeae lain lagi, kelompok ini memiliki batang beruas. Bentuknya bulat telur, pipih, memanjang atau berupa semak. Adakalanya berdaun namun mudah gugur.&lt;br /&gt;Opuntodeae juga memiliki areole yang berduri. Jenis terakhir, Cereoidea paling banyak dijumpai. Bentuk batangnya beragam dan sekulen (banyak mengandung air). Sebagian jenis ada yang menyerupai silinder, beruas, bulat, bahkan memanjang. Jenis ini tidak memiliki daun dan areolenya ditumbuhi aneka bentuk duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBIBITAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaktus bisa dikembang-biakkan dengan berbagai cara. Sebagian orang meperbanyak dengan biji. Walaupun sedikit rumit, cara ini masih tetap dilakukan. Pertama biji kaktus harus dikeringkan, direndam dalam air hangat baru disebar dalam media semai yang biasanya berupa pasir halus, batu bata tumbuk dan tanah kompos. Setelah kaktus berumur setahun dan mempunyai panjang 4-5 cm, kaktus sudah bisa dipindahkan ke media tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang paling mudah memperbanyak kaktus dengan setek batang. Jika dilakukan dengan cara yang benar, steak paling rendah risiko kegagalannya. Pilih batang kaktus yang tidak terlalu tua atau muda. Potong dengan pisau tajam sepanjang 6 cm. Biarkan 7 - 10 hari di tempat yang sejuk agar luka mengering. Proses berikutnya tinggal menanam di media tanam. Perlu diperhatikan, untuk jenis kaktus bulat atau beruas, pemotongan sebaiknya dilakukan tepat pada bagian ruasnya. Bekas potongan pada tanaman induk biasanya akan tumbuh tunas baru yang siap menjadi bibit setek baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung kaktus/grafting semakin diminati. Teknik ini mempunyai kelebihan, selain diperoleh bibit tanaman baru, grifting juga menciptakan dua jenis tanaman dari due kaktus yang berbeda sehingga mempercantik penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, siapkan batang induk/batang bawah, jenis cereus spachianus atau opuntia ficus indica bisa digunakan karena kuat perakarannya. Proses sambung kaktus harus cepat dilakukan sebelum bekas potongan mengering agar menempel sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara sambung kaktus, namun metode sambung rata dan sambung serong paling banyak dilakukan. Prosesnya hampir sama, potong rata atau serong batang induk dan batang atas dari jenis yang berbeda. Cara cepat tempelkan dan perkuat dengan tali atau benang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambung kaktus terlihat berhasil jika terjadi pertumbuhan pada batang atas dan tali pengikat bisa dilepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman dari keluarga Cactaceae ini memang unik. Biasa tumbuh subur di lahan tandus dan kekurangan air. Usianya juga bisa mencapai puluhan tahun, namun bisa mati dalam sekejap jika salah perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, menanam dan merawat kaktus perlu ketelatenan karena tanaman ini sangat rentan terhadap penyakit. Umumnya kaktus menyukai media yang porus (tidak mengikat air). Gunakan pasir halus, pupuk kandang, tepung tulang dan sekam dengan perbandingan 20:40:10:30. Setelah diaduk rata, media ini dikukus atau di sangrai agar mikroorganisme pembusuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang kaktus dilapisi jaringan lilin yang dapat mengurangi penguapan, kondisi ini menjadikan kaktus mampu menyimpan air dan tahan kekeringan.&lt;br /&gt;Meski begitu, kaktus tetap perlu air untuk bertahan hidup. Penyiraman sebaiknya dilakukan 3 minggu sekali atau 1 bulan sekali, raba media tanam, jika sudah kering berarti kaktus harus disiram. Perlu diingat, air harus ber-pH normal, tidak mengandung garam atau asam yang dapat menyebabkan kebusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaktus sangat suka bermandi cahaya matahari langsung, jika Anda menaruh kaktus di dalam rumah, keluarkan setiap 1 minggu sekali dan letakkan di tempat yang terkena matahari langsung selama 2-3 minggu. Kaktus juga pantang kena air hujan berlebihan.&lt;br /&gt;Agar kaktus tampil prima perlu dilakukan pemupukan 4 bulan sekali. Beri pupuk tulang atau pupuk ikan dengan P dan Ca tinggi. Jangan memberi pupuk urea yang dapat mengakibatkan kebusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kaktus sudah terlalu besar atau sebaliknya lambat pertumbuhannya lakukan pemangkasan akar atau ganti medianya.&lt;br /&gt;Hama kaktus umumnya cendawan jenis phytophthora infestans, kutu wol (dactylopius tomentosus), kutu lilin (Pseudococcus Longispinus), tungau dan keong tanah. Lakukan pencegahan dengan penyemprotan fungisida, bakterisida secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Internet&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-1829682276066873515?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/1829682276066873515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=1829682276066873515&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/1829682276066873515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/1829682276066873515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/03/kaktus.html' title='&lt;center&gt;KAKTUS&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/ScT6eMen2JI/AAAAAAAAAOM/iy3vNi-aBmo/s72-c/kaktus.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-7197524550021063185</id><published>2009-02-24T18:56:00.000+07:00</published><updated>2009-02-24T19:05:13.690+07:00</updated><title type='text'>Bawang Putih  (Allium sativum L) </title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SaPh06-MVII/AAAAAAAAAN8/leIhFDFy24I/s1600-h/baawng.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SaPh06-MVII/AAAAAAAAAN8/leIhFDFy24I/s200/baawng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306333085272134786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Bawang putih (Allium sativum L) selain merupakan jenis sayuran yang penting, juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang putih ini dianggap sebagai komoditas potensial terutama untuk subsitusi impor dan dalam hubungannya dengan penghematan devisa. Perkembangan terakhir , impor bawang putih indonesia berjumlah 295 ribu ton dengan nilai tidak kurang dari US$ 103 juta atau sebesar Rp 927 milyar, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih sampai saat ini adalah varietas bawang putih yang berkembang di indonesia umumnya memiliki potensi hasil yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasil bawang putih di daerah subtropis. Bagitu pula tingkat pengusahaanya juga terbatas di daerah dataran tinggi (&gt; 800 m dpl). Dengan demikian dengan adanya jenis-jenis bawang putih yang cocok diusahakan di dataran rendah merupakan peluang baru dalam pembangunan pertanian khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri bagi pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data Susenas, konsumsi per kapita bawang putih penduduk indonesia mencapai 1,13 kg/tahun sehingga kebutuhan bawang putih nasional per tahun mencapai sekitar 250 ribu ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PERSYARATAN EKOLOGIS&lt;br /&gt;- Tanaman bawang putih dataran rendah tumbuh pada hampir semua jenis tanah, namun yang terbaik pada tanah bertekstur sedang (lempung sampai lempung berpasir).&lt;br /&gt;- pH tanah yang cocok adalah 5,6 - 6,8 dan drainasenya baik.&lt;br /&gt;- Walaupun umumnya bawang putih ini tahan suhu panas, namun hanya dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki suhu yang dingin (&lt;25` c pada bulan-bulan tertentu). - Suhu dingin tersebut diperlukan terutama pada saat pembentukan dan pembesaran umbi tanaman. Di Indonesia, waktu tanam terbaik untuk bawang putih dataran rendah yaitu bulan Mei, Juni atau Juli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. TEKNOLOGI BUDIDAYA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lahan dibuat bedengan dengan lebar bedengan 1,2 - 1,75 m, dengan jarak perit antar bedengan 40 - 50 cm; sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lahan yang tersedia. &lt;br /&gt;- Kemudian diidtirahatkan sekitar 2 minggu, selanjutnya diolah 2 - 3 kali sehingga permukaan tanahnya cukup halus. - Sebelum penanaman, perlu dicek pH tanahnya, jika &lt; 5,6 perlu dilakukan pengapurandengan dosis 1,5 - 3, ton per ha. &lt;br /&gt;- 2 - 3 hari sebelum tanam dilakukan pemberian pupuk dasar yaitu menggunakan pupuk kandang (10 - 15 ton/ha) atau pupuk kompos (2 ton /ha) dan SP-36 sebanyak 200 - 300kg /ha. &lt;br /&gt;- Umbi bibit yang telah siseleksi (dalam bentuk siung-siung) ditanam dibedengan dengan kedalaman 1/4 - 1/2 tinggi siung bibit, kemudian ditutp dengan mulsa jerami padi setebal 3 - 5 cm. - Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam dengan menggunakan campuran pupuk 200 kg ZA + 100kg ,Urea + 100 kg KCL per ha untuk setiap kali pemberian pupuk susulan. Caranya, pupuk disebar antara barisan tanaman kemudian diikuti dengan penyiraman.&lt;br /&gt;- Penyulaman dilakukan seminggu setelah peneneman benih dengan menggunakan bibit cadangan yang telah ditanam di tempat bibit untuk cadangan. &lt;br /&gt;- Tanaman bawang putih membutuhkan air dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan vegetatif dan pembentukan umbi. Frekuensi pemberian air disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman bawang putih. Pada awal pertumbuhan, penyiraman sebaiknya dilakukan 2 - 3 hari sekali pada pagi atau sore hari. Pada fase pengisian umbi, yakni sekitar 60 hst, tanaman bawang putih paling peka terhadap defisit air, sehingga perlu pengairan yang cukup. Penyiangan perlu dilakukan terutama ketika pengaruh mulsa kurang efektif. Hama penting pada tanaman bawang putih adalah Thrips dan ulat daun dapat dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif fosfor organik, merkaptodimetur atau monokrofos dengan dosis 2 ml/liter air. Sedangkan untuk tungau dikendalikan dengan akarisida berbahan fenpropatin atau dimeot; penyakit fusarium dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif bernomil. &lt;br /&gt;- Bawang putih didaratan rendah biasanya telah siap dipanen pada umur 80 – 100 haritergantung keadaan kesuburan tanaman dilapangan. Ciri tanaman bawang putih siap dipanen, daun tanaman 50 % telah menguning atau kering dan tangkai batangnya sudah keras. Cara panen dapat dilakukan dengan pencabutan langsung terutama pada tanah yang ringan dan pencukilan dilakukan pada tanah-tanah bertekstur agak berat. - Hasil tanaman diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan dijemur selama 1 – 2 minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. DESKRIPSI BAWANG PUTIH VARIETAS LUMBU PUTIH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tanaman : D.I.Yogyakarta Umur panen : 100 - 110 hst Tinggi tanaman : 52 - 65 cm Diameter : 1, 25 - 1,5 cm batang semu Kemampuan : tidak berbunga berbunga Bentuk daun : silindris, pipih dan lebar, posisi tegak Warna daun : agak keabu - abuan Banyak daun : 8 - 9 helai pertanaman Habitus tanaman : rozet Bentuk umbi : bulat, mengarah ke setiga yang dasarnya datar Besar umbi : 3,5 cm - 6,0 cm dan panjang 2,6 cm - 4,0 cm Warna umbi : putih dengan garis - garis ungu tidak merata pada ujungnya Jumlah siung / umbi : 15 - 20 siung Bentuk siung : panjang 2,3 cm - 3,1 cm dan lebar 1,3 cm - 1,7 cm Warna siung : putih agak krem Bau dan aroma : kurang kuat Kemampuan : 4 - 8 ton / hektar berproduksi Susut bobot umbi : 35% - 40% Keterangan : tumbuhan baik di daerah dataran rendah pada ketinggian 6 - 200m dpl  &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-7197524550021063185?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/7197524550021063185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=7197524550021063185&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7197524550021063185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7197524550021063185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/02/bawang-putih-allium-sativum-l.html' title='&lt;center&gt;Bawang Putih  (Allium sativum L) &lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SaPh06-MVII/AAAAAAAAAN8/leIhFDFy24I/s72-c/baawng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-6861022878566839981</id><published>2009-02-15T16:43:00.000+07:00</published><updated>2009-02-19T16:55:41.896+07:00</updated><title type='text'>Penyakit Penting Pada Tanaman Jeruk</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SZ0sdNlYYDI/AAAAAAAAANs/VnEbKjI_CEo/s1600-h/monyet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 187px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SZ0sdNlYYDI/AAAAAAAAANs/VnEbKjI_CEo/s200/monyet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304444816486588466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1. Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Bakteri Liberobacter asiaticum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Internasional :&lt;br /&gt;Huang Lung Bin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah penyebaran :&lt;br /&gt;Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala  Penyakit :&lt;br /&gt;• Gejala luar&lt;br /&gt;O Gejala khas CVPD adalah belang - belang kuning (blotching), mulai berkembang pada bagian ujung tanaman (pertumbuhan baru) pada daun yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Gejala ini sulit dibedakan dengan gejala kekurangan hara Zn. Tulang - tulang daun dan urat-urat daun tampak lebih menonjol dengan warna hijau gelap (kontras dengan warna lamina daun). Pengamatan gejala sebaiknya dilakukan pada permukaan atas dan bawah daun. Gejala belang - belang pada bagian atas sama dengan bagian bawah. Pada gejala lanjut daun menjadi lebih kaku dan lebih kecil, tulang daun menjadi berwarna kuning. Gejala ini sangat jelas pada jeruk manis, tetapi kurang jelas pada daun jeruk Mandarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O Infeksi pada tanaman muda ditandai dengan kuncup yang berkembang lambat, pertumbuhannya menjulang ke atas, daun menebal, ukuran menjadi lebih kecil dengan gejala khas blotching, mottle, belang - belang kuning tidak teratur.&lt;br /&gt;O Pada tanaman dewasa, gejala sering bervariasi.  &lt;br /&gt;a. Gejala greening sektoral diawali dengan munculnya gejala blotching pada cabang - cabang tertentu, diiringi dengan pertumbuhan tunas air lebih banyak dari tanaman normal di luar musim pertunasan. Daun - daun pada cabang sakit mencuat ke atas seperti sikat.&lt;br /&gt;b. Pada gejala berat, daun bisa menguning seluruhnya (seperti defisiensi unsur N) dan terjadi pengerasan tulang daun primer dan sekunder yang dikenal dengan Vein Crocking, daun juga menjadi lebih kaku dan menebal. Gejala ini merupakan indikator adanya kerusakan lebih berat pada pembuluh angkut / pholem.&lt;br /&gt;c. Pada tanaman yang sudah berproduksi, menyebabkan ukuran buah menjadi lebih kecil - kecil hingga sebesar kelereng “nilek” dan bentuk tidak simetris (Lop sided). Kadang-kadang ditemukan buah “red nose” (warna orange pada pangkal buah, terutama di tempat - tempat yang terlindung dari sinar matahari. Buah jeruk yang terserang bijinya abortus, kehitaman dan rasanya asam.&lt;br /&gt;• Gejala dalam&lt;br /&gt;O Irisan tipis ibu tulang daun yang bergejala khas CVPD, terlihat jaringan floemnya tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem berupa jalur - jalur putih. Bila diberi pewarna KI akan terlihat adanya akumulasi pati yang berlebihan dalam sel - sel tersebut&lt;br /&gt;O Dalam menetapkan bahwa tanaman jeruk terserang CVPD harus hati - hati. Di lapangan, baik petugas maupun petani masih mengalami kerancuan, karena gejala serangan penyakit ini mirip dengan gejala kekurangan unsur makro / mikro (Zn,Fe, Mn, Mg, dan lain - lain).&lt;br /&gt;O Untuk mengetahui lebih lanjut, apakah tanaman jeruk terserang penyakit CVPD dapat diketahui dengan menggunakan : 1) Mikroskop Elektron, 2) Polymerase Chain Reaction - PCR (Spesifik primer), 3) Uji Serologi (metoda I – ELISA dan DIBA), 4) Hibridisasi DNA, 5) Uji penularan dengan penyambungan (okulasi mata tempel) dan serangga vektor, serta 5) Uji dengan tanaman indikator Madame  vinous dan Vinca rosea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Belum ada laporan mengenai bentuk morfologi patogen. Patogen ini dapat ditularkan melalui bibit tanaman sakit dan vektor Diaphorina citri yang viruliverous(mengandung patogen penyebab penyakit yang dapat ditularkan). Penularan melalui  alat - alat pertanian yang digunakan dalam pengolahan tanah maupun pemangkasan masih perlu dibuktikan. Vektor D. citri baru dapat menularkan CVPD ke tanaman sehat 168 – 380 jam setelah menghisap tanaman sakit. Gejala penyakit tampak pada tanaman kurang lebih 4,5 bulan setelah penularan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Tingkat populasi serangga penular, kecepatan angin, tingkat ketahanan varietas berpengaruh terhadap kecepatan penularan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Anggota Rutaceae seperti Poncirus tripoliata Raf., Kemuning (Murraya paniculata L.), Swinglea glutinosa Merr., Clausena indica, Atalantia missionis dan Triphasia aurantiola, tapak dara / Periwinkel  (Vinca rosea L.), Maja (Aegle marmeles), dan Kawista (Limnocitrus lettoralis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian : Penerapan PTKJS&lt;br /&gt;Peraturan: Melarang membawa / memasukkan benih jeruk dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit CVPD (belum terserang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyakit Tristeza (Quick Decline)&lt;br /&gt;Penyebab : Virus Tristeza jeruk (Citrus Tristeza Virus =CTV) dengan serangga penular Toxoptera citricida Krik. (Aphis citricidus Kirk., Aphis tavaresi Del Garcio, Aphis citricola Van der Goot), T. auranti Fonsc., Aphis spiraecola Patch., Aphis gossypii Glou, Myzus persicae Sulz. Dan Ferrisia virgata Ckll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di Luar Negeri dilaporkan terdapat di Malaysia, Thailand, Philipina, Taiwan, Fiji, India, Australia, Selandia Baru. Hawaii, Israel, AfrikaSelatan dan Barat, serta Amerika Utara dan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Gejala infeksi pada tanaman adalah kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (floem), lekukan atau celah - celah pada jaringan kayu pada batang, cabang atau ranting dan gejala daun menguning. Pada varietas yang tahan seperti jeruk keprok gejalanya bisa tak tampak tetapi tetap merupakan sumber infeksi bagi varietas yang peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala khas penyakit virus ini adalah daun - daun tanaman yang berubah menjadi berwarna perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit. Biasanya terjadi pemucatan tulang daun (vein clearing) berupa garis - garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya 2 minggu sampai 2 bulan setelah tertular. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat / merana, kerdil, daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung keatas. Bunga yang dihasilkan  berlebihan, tetapi tdak dapat berkembang menjadi buah yang masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Virus mempunyai zarah - zarah berbentuk batang yang lentur atau benang dengan ukuran 10 - 12 x 2.000 mm. Virus dapat menular secara mekanis melalui tanaman tali putri dan alat pada waktu melakukan perbanyakan dan pemangkasan. Penularan secara alami di lapang dapat terjadi dengan perantara kutu daun sebagai vektor yaitu : Toxoptera citricida Kirk., T. Aurantii Fonsc., Aphis citricidus Kirk., A. tavaresi Del Garcio, A. citricola Van der Goot, A. gossypii, A. spiraecola Patch., Ferrisia virgata Ckll. dan Myzus persicae Sulz.&lt;br /&gt;Kutu daun ini sudah dapat menularkan virus jika mengisap tanaman sakit selama 5 detik dengan masa inkubasi 5 detik dan hanya dapat menularkan secara efektif bila 27 ekor kutu daun secara bersama - sama menularkan pada tanaman sehat. Efektivitasnya hanya terjadi dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh varietas, suhu dan populasi serangga penular. Suhu antara 28 - 36 °C selama 10 hari dapat menekan gejala pada daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;- Penggunaan bibit sehat&lt;br /&gt;- Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza&lt;br /&gt;- Eradikasi terhadap tanaman sakit dan tanaman inang serangga penular, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kimiawi&lt;br /&gt;Pengendalian serangga penular dengan insektisida efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Busuk Pangkal Batang (Brown rot Gummosis)&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Phytophthora spp., diantaranya yang penting adalah a) P. nicotianae B. de Haan var parasitica (Dast). Waterh (dulu : P. parasitica Dast), b) P. citrophthora (R.E. Sm. &amp;amp; E.H. Sm.) Leonian, (dulu :  Pythiacytic citrophthora R.E. Sm. Et E.H. Sm), dan c) P. palmivora (Butl). Di Indonesia spesies yang utama adalah P. nicotianae var. parasitica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyakit terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Penyakit ini umumnya menyerang pada bagian pangkal batang dekat permukaan tanah atau pada bagian sambungan antara batang atas dan bawah bibit jeruk okulasi. Gejala awal tampak berupa bercak basah yang berwarna gelap / hitam kebasah-basahan pada permukaan kulit pangkal batang. Jaringan kulit kayu yang terserang mengalami perubahan warna bahkan permukaan kulit, kambium, kayu, terutama pada serangan lanjut. Kulit batang yang terserang, permukaannya cekung dan mengeluarkan belendok, dan pada tanaman terserang sering terbentuk kalus. Kematian tanaman akibat serangan penyakit ini terjadi apabila bercak pada kulit melingkari batang.&lt;br /&gt;Perkembangan bercak ke bagian atas, umumnya terbatas hingga 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bagian bawah dapat meluas ke bagian akar tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Cendawan P. nicotianae var parasiticia sporangiumnya berbentuk jorong sampai agak bulat, berbentuk buah pir, dengan sporangiofor lebih halus dari pada hifa. Spora mempunyai dua bulu cambuk (flagela), dan patogen dapat membentuk klamidospora bulat, berdinding agak tebal.&lt;br /&gt;P. citrophthora sporangiumnya berbentuk jorong atau berbentuk sitrun, dan terbentuk pada bagian tengah atau ujung sporangiofor. Sporangiofor bercabang tidak teratur. Spora mempunyai 2 bulu cambuk. Patogen juga dapat membentuk klamidospora.&lt;br /&gt;P. palmivora mempunyai sporangium jorong, dan dapat membentuk klamidospora. Cendawan P. palmivora dapat bertahan dalam tanah dan membentuk spora kembara. Cendawan ini disebarkan terutama oleh hujan dan air pengairan yang mengalir di atas permukaan tanah.&lt;br /&gt;Penyakit busuk pangkal batang lebih banyak menyerang kebun dengan ketinggian lebih dari 400 m dpl, pada tanah - tanah yang basah, seperti tanah lempung berat yang dapat menahan air lebih lama.&lt;br /&gt;Patogen masuk lewat luka pada pangkal batang (penyebaran oleh oospora melalui luka alamiah, luka karena alat pertanian, atau luka oleh serangga). Infeksi terjadi terutama pada musim hujan dan dibantu oleh pH tanah agak asam (6,0 - 6,5). Infeksi patogen juga dibantu oleh kabut dan fluktuasi suhu yang kecil yang akan memperlambat penguapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Penyakit ini lebih banyak menyerang pada ketinggian kebun lebih dari 400 m di atas permukaan laut dan mempunyai temperatur tanah cukup tinggi. Tingkat ketahanan varietas sangat berpengaruh terhadap tingkat serangan patogen ini. Jenis yang peka adalah jeruk manis, jeruk nipis, sitrun Italia, Japanese citroen (JC) dan Rough Lemon (RL) sangat rentan terhadap penyakit ini, sedangkan yang toleran adalah trifoliate orange, jeruk masam, Swingle Ctromelo, Citrange (Corrizo dan Troyer), Sukade, jeruk Keprok, jeruk Manis, Grape Fruit, jeruk besar, jeruk nipis, dan Lemon&lt;br /&gt;Tanah basah, adanya kabut, dan fluktuasi suhu yang kecil, pH tanah yang agak masam yaitu 6,0 - 6,5 merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Kacang tanah, cabai, tapak dara, kenaf, ubi kayu, jarak, terung, sirsak, srikaya, aren, pepaya, kelapa, terung belanda, durian, karet, pala, sirih, lada, kakao, anggrek Vanda dan kemiri minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;- Menanam jeruk di atas gundukan - gundukan setingi 20 - 25 cm, tetapi tanaman jangan dibumbun agar batang atas tidak berhubungan  dengan tanah.&lt;br /&gt;- Menggunakan benih dengan mata tempel setinggi 35 - 50 cm dari permukaan tanah, untuk mengurangi kemungkinan batang atas yang rentan terinfeksi cendawan dari tanah.&lt;br /&gt;- Menghindari air pengairan mengenai / terkena langsung pangkal batang dengan membuat selokan melingkari batang.&lt;br /&gt;- Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur drainase, jarak tanam, pemangkasan, dan sanitasi lingkungan / kebun.&lt;br /&gt;- Menghindarkan terjadinya pelukaan terhadap baik akar maupun pangkal batang pada waktu pemeliharaan / penyiangan.&lt;br /&gt;- Pemupukan&lt;br /&gt;- Pengamatan pangkal batang jeruk secara teliti dan teratur, terutama pada musim hujan, agar gejala penyakit dapat diketahui secara dini.&lt;br /&gt;- pH tanah diupayakan lebih dari 6,5, dengan pemberian dolomit (kapur pertanian),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mekanis / fisis&lt;br /&gt;- Membongkar tanaman (termasuk akarnya) yang terserang berat, kemudian membakarnya.&lt;br /&gt;- Memotong / membuang bagian tanaman yang sakit, termasuk 1 - 3 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi fungisida. Untuk mempercepat pemulihan (regenerasi), sebaiknya bagian atas dan bekas luka potongan membentuk titik.&lt;br /&gt;- Menggunakan multiple foot stock (kaki ganda) dengan teknik aaneting / penyusuan (sambung samping) dengan batang bawah sehat 1 atau beberapa, tergantung besar tanaman yang akan ditolong untuk membantu fungsi akar dan pohon yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Biologi&lt;br /&gt;Mengunakan agens antagonis cendawan Trichoderma spp., Gliocladium spp. yang dicampur dengan pupuk kandang / kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Genetika / Varietas Tahan&lt;br /&gt;- Menggunkan batang bawah yang tahan terhadap Phytophthora, seperti “trifoliate orange” atau jeruk masam.&lt;br /&gt;- Varietas tahan terhadap Phytophthora dan salinitas, yaitu Taiwanica dan Citromello 4475.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kimia&lt;br /&gt;- Melumasi pangkal batang dan akar - akar yang tampak dari luar dengan ter (Carbolineum plantarum 50 %) sampai setinggi 50 cm. Perlakuan tersebut dimulai tahun ketiga setelah penanaman dan setiap awal musim hujan (untuk Jawa September atau setiap 6 bulan. Agar batang yang berwarna hitam tidak banyak menyerap panas sehingga kulitnya rusak (untuk mencegah infeksi setelah diberi ter), maka bagian yang diberi ter ditutup dengan larutan kapur yang ditambah dengan garam dapur (25 kg kapur mati, 2 kg garam dapur, dan 25 - 35 liter air.&lt;br /&gt;- Mengoles luka (bekas tanaman yang terinfeksi yang dibuang) dengan bubur California, bubur Bordo (Lampiran 3), Carbolineum-parafin (8 : 92), Mankozeb, atau tembaga oksiklorida. Kemudian luka ditutup dengan obat penutup luka, seperti ter, setelah kulit mengalami regenerasi.&lt;br /&gt;- Membersihkan alat - alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penyakit Kulit Diplodia (Bark rot / Diplodia Cummosis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Botryodiplodia theobromae Pat. (Oomycetes); yang dulu dikenal dengan nama Diplodia zae Lev.; Diplodia natalensis P.Evans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Di Indonesia penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Di luar negeri penyakit terdapat di Amerika Serikat, Kuba, India, Malaysia, dan Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Pada jeruk dikenal dua macam Diplodia yaitu Diplodia “basah” dan Diplodia “kering”. Penyakit ini dapat menyerang akar, batang dan ranting dan dapat mengakibatkan busuk akar, busuk leher dan mati ranting.&lt;br /&gt;Serangan Diplodia basah mudah dikenal karena tanaman yang terserang mengeluarkan “blendok” yang berwarna kuning emas dari batang atau cabang - cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang setelah beberapa lama dapat sembuh kembali, kulit yang terserang mengering dan mengelupas. Sering terjadi penyakit berkembang terus, sehingga pada kulit terjadi luka - luka yang tidak teratur, kadang-kadang terbatas pada jalur yang sempit, memanjang dan dapat juga berkembang melingkari batang atau cabang yang dapat menyebabkan kematian cabang atau tanaman. Cendawan berkembang di antara kulit dan kayu, dan merusak lapisan kambium tanaman. Kayu yang telah mati berwarna hijau sampai hitam.&lt;br /&gt;Serangan Diplodia kering umumnya lebih berbahaya karena gejala permulaan sukar diketahui. Kulit batang atau cabang tanaman yang terserang mengering, terdapat celah - celah kecil pada permukaan kulit, dan pada bagian kulit dan batang yang ada di bawahnya berwarna hitam kehijauan. Pada bagian celah - celah kulit terlihat adanya massa spora cendawan berwarna putih atau hitam. Perluasan kulit yang mengering sangat cepat dan bila sampai menggelang tanaman, menyebabkan daun-daun tanaman menguning dan kematian cabang atau pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Cendawan dapat membentuk piknidium yang tersebar, berwarna hitam, mula - mula tertutup dan kemudian pecah. Konidium berbentuk jorong, mempunyai 1 sekat, berwarna gelap, dan terutama disebarkan oleh air dan serangga.&lt;br /&gt;Penyakit diplodia banyak terdapat di dataran rendah dan tempat - tempat dengan kelembaban tinggi Infeksi dan perkembangan penyakit terjadi pada awal musim hujan (antara bulan Oktober – Nopember). Patogen masuk lewat luka: alamiah, alat - alat pertanian, retak karena beban buah terlalu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit&lt;br /&gt;Perkembangan dan tingkat serangan penyakit dipengaruhi oleh jenis dan umur tanaman. Jenis jeruk besar seperti jeruk Delima, Pandawangi, dan Bali  peka terhadap Diplodia basah dan diplodia kering Bertambahnya umur tanaman pada jenis jeruk tertentu akan meningkat pula ketahannya tetapi pada jenis lain bisa menurun ketahanannya. Jeruk  Pandanwangi peka pada umur 4 tahun, tetapi semakin tahan dengan bertambahnya umur tanaman, sedangkan jeruk Delima agak peka pada usia muda, tetapi makin peka dengan bertambahnya umur tanaman.&lt;br /&gt;Kekeringan yang terjadi secara tiba-tiba, pembuahan yang terlalu lebat, dan adanya pelukaan pada tanaman merupakan kondisi yang baik untuk perkembangan patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Cendawan ini bersifat polifag yang dapat menyerang beberapa macam jenis tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;- Sanitasi tanaman. Potong pohon / cabang / ranting yang terserang berat, buang kulit yang terinfeksi sedang dan bersihkan kulit yang terinfeksi ringan serta lingkungan dari gulma.&lt;br /&gt;- Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur jarak tanam dan melakukan pemangkasan.&lt;br /&gt;- Penjarangan buah, agar keadaan tanaman tidak terlalu berat, sehingga cabang / ranting tidak luka / retak.&lt;br /&gt;- Menghindari pelukaan terhadap akar maupun batang pada waktu penyiangan.&lt;br /&gt;- Perlakuan pembersihan dengan menggosok batang tanaman, agar batang semakin halus.&lt;br /&gt;- Pemupukan berimbang, terutama setelah panen.&lt;br /&gt;- Drainase. Menjaga agar pengairan tetap baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mekanis / fisis&lt;br /&gt;- Memotong / membuang bagian bagian kulit batang tanaman yang sakit, termasuk 1 - 2 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi dengan bahan penutup luka (karbolineum parafin, fungisida atau ter.&lt;br /&gt;- Mengumpulkan sisa - sisa tanamn dan memotong cabang - cabang yang terserang penyakit berat, kemudia dibakar.&lt;br /&gt;- Membongkar tanaman yang terserang berat dan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Biologi&lt;br /&gt;Mengunakan agens antagonis Trichoderma spp., Gliocladium spp., Pseudomonas fluorescens dan dilanjutkan dengan Bacillus subtilis yang telah dicampur dengan pupuk kandang/kompos, setelah kulit dikupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Genetika / Varietas Tahan&lt;br /&gt;Varietas tahan belum ada. Varietas yang agak tahan (agak toleran) adalah Pandanwangi (cikoneng), jeruk manis, dan jeruk grape fruit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kimia&lt;br /&gt;- Mengoleskan bubur California atau fungisida yang efektif berbahan aktif metil tiofanat dan siprokonazol pada bagian kulit batang / ranting tanaman yang sakit setelah dibersihkan lebih dulu, dan untuk pencegahan di daerah kronis endemis.&lt;br /&gt;- Membersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penyakit Antraknosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Colletotrichum gloeosporioides Penz., dengan bentuk sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Cendawan penyebab lainnya adalah Gloeosporium limetticolum Clausen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyakit ini dikenal di semua negara penanam jeruk. Di Indonesia penyaki ini tersebar di Jawa, Bali, Kalimantan Barat, dan NTB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik - bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok.&lt;br /&gt;Gejala antraknosa pada buah adalah adanya bercak / bintik - bintik coklat kemerahan atau coklat hitam, berbentuk bulat pada permukaan kulit buah, lama - lama menjadi cekung, mengeras dan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Aservulus dangkal, seta bersekat 1 - 2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Bawang - bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp (ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;- Penggunan bibit yang bukan berasal dari cangkokan.&lt;br /&gt;- Menjaga agar tanaman pada kondisi optimum dengan memperbaiki kondisi tanah (drainase dan kesuburan tanah yang baik).&lt;br /&gt;- Sanitasi terhadap bagian atau sisa - sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kimiawi&lt;br /&gt;Penggunaan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Oidium tingitanium Carter, yang juga disebut Acrosporium tingitanium (carter) subr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyakit ini menyebar di pertanaman jeruk di seluruh Indonesia. Di luar negeri terdapat di California, Brasilia, Panama, India, Sri Lanka, Filipina, Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Cendawan ini dapat menyerang daun dan ranting - ranting muda atau bagian tanaman yang masih tumbuh aktif. Permukaan daun atau ranting-ranting muda tertutupi oleh lapisan tepung berwarna putih. Tepung putih ini merupakan massa dari konidia cendawan. Jaringan di bawah lapisan tepung tersebut berwarna hijau tua kebasah - basahan. Serangan berat menyebabkan daun - daun menjadi mengeriting atau mengalami penyimpangan bentuk (malformasi), mengering, tetapi daun - daun tetap melekat pada ranting - ranting tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Apresorium membulat, konidium berbentuk tong dengan ujung - ujung yang membulat, tidak berwarna, berbutir halus. Konidium membentuk rantai yang terdiri dari 4 - 8 konidium. Penyebarannya dipencarkan oleh angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Penyakit dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Serangan penyakit ini jarang terjadi di dataran rendah. Adanya tunas-tunas muda dan kelembaban tinggi merupakan kondisi yang baik bagi perkembangan patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;Sanitasi terhadap tunas atau daun-daun terinfeksi yang tidak produktif.&lt;br /&gt;b. Kimiawi&lt;br /&gt;Penyemprotan dengan serbuk belerang atau penggunaan fungisida yang efektif, bila dijumpai serangan. Bila menggunakan serbuk belerang, untuk tanaman jeruk dibutuhkan 20 - 30 kg tepung belerang per hektar. Penghembusan tepung belerang hendaknya dilakukan pagi hari, saat bunga dan daun masih basah oleh embun. Bila penghembusan dilakukan saat hari telah panas dapat menimbulkan luka bakar pada bunga dan daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jamur Upas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Corticium salmonicolor B. &amp;amp; B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Tersebar luas di daerah penanaman jeruk di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Batang, cabang, dan ranting terlihat dilapisi oleh benang-benang mengkilat seperti sarang laba-laba(stadium membenang. Cendawan berkembang terus, masuk ke dalam kulit dan menyebabkan kulit membusuk. Daun - daun menjadi gugur, ranting dan cabang yang terserang dapat mengalami kematian, terdapat bintil - bintil spora (stadium membintil). Pada stadium lanjut warna merah jambu berubah menjadi abu-abu dan lapisan miselium membentuk bercak - bercak tak beraturan atau seperti kerak (stadium nekator).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur hidup&lt;br /&gt;Morfologi pertumbuhan patogen pada tanaman mengalami 4 stadia yakni stadium membenang, stadium membintil, stadium kortisium dan stadium nekator. Stadium membenang merupakan perkembangan awal patogen. Patogen masuk secara mekanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Cendawan / penyakit akan berkembang bila kelembaban dan cahaya yang mengenai bagian tanaman, kurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Karet, kakao, kopi, teh dan cengkeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis &lt;br /&gt;- Sanitasi dengan membuang bagian tanaman yang sakit. Pemotongan dilakukan pada bagian tanaman sehat, yaitu + 5 cm dari batas bagian tanaman yang sakit dan sehat. Luka yang terjadi ditutup dengan bahan penutup luka. Potongan bagian tanaman yang sakit dikumpulkan dan dibakar.&lt;br /&gt;- Menjaga kebersihan kebun dan mencegah terjadinya kelembaban yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kimiawi&lt;br /&gt;Melabur bagian tanaman sakit dengan fungisida yang efektif bila dijumpai serangan, harus diiringi dengan pengendalian kutu - kutu daun dengan insektisida yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penyakit Kudis (Scab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Cendawan Sphaceloma fawcetti (Mc Alpin &amp;amp; Tyron) Jenkins&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyakit kudis terdapat menyebar di pertanaman jeruk di indonesia. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Jepang, Florida, Teluk Meksiko, Australia, dan Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Gejala kudis dapat terjadi pada daun, ranting dan buah. Pada tanaman yang rentan gejala kudis menyerupai bintil - bintil kecil agak menonjol berwarna kuning atau orange. Kemudian bintil - bintil ini berubah menjadi coklat kelabu, bersatu,  keras dan bergabus membentuk kerak. Pada daun, gejala kudis terdapat pada bagian bawah permukaan daun dan kadang-kadang dapat dijumpai pada bagian atasnya. Daun yang terserang berkerut dan gugur. Buah - buah yang terserang terhambat pertumbuhannya dan sering mengalami malformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Aservulus cendawan ini dapat terpisah - pisah atau bersatu, dan agak bulat. Konidiofor berbentuk tabung, dengan ujung meruncing, warna hialin, kemudian menjadi agak keruh dan bersekat 1 berwarna gelap.&lt;br /&gt;Patogen dapat bertahan pada daun, dan ranting tanaman yang terinfeksi. Spora cendawan dapat disebarkan oleh percikan air hujan, tetesan embun, angin, dan serangga. Daun dan buah yang masih muda sangat mudah terinfeksi patogen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Keadaan cuaca, tingkat ketahanan varietas, terbentuknya buah dan tunas baru sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Pada umumnya penyakit tidak berkembang pada musim kemarau, tetapi pada musim hujan, suhu udara antara 15 - 23 °C, dan tanaman sedang membentuk tunas dan buah baru, merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan patogen dan merupakan titik kritis  terutama bila tanamannya rentan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Kultur teknis&lt;br /&gt;- Penanaman varietas tahan&lt;br /&gt;- Mengusahakan agar buah dan tunas tanaman pada awal musim hujan sudah besar dimana pada kondisi demikian tanaman menjadi lebih tahan.&lt;br /&gt;- Mengatur saat pembuahan dapat dilakukan dengan menentukan saat pengairan tanaman yang tepat pada jenis jeruk tertentu. Unuk jeruk keprok, usahakan terjadi pembuangan lebih awal dengan pemberian air pada tanaman (+ 8 bulan sebelum musim hujan), sehingga pada awal musim hujan buah sudah agak besar dan mempunyai ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mekanis / Fisis&lt;br /&gt;Serangan pada persemaian batang bawah dapat dicegah dengan penghembusan atau pemberian asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kimiawi&lt;br /&gt;Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penyemrpotan bubur Bordo 1,5 - 2 % atau disemprot dengan campuran Zink Zulfate – Cooper Sulfate dan kapur tohor dengan perbandingan 3 : 2 : 6 dalam 100 bagian air (dua kali penyemprotan awal berbunga dan setelah persarian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kanker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Bakteri Xanthomonas compestris pv. Citri (Hasse) Dye. Yang juga dikenal dengan nama Xanthomonas compestris (Hasse Dowson), Pseudomonas citri Hasse dan Phytomonas citri (Hasse) Bergex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyebaran ini terdapat diseluruh Indonesia. Di luar negeroi dilaporkan terdapat di India, Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan Malaysia. Penyakit ini termasuk penyakit yang cukup merugikan banyak jenis jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Pada daun dan buah terjadi luka yang timbul dari bercak berwarna hijau gelap, kebasah - basahan yang lalu mengering dengan bagian tengah terjadi pembentukan gabus berwarna coklat / kuning. Pada bagian tengah kulit tersebut terdapat celah - celah yang menyebabkan terjadinya lubang - lubang seperti kepundan.&lt;br /&gt;Daun dan buah yang sakit kadang - kadang mengalami salah bentuk (malformasi) dan ukuran buah menjadi kecil - kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Bakteri berbentuk batang, membentuk rantai, berkapsul, tidak berspora dan bergerak dengan bulu cambuk polar. Patogen dapat bertahan pada bercak di daun, ranting, batang, atau tanah dan bertahan lebih lama pada jaringan kanker yang berkayu. Infeksi terjadi melalui stomata, lentisel, dan luka. Bakteri dapat tersebar melalui serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi Penyakit :&lt;br /&gt;Perkembangan patogen dipengaruhi oleh jenis tanaman dan keadaan lingkungan.  Adanya embun yang sangat tebal pada keadaan lembab, bakteri keluar dari luka. Jenis keprok tahan terhadap penyakit ini sedang jeruk Delima, Pandanwangi dan Bali sangat rentan. Suhu antara 20 - 35 0C sangat menguntungkan bagi patogen untuk menginfeksi tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Inang Lain :&lt;br /&gt;Agle sp.,Atalantia sp., Feronia sp., Zoysia japonica (rumput).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Menggunakan kultivar yang tahan terhadap penyakit kanker.&lt;br /&gt;b. Membersihkan alat - alat yang dipergunakan di pembibitan misalnya dengan alkohol 70%&lt;br /&gt;c. Pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian tanaman yang terinfeksi penyakit.&lt;br /&gt;d. Bila infeksi berat, tanaman diearadikasi, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;e. Pada intensitas serangan hebat, dapat dilakukan pengendalian dengan menyemprot daun - daun muda dan buah dengan fungisida Copper (misalnya bubur Bordo, Copper oxychloride). Penyemprotan dilakukan tepat sebelum pohon membentuk tunas - tunas baru, pada musim hujan. Sebelum terdapat serangan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Embun Jelaga (Scooty Mold)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab : Cendawan Capnodium citri B. &amp;amp; Esm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Terdapat pada setiap pertanaman jeruk, terutama bila dijumpai adanya kutu - kutu tanaman yang mengeluarkan embun madu yang mengandung zat gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Daun, ranting dan buah yang terserang dilapisi oleh lapisan tipis berwarna hitam. Pada musim kering lapisan ini dapat dikelupas memakai tangan atau terkelupas sendiri, dan mudah tersebar oleh angin. Buah yang tertutup oleh lapisan hitam ini, biasanya ukurannya lebih kecil dan mengalami kelambatan dalam pematangan. Gejala ini banyak terjadi pada pohon jeruk yang dijumpai kutu - kutu tanaman yang dapat mengeluarkan embun madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Miselium berwarna coklat dan melekat pada permukaan daun atau bagian tanaman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempegaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Adanya kutu tanaman yang dapat mengeluarkan sekresi embun madu seperti Aleurodicus sp., Pseudococcus sp., dan Coccus viridis merupakan medium yang baik perkembangan cendawan. Kelembaban yang tinggi juga dapat mendorong perkembangan cendawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Inang Lain :&lt;br /&gt;Cengkeh, jambu, dan kopi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Mengendalikan kutu-kutu tanaman antara lain dengan pertisida yang efektif&lt;br /&gt;b. Mengendalikan cendawan dengan fungisida yang efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Penyakit Ganggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Ganggang Cephaleuros virescens Kunse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Semua pertanaman jeruk teruitama di daerah tropis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Bercak - bercak berbentuk bundar atau tidak beraturan pada daun - daun terserang. Bercak - bercak mempunyai tepi yng tidak jelas, permukaan bercak tertutup oleh sporangiofor. Bercak - bercak dapat berubah warnanya menjadi coklat kehijau - hijauan. Bila ranting terserang terlingkari, maka kulit ranting membengkak, membesar dan pecah - pecah. Pada serangan berat daun - daun berguguran. Pada buah akan tampak lapisan yang berwarna hijau gelap atau hitam yang agak tebal yang mengurangi kualitas buah. Namun lapisan ini biasanya terdapat pada buah - buah yang terlalu matang untuk dipasarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Ganggang ini tidak merupakan parasit asli. Pada beberapa jenis jeruk, ganggang nampak pada permukaan tanaman, menyebabkan gangguan pada lapisan kutikula, epidermis atau kulit luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Patogen ini berkembang baik dalam kondisi pertumbuhan tanaman lemah, drainase tanah kurang baik, sinar matahari langsung yang terik, kekurangan air, dan pemeliharaan tanaman yang kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain :&lt;br /&gt;Teh, cengkeh, dan kopi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Pemeliharaan tanaman yang baik, sehingga tanaman dapat tumbuh kuat (perbaikan drainase, penyiraman, pemupukan berimbang).&lt;br /&gt;b. Penggunaan pestisida yang efektif bila dijumpai serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Penyakit Buih atau Busa (Foam Disease)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Penyebab penyakit belum diketahui. Namun kemungkinan disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Kalimantan Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Busa berwarna putih seperti buih terlihat keluar dari batang atau pada bidang pertemuan antara percabangan. Busa ini biasanya berbau tidak enak atau seperti bau alkohol. Kulit pada bagian yang mengeluarkan busa busuk dan apabila dikelupas sering terlihat kumbang - kumbang kecil baik dewasa maupun larvanya. Biasanya luka pada kulit tidak menyebar tetapi sembuh secara alami dengan meninggalkan bekas luka diameter 1 – 3 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur hidup :&lt;br /&gt;Penyebab penyakit belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan busa yang terbentuk disebabkan oleh fermentasi gula pada cairan tanaman oleh bermacam - macam cendawan atau yeast yang kemudian menarik kegiatan kumbang. Masuknya cendawan maupun yeast pada awalnya melalui alur sempit memanjang pada kulit yang diduga disebabkan oleh bekas rembesan atau aliran air yang terlalu berlebihan selama musim hujan. Penyakit dapat ditularkan oleh kumbang tanduk (Xylotrupes gideon), lalat dan serangga Caspophillus sp. Yang senang memakan atau mengisap bagian yang membusuk dan berbuih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Penyakit ini sering terlihat pada kondisi sangat lembab, seperti umumnya daerah rawa yang airnya berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis batang bawah. Pada keadaan tertentu, luka bisa menyebar sampai melingkari cabang. Keadaan ini tidak berbahaya, kecuali bila timbul luka yang dapat digunakan sebagai jalan masuk Diplodia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Perbaikan drainase di sekitar kebun.&lt;br /&gt;b. Menjaga kesuburan tanaman dengan pemberian air dan pupuk yang berimbang.&lt;br /&gt;c. Bagian tanaman yang sakit dioles dengan campuran belerang atau belerang kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Psorosis (Rimocorticus psorosis Fawc.) Holmes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Virus atau Citrus Psorosis Virus (CPsV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Jawa Timur, jawa Tengah, bali, Riau, kalimantan Barat. Penyebaran di negara lain adalah Florida, Laut Tengah, Afrika Selatan dimana banyak pohon yang tidak produktif akibat serangan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Gejala awal adalah kematian pucuk atau ranting yang cepat yaitu 1 - 2 bulan setelah penularan. Pucuk dan ranting yang terbentuk setelah penularan mula - mula menguning daun-daunnya rontok, selanjutnya mengering. Gejala selanjutnya adalah garis - garis klorosis pada jaringan di sekitar tulang daun dan bercak - bercak klorosis yang tepinya bergerigi atau zigzag yang simetris di sekitar tulang daun tengah, 2 - 4 bulan setelah penularan gejala dan terlihat jelas pada daun - daun muda dan pada daun yang sudah menjadi tua gejalanya menghilang.&lt;br /&gt;Pada varietas tertentu seperti jeruk manis menyebabkan pengelupasan kulit pada batang dan cabang (Bark scalling) pada 6 - 12 tahun setelah tertulari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Virus ini menular melalui mata tempel yang berasal dari tanaman terinfeksi. Penularan kemungkinan terbawa biji. Varietas yang sangat peka adalah jenis Sweet Lime, Tangelo, dan mandarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Penggunaan mata tempel yang berasal dari tanaman sakit dan penyebaran bibit ke lokasi lain akan membantu penyebaran dan perluasan serangan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Menggunakan mata tempel yang sehat.&lt;br /&gt;b. Mengeradikasi / pemusnahan bibit yang terserang penyakit dan mencegah penyebaran dan pemasarannya.&lt;br /&gt;c. Sterilisasi alat - alat perbanyakan dengan alkohol 70 % atau klorok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Exocortis (Scally Butt, Rangpur Lime Disease)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Viroid atau Citrus Exocorris Virus(CEV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Penyebaran Citrus Exocortis Viroid (CEV) di Indonesia belum banyak diketahui, tetapi telah ditemukan pada beberapa pertanaman jeruk di Kabupaten Malang (Jawa Timur) dan Bali. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Tanaman kerdil, meranggas, layu, produksi menurun dan akhirnya mati. Kulit mengelupas di sekeliling batang bawah yang peka terhadap penyakit ini. Viroid Exocortis dapat hadir dalam keadaan tanpa gejala di tanaman pembawa (carrier). Exorcotis tidak menunjukkan gejala pada jenis - jenis jeruk Sweet Orange, Grapefruit, Mandarin, Rough Lemon dan Sour Orange. Bila mata tempel yang terinfeksi dari tanaman yang tidak bergejala ditempelkan pada batang bawah yang peka maka, akan timbul tanaman yang berpenyakit Exocortis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur hidup :&lt;br /&gt;Viroid  berada pada tanaman sebagai asam nuklead bebas tanpa selubung protein. Tahan lama dalam jaringan - jaringan tanaman yang kering atau sebagai kontaminan pada permukaan bagian tanaman yang kering, dan tetap dapat menginfeksi tanaman. Penularan melalui penggunaan mata tempel yang telah terinfeksi penyakit dan kontaminasi melalui peralatan perbanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :&lt;br /&gt;Viroid exorcotis tahan terhadap cara - cara pemanasan dan penggunaan bahan - bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian:&lt;br /&gt;a. Gunakan mata tempel yang bebas exocortis.&lt;br /&gt;b. Hindarkan penggunaan peralatan yang terkontaminasi penyakit dalam perbanyakan atau penanaman. Peralatan dapat dibersihkan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % atau campuran formaldehid dan sodium hidroksida&lt;br /&gt;c. Penyebaran CEV di pembibitan dapat dihindari dengan memisahkan tanaman yang terinfeksi dengan tanaman yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Cachexia Xyloporosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab:&lt;br /&gt;Viroid Cachexia Jeruk atau Citrus Cachexia Viroid (CCaV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran:  Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Sebagian besar jenis dan varietas jeruk dapat terinfeksi oleh CCaV, tetapi umumnya tidak menunjukkan gejala. Varietas jeruk yang sangat rentan terhadap infeksi viroid ini adalah Tangelo Orlando dan Mandarin Parso’s Special. Kedua varietas ini meruapkan tanaman indikator terbaik untuk pengujian CCaV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala infeksi CCaV pada tanaman - tanaman indikator ini adalah terbentuknya bercak-bercak yang mengandung blendok (lendir kental berwarna coklat) pada jaringan kulit batang, minimum 1 tahun sejak terinfeksi. Pada permukaan dalam jaringan kulit terjadi tonjolan - tonjolan tumpul yang menyebabkan bagian kayu melekuk ke dalam. Gejala akan tampak lebih nyata pada kondisi suhu yang hangat (20-350C). tanaman jeruk yang terserang berat akan kerdil, daun - daun menguning, layu, mengering dan akhirnya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur hidup penyakit :&lt;br /&gt;Penyakit ini disebabkan oleh viroid yang informasinya belum banyak diketahui. Sifat viroid ini mirip dengan viroid exocortis yaitu mudah menular melalui penyambungan mata tempel dan secara mekanik melalui alat - alat pangkas. Viroid ini tidak menular melalui serangga ataupun biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Menggunakan bahan perbanyakan tanaman yang sehat.&lt;br /&gt;b. Bibit yang diketahui terkena penyakit harus segera dibongkar dan dimusnahkan.&lt;br /&gt;c. Menjaga kebersihan peralatan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % (bahan aktif dalam larutan pencuci seperti “clorox”) dengan cara disemprotkan atau dicelupkan selama 10 detik. Bahan kimia ini sangat efektif dalam mematikan partikel - partikel viroid yang menempel pada alat - alat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Puru Berkayu (Woody Gall)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Virus puru berkayu jeruk atau Citrus Vein Enation – Woody Gall Virus (CVEV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran :&lt;br /&gt;Di Indonesia dilaporkan terdapat di Jawa Tengah dan jawa Barat. Di luar negeri tersebar di Amerika, Australia, Afrika Selatan, Fiji, Peru dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;Pada tanaman jeruk nipis, infeksi CVEV menyebabkan munculnya tonjolan - tonjolan (enation) yang tersebar tidak beraturan pada tulang daun di permukaan bawah daun. Gejala ini mula - mula berukuran kecil dan mulai tampak pada daun - daun muda yang biasanya terjadi 2 - 3 bulan sejak penularan. Gejala tersebut semakin jelas bila daun menjadi tua. Pada tanaman terinfeksi, gejala tonjolan - tonjolan ini bisa terjadi pada sebagian atau seluruh daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pada jeruk nipis, gejala tersebut kadang-kadang dijumpai pada jeruk manis, Siem, Rough lemon (RL) dan Sour Orange, tetapi biasanya lebih ringan dibandingkan pada jeruk nipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanaman jeruk yang disambung pada batang bawah RL, CVEV menyebabkan pembentukan puru - puru atau benjolan - benjolan (gall) pada daerah sambungan, sekitar 6 bulan sejak tertulari. Gejala ini mula-mula berukuran kecil berwarna hijau pucat, kemudian berkembang melebar dan membesar tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dan daur penyakit :&lt;br /&gt;Penyakit ini disebabkan oleh virus yang belum banyak diketahui seluk beluknya. CVEV bersifat endemik di pertanaman jeruk. Virus dapat menular melalui penyambungan mata tempel dan di lapang melalui beberapa jenis kutu daun, yaitu T. citridus, A. gossypii dan M. persicae. Serangan CVEV hampir selalu bersamaan dengan virus Tristeza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman inang lain : Belum diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian :&lt;br /&gt;a. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida.&lt;br /&gt;b. Pemilihan pohon induk yang bebas virus, yang menghasilkan barang atas yang sehat.&lt;br /&gt;c. Alat - alat yang dipakai dalam penempelan didisinfeksi dengan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-6861022878566839981?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/6861022878566839981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=6861022878566839981&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/6861022878566839981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/6861022878566839981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/02/penyakit-penting-pada-tanaman-jeruk.html' title='&lt;center&gt;Penyakit Penting Pada Tanaman Jeruk&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SZ0sdNlYYDI/AAAAAAAAANs/VnEbKjI_CEo/s72-c/monyet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8701429938341752084</id><published>2009-01-27T09:12:00.000+07:00</published><updated>2009-01-27T09:20:29.555+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Nangka ( Artocarpus Heterophyllus Lamk )</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5vJOm95yI/AAAAAAAAANk/xAYBtu9qnJM/s1600-h/nangka.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 79px; height: 112px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5vJOm95yI/AAAAAAAAANk/xAYBtu9qnJM/s200/nangka.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295792416165324578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nangka merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari India dan menyebar ke daerah tropis termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon ini memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (sunda). Beberapa nama asing yaitu: jacfruit, jack (Inggris), nangka (Malaysia), kapiak (Papua Nugini), liangka (Filipina), peignai (Myanmar), khnaor (Kamboja), mimiz, miiz hnang (laos), khanun (Thailand), mit (Vietnam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia lebih dari 30 kultivar di Jawa terdapat lebih dari 20 kultivar. Berdasarkan sosok pohon dan ukuran buah nangka terbagi dua golongan yaitu pohon nangka buah besar dan pohon nangka buah mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Nangka buah besar: tinggi mencapai 20-30 m; diameter batang mencapai 80 cm dan umur mulai berbuah sekitar 5-10 tahun.&lt;br /&gt;2) Nangka buah kecil: tinggi mencapai 6-9 m; diameter batang mencapai 15-25 cm dan umur mulai berbuah sekitar 18-24 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi daging buah nangka dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Nangka bubur: daging buah tipis, lunak agak berserat, beraroma keras mudah lepas dari buah.&lt;br /&gt;  2. Nangka salak: daging buah tebal, agak kering aromanya kurang keras. (nangka celeng dan nangka belulang).&lt;br /&gt;  3. Nangka cempedak: daging buah tipis, liat dan beraroma harum spesifik. Varietas-varietas unggul nangka yang ditanam di Indonesia yaitu: nangka bilulang/nangka celeng, nangka cempedak, nangka dulang, nangka kandel, nangka kunir, nangka merah, nangka salak, nangka mini, dan nangka misin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Daging buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran.&lt;br /&gt;  2. Tepung biji nangka digunakan sebagai bahan baku industri makanan (bahan makan campuran).&lt;br /&gt;  3. Daun muda dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.&lt;br /&gt;  4. Kayu nangka dianggap lebih unggul daripada jati untuk pembuatan meubel, konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda dan kandang sapi ( di Priangan), dayung, perkakas, dan alat musik.&lt;br /&gt;  5. Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan buah utama bahkan dianggap sebagai pangan pokok pada saat kekurangan pangan. Di Asia Tenggara, nangka terutama dipelihara di pekarangan dan dikebun buah campuran; pada tahun 1980-an beberapa kebun buahnya yang luas ditanamai nangka sebagai tanaman tumpang sari dengan Nangka. Karena buahnya mudah sekali busuk, tidak dapat dilakukan perdagangan ekspor ke Australia, Eropa dan sebagainya dari pabrik-pabrik pengalengan di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Angin berperan dalam membantu penyerbukan bunga pada tanaman nangka.&lt;br /&gt;  2. Pohon nangka cocok tumbuh di daerah yang memilki curah hujan tahunan rata-rata 1.500-2.500 mm dan musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka dapat tumbuh di daerah kering yaitu di daerah-daerah yang mempunyai bulan-bulan kering lebih dari 4 bulan&lt;br /&gt;  3. Sinar matahari sangat diperlukan nangka untuk memacu fotosintesa dan pertumbuhan, karena pohon ini termasuk intoleran. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan terganggunya pembentukan bunga dan buah serta pertumbuhannya.&lt;br /&gt;  4. Rata-rata suhu udara minimum 16-21 derajat C dan suhu udara maksimum 31- 31,5 derajat C.&lt;br /&gt;  5. Kelembaban udara yang tinggi diperlukan untuk mengurangi penguapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pohon nangka dipelihara di berbagai tipe tanah, tetapi lebih menyenangi aluvial, tanah liat berpasir/liat berlempung yang dalam dan beririgasi baik.&lt;br /&gt;  2. Umumnya tanah yang disukai yaitu tanah yang gembur dan agak berpasir. Pohon ini hidup pada tanah tandus sampai subur dengan kondisi reaksi tanah asam sampai alkalis. Bahkan pada tanah gambutpun pohon ini dapat tumbuh dan menghasilkan buah.&lt;br /&gt;  3. Pohon nangka tahan terhadap pH rendah (tanah masam) dengan pH 6,0-7,5, tetapi yang optimum pH 6–7.&lt;br /&gt;  4. Kedalaman air tanah yang cocok bagi pertumbuhan nangka adalah 1-2 m atau antara 1-2.5 m. Karena perakarannya sangat dalam, maka sebaiknya ditanam pada tanah yang cukup teball lapisan atasnya (kira-kira 1 m).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon nangka dapat tumbuh dari mulai dataran rendah sampai ketinggian tempat 1.300 m dpl. Namun ketinggian tempat yang terbaik untuk pertumbuhan nangka adalah antara 0-800 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya perbanyakan tanaman nangka dilakukan dengan menggunakan bijinya, karena perbanyakkan dengan cangkok atau okulasi hanya sedikit persentase jadinya. Hal ini mungkin disebabkan kandungan lateksnya yang dapat menghambat proses persatuan. Seleksi dilakukan sejak masa pembibitan apabila ingin mendapatkan nangka yang bersifat unggul (cepat berbuah, mampu berproduksi banyak dengan buah yang berkualitas dan tahan terhadap hama dan penyakit). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit yang baik adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Bibit harus berasal dari jenis atau varietas yang unggul (produksi tinggi, buah berkualitas baik, berumur panjang dan tahan terhadap hama dan penyakit).&lt;br /&gt;  2. Bibit harus sehat yang dapat dilihat dari sosoknya yang kokoh, batangnya kuat, lurus dan tumbuh tegak, percabangan banyak serta daun bagian atas berwarna hijau segar dan mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan benih mencakup pencucian secara hati-hati untuk membuang kulit biji yang berlendir dan membuang bagian perikarp yang berupa tanduk; perlakuan ini akan memperbaiki perkecambahan. Benih disemai sewaktu masih segar; jika diperlukan penyimpanan jangka pendek, benih tidak boleh dibiarkan mengering. Benih yang memilki 40% dari kandungan air aslinya dan disimpan dalam wadah plastik yang kedap, dengan suhu udara 20 derajat C masih mampu berkecambah selama 3 bulan. Dalam kondisi yang memadai perkecambahan dapat diawali setelah 10 hari dan mencapai persentase perkecambahan 80-100% dalam jangka waktu 35-40 hari setelah disemai. Benih hendaknya diletakkan mendatar atau dengan hilumnya menghadap ke bawah untuk perkecambahan. Cara pembiakan pohon nangka dengan okulasi memerlukan keterampilan khusus dan pengalaman dan persentase jadinya rendah. Keuntungannya antara lain cepat berbuah dan sifatnya induknya dapat diturunkan.Tanaman yang digunakan sebagai pangkal bawah adalah anakan nangka/cempedak yang asalnya dari biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara okulasinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Sayat sebuah mata kayu (mata entras) dari batang nangka, dengan kulitnya kira-kira 2 cm dari atas sampai 2 cm di bawah mata. Kayu yang terbawa dibuang dengan hati-hati agar titik tumbuh mata tidak rusak.&lt;br /&gt;  2. Sayat kulit pohon pangkal bawah , kira-kira 10-20 cm di atas leher akar dengan lebar 2-3 cm dan panjangnya 3-4 cm. Ungkitlah dari kayunya dan lidah kukit dipotong separuhnya. Masukkanlah mata tersebut ke dalam lidah kulit pohon pangkal bawah tersebut, sedemikian rupa, mata masih kelihatan di atas lidah kulit pohon yang dipotong. Kemudian ikatlah dengan tali rafia dan mata tetap tersembul keluar (jangan sampai terhimpit).&lt;br /&gt;  3. Pada okulasi yang berhasil, sesudah 8-14 hari ikatan tali rafia harus dibuang. Apabila tunas sudah tumbuh sepanjang 1-10 cm, ikatlah tunas pada bagian atas pohon, agar tunas tumbuhnya lurus dan tidak dirusak karena digoyang-goyang angin. Bahan untuk cangkok diambil dari dahan muda/ranting baru berada di cabang pohon/tunas ranting baru yang berada di cabang pohon maupun tunas ranting yang belum produktif. Pencangkokkan dilakukan menjelang musim penghujan agar perakaran dapat tumbuh dengan baik. Namun demikian pencangkokkan dilakukan pada musim kemarau, tetapi harus disiram secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencangkok dilakukan dengan cara mengupas kulit sekeliling dalam 3-5 cm lebarnya. Luka yang telah dibuat dibiarkan kering kena angin 1-2 hari. Kemudian luka bagian atas diolesi hormon rootone F, setelah itu ditutup dengan tanah berkompos atau humus yang telah dibasahi dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik yang telah diberi lobang-lobang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji disemai/ditanam ke dalam kantong-kantong plastik yang sudah tersedia di bedengan sedalam setebal biji, setelah itu ditutup lapisan tanah tipis. Biji akan berkecambah dengan rata-rata daya kecambah dan persen jadi tanaman ± 90 %. Semai muda dipotkan selambat-lambatnya setelah berdaun empat helai, karena bibit yang lebih tua sulit untuk dipindahtanamkan (transplanting). Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara menyemaikan 1-2 benih langsung ke dalam satu wadah. Semai paling cocok disimpan di bawah naungan (50-70 % intensitas cahaya matahari penuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bibit dari biji, penyiraman dilakukan secara teratur setiap pagi hari. Sebaiknya persemaian diberi naungan yang tidak terlalu rapat dan menghadap ke arah timur guna mencegah penguapan air yang terlalu cepat. Untuk bibit dari cangkokkan, penyiraman dapat dilakukan secara teratur tiap hari untuk mencegah kekeringan. Penyiraman ini dilakukan kalau belum ada hujan. Semai dari cangkokan sebaiknya diberi naungan saat baru dipindahkan supaya tidak layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang akan diangkut ke lapangan penanaman sebaiknya disiram terlebih dahulu. Pengangkutan bibit ke lapangan penanaman dilakukan pagi atau sore hari dan dikerjakan dengan hati-hati. Pembongkaran bibit di lapangan dikerjakan hati-hati seperti halnya pada waktu pengangkutan. Apabila jarak angkutan bibit cukup jauh, maka bibit yang telah dibongkar dirawat lebih dahulu beberap hari sebelum ditanam. Bibit-bibit ini (dari biji) dapat ditanam di lapangan sewaktu masih muda sekali, yaitu sebelum perakarannya tumbuh keluar pot, sebab gangguan terhadap perakaran dapat mematikan bibit itu. Bibit juga harus mempunyai ukuran tinggi 50-75 cm dan berumur 1-1 1/2 bulan. Bibit dari okulasi dapat ditanam di lapangan pada umur 6-8 bulan. Jika panjang tunas telah mencapai 2-30 cm, potonglah bagian atas pohon pangkal dan lukanya ditutup parafin. Untuk okulasi sebaiknya dilakukan pada saat udara cerah dan tidak hujan. Bibit dari cangkokan, umumnya setelah 1-2,5 bulan, cangkokan sudah berakar banyak dan cangkok dapat diambil. Setelah disapih beberapa hari, cangkok dapat ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kegiatan penanaman dilaksanakan, perlu dilakukan pemeriksaan lapangan dan berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan ditentukan batas-batas areal.Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman nangka seperti gulma, genangan air, struktur serta pola tekstur tanah harus dibenahi/dikendalikan. Untuk itu tindakan pembersihan lapangan secara total, pengaturan drainase dan pengolahan tanah terutama di tempat yang akan dibuat lobang tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bedengan pembibitan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Ukuran bedengan beragam tetapi biasanya digunakan antara 5 x1 m atau 10 x 1 m.&lt;br /&gt;  2. Bedengan membusur arah Utara ke Selatan dan pinggirnya diperkuat dengan bambu, batu merah, atau kayu serta permukaannya ditinggikan 10-15 cm dari atas permukaan tanah.&lt;br /&gt;  3. Antar bedengan berjarak 0,45 m dan setiap 5-10 m bedengan dibuat jalan pemeriksaan sekitar 60-100 m.&lt;br /&gt;  4. Saluran air dibuat sepanjang kiri kanan pemeriksaan.&lt;br /&gt;  5. Bedengan diberi naungan dengan atap nipah atau sarlom. Bagian yang menghadap ke timur dibuat lebih tinggi daripada yang menghadap ke Barat.&lt;br /&gt;  6. Dalam bedengan disusun kantong-kantong plastik yang sudah diisi media tumbuh dan sudah diberi lobang-lobang kecil di bagian bawahnya. Media tumbuh yang digunakan campuran tanah lapisan olah, pupuk organik, dan pasir halus dengan perbandingan 2:1:1. Ukuran kantong plastik yang digunakan 20 x 30 cm dengan tebal 0,08 mm dan berwarna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pengapuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pH tanah bersifat terlalu asam atau basa maka perlu dilakukan beberapa upaya agar nangka bisa tumbuh dan memberikan hasil yang optimal. Apabila terlalu asam (pH&lt;5)&gt;7)bisa ditambahkan belerang. Dosis yang dipakai tergantung pada kondisi tanahnya namun sebagai pedoman 1 kg kapur atau belerang untuk 1 m 3 lobang tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lobang tanam, tanah hasil galian dicampur dengan pupuk kandang 20 kg/lubang dan dolomit 0,5 kg/lubang (untuk menaikkan pH). Tanah campuran ini dimasukkan ke lubang 2-3 minggu sebelum penanaman. Seminggu sebelum tanam berilah pupuk NPK (15-15-15) 100 gram ke dalam lubang penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola usaha pekarangan adalah bertanam di lahan sekitar rumah. Hasil ini tidak semata-mata untuk dijual tetapi sebagian untuk dikonsumsi sendiri. Sedangakan pola usaha kebun yaitu bertanam di lahan yang jauh lebih luas dari pekarangan dengan pertimbangan hasilnya untuk memnuhi kebutuhan pasar, modal dan tenaga kerja cukup tersedia serta lahannya sesuai dengan persyaratan tempat tumbuh nangka. Pola usaha kebun dapat berbentuk kebun tanaman murni dan kebun tanaman campuran. Pada kebun tanaman murni hanya ditanam satu jenis tanaman yaitu seluruhnya ditanami nangka. Sedangkan di kebun campuran, pohon nangka dicampur nenas, pepaya, dan sebagainya. Pohon nangka yang dipelihara di kebun buah jarak tanamnya 8 - 12 m, dalam pola segi empat atau segi enam: kepadatan yang umum adalah 100-120 batang/ha. Jarak tanamnya antara lobang tanam 12 x 12 m atau 4 x 6 m. 2) Pembuatan Lobang Tanam Lubang tanam dibuat dengan ukuran 0,5 x 0,5 x 0,5 m atau 1 x 1 x 0,5 m. Pada saat penggalian lubang tanam, tanah bagian atas dipisahkan dari tanah bagian bawah. Tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 20 kg per lubang. Lubang tanah yang telah digali dibiarkan terbuka selama 1-2 minggu, agar mendapat sinar matahari sehingga teroksidasi dengan baik. Untuk menghindari kendala tanah asam, tanah galian dicampur dengan dolomit/kapur pertanian sebanyak 0,5-1 kg per lubang tanam dan tanah campuran ini dimasukkan ke dalam lubang 2-3 minggu sebelum penanaman. Untuk tanah yang terlalu berat, selain pengolahan tanah dapat pula ditambahkan pasir sebanyak 0,5 kaleng per lubang. Seminggu sebelum tanam berilah NPK (15–15– 15) 100 gram ke dalam lubang penanamn apabila perlu. Bibit hasil semaian atau okulasi ditanam tegak dan kokoh ke dalam tengah lubang penanaman. Jarak antara lubang tanam 12 x 12 m atau 4 x 6 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman dilakukan sore hari atau pagi hari pada permulaan musim penghujan yaitu saat curah hujan sudah cukup merata. Bibit ditanam pada lubang yang sudah tersedia, tegak lurus. Sebelum bibit ditanam, kantong plastik harus dibuang. Kalau penanaman dilakukan di luar musim penghujan atau karena adanya kelainan iklim, yaitu musim hujan tiba-tiba berubah menjadi kemarau lagi, maka bibit yang telah ditanam perlu disiram secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pembuatan Lubang pada Mulsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian mulsa di sekitar pohon nangka sangat perlu; terutama pada saat musim kemarau untuk meningkatkan kelembapan tanah. Namun pada musim hujan mulsa tidak diperlukan karena dapat mendatangkan serangan jamur. Mulsa juga dapat dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk organi, pemberian dua kali per tahun sangat membantu pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk pabrik majemuk dilakukan di Malaysia dengan dosis 2-3 kg per pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyulaman tanaman yang mati dilakukan pada saat hujan masih turun di tahun pertama dan tahun kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan atau membebaskan tanaman dari serangan gulma atau tumbuhan pengganggu dilakukan dengan cara membersihkan gulma secara manual/kimia dari tanaman nangka dengan radius 1-2 m. Pengendalian gulma secara kimiawi menggunakan herbisida misalnya Paracol 1,5 liter dalam 600 liter air per ha atau Roundup 2-3 liter dalam 800 liter air/ha. Penyiangan pertama dilakukan 1-2 bulan setelah penanaman, selanjutnya setiap 2-4 bulan dilakukan selama 2-3 tahun. Penyiangan dilakukan dengan cara manual atau kimiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang atau pupuk kompos 1-2 kali setahun sebanyak 20 kg per tanaman. Pemberian pupuk anorganik dilakukan satu minggu setelah penanaman dengan dosis 100 gram NPK per tanaman. Pemupukan kedua pada umur 6 bulan dengan dosis 150 gram NPK per tanaman. Pemupukan ketiga dilakukan pada tanaman umur 12 bulan dengan dosis 200 gram per tanaman. Pemupukan keempat pada umur 18 bulan dengan dosis 250 gram per tanaman dan pemupukan kelima dilakukan pada tanaman umur 24 bulan dengan dosis 300 gram per tanaman. Selanjutnya bagi tanaman yang sudah berbunga pada lahan tidak subur dapat ditambahkan pupuk organik 650 gram/pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan tanaman diperlukan tambahan pupuk daun guna merangsang pembentukan daun. Pemberian pupuk daun dilakukan selang 2 minggu sampai tanaman umur 17 bulan. Jenis pupuk daun yang digunakan Gandasil D/Bayfolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman nangka membutuhkan drainase yang baik. Pengairan ini diperlukan untuk meningkatkan produktivitasnya. Tanaman nangka memiliki perakaran dalam, tidak membutuhkan penggenangan pada saat musim kemarau karena tanaman nangka kurang toleran terhadap genangan. Akarnya masih mampu meyerap air pada tanah yang dalam. Pemberian air tambahan diperlukan selama dua tahun pertama pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan pada bagian tanaman yang tidak subur dan tidak produktif. Pemangkasan cabang dilakukan terhadap pohon nangka yang bertajuk rimbun agar sinar matahari tidak terhalangi sehingga merangsang perbungaan. Pemangkasan dibatasi pada penjarangan pucuk ketika pohon mulai ditanam dan sedikit pemotongan dahan-dahan yang mengandung buah agar memudahkan mencapai buah untuk dibungkus dan kemudian dipanen. Pemangkasan cabang dimaksudkan untuk mengatur pembuahan, karena bunga betina muncul pada batang utama atau cabang primer. Perangsangan pembungaan dilakukan dengan cara melukai, mengebor/mengikat batang. Tujuan perlakuan untuk menghambat hasil asimilasi daun agar tidak meyebar ke seluruh bagian tanaman, melainkan untuk merangsang pembungaan. Agar buah nangka hasilnya baik dan besar, lakukan penjarangan buah. Buah yang mulai membesar bungkuslah dengan kantong/kertas semen yang sudah dicelupakan ke dalam larutan insektisida. Bisa juga dibungkus dengan anyaman dedaunan, misalnya menggunakan daun-daun palem atau anyaman kelapa. Tindakan ini dapat menghalangi serangan tikus atau kelelawar, dan memikat semut yang dapat mengusir serangga lain sehingga diperoleh buah yang kulitnya mulus dan cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama Dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat diaphania caesalis yaitu penggerek pucuk, membuat terowongan sampai ke kuncup, pucuk muda, dan buah. Pemotongan bagian yang terserang memutuskan daun hidupnya karena ulat-ulat ini akan menjadi pupa di dalam terowongan itu; buah dilindungi dengan dibungkus atau disemprot insektisida Thiodan 35 EC. Penggerak kulit batang; berupa ulat-ulat Indarbela tetraonis dan Batocera rufomaculata diberantas dengan mengasap lubang-lubang mereka/disemprot dengan insektisida sistemik yang mengandung bahan aktif karboril (Sevin 85 S). Kumbang-kumbang belalai (weevil) coklat yang menyerang kuncup, Ochyromera artocarpi, merupakan hama nangka yang khas. Tempayaknya (grubs) masuk ke dalam kuncup dan buah yang masih lunak, yang dewasa memakan daun. Bagian tanaman yang terserang dihancurkan, dan diperlukan insektisida. Menyeruaknya kumbang bersayap selaput (spittle bug), Cosmoscarata relata, memakan daun muda. Nimfa hidup bersama-sama dalam suatu massa busa yang disekresi oleh mereka ; nimfa dipungut dan dihancurkan. Larva lalat buah , Dacus dorsalis dan D. umbrosus sering menyerang buah. Untuk menghindari serangannya, buah nangka hendaknya dibungkus; buah yang matang atau kelewat matang jangan dibiarkan bergeletakkan di tanah, tetapi hendaknya dikubur-kubur dalam, dan penyemnprotan pada umpan dapat dilakukan. Hama-hama lainnya adalah bermacam-macam serangga pengisap, seperti kutu tepung, afid, lalat putih, dan ‘thrips’, juga ulat perekat daun (leaf webber). Hama nangka yang lain adalah kepik Helopeltis (Miridae,Hemiptera). Nimfa dan kepik dewasa menghisap cairan bagian tanaman yang masih muda (daun dan buah). Ukuran telurnya 1,5 m, diletakkan dengan cara ditusukkan pada jaringan tanaman. Masa inkubasi 5-7 hari. Nimfa dan kepik dewasa warnanya bervariasi, hijau atau kuning-kehitaman dan kuning oranye. Mengalami 5 kali masa instar. Kepik dewasa panjangnya berkisar 6,5-7,5 mm dengan kemampuan bertelur sampai 18 butir. Beberapa musuh alami diantaranya yang berupa parasit adalah Euphorus helopeltis, Erythmelus helopeltis dan sebagai predator adalah Sycanus leucomesus, Isyndrus sp. dan Cosmolestes picticeps. Untuk pengendaliannya populasi biasanya terkendali oleh musuh alam apabila populasi tinggi dapat dilakukan dengan insektisida misal Lannate 25 WP, Atabron 50EC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri mati bujang (Erwinia carotovora) sering menyerang pohon nangka, juga cempedak. Jamur tersebut pertama kali menyerang bagian pucuk dan turun pada tajuk berikutnya. serangan yang hebat dapat mematikan pohonnya. Di India dilaporakan serangan busuk akar dan busuk batang dilakukan oleh jamur Rhizopus artocarpi yang menyebabkan keruguian tanaman hingga 15-30 %. Jamur ini umunya meyerang tunas bunga. Beberapa penyakit yang cukup penting antara lkain Colletotrichum lagenarium, Phomopsis artocarpina, Septoria artocarpi, dan Corticium salmonicolor. Jamur tersebut kebanyakan menyerang pada musim penghujan. Pemotongan bagian tanaman yang terserang akan banyak membantun mengatasi serangan, di samping itu sanitasi kebun dan pemupukan dapat meningkatkan kesehatan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematangan buah ditentukan melalui kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Apabila buah tersebut dipukul-pukul dengan benda (misalnya punggung pisau) akan berbuyi nyaring.&lt;br /&gt;  2. Perubahan warna kulit buahnya dari hijau pucat ke kuning kehijau-hijauan atau kecoklat-coklatan.&lt;br /&gt;  3. Mengeluarkan bau yang khas atau aromanya harum.&lt;br /&gt;  4. Durinya mulai lunak dan jarak satu duri dengan duri lainnya semakin lebar&lt;br /&gt;  5. Kulit buah terlihat seperti akan pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemetikan buah nangka matang ialah gagangnya dipotong dengan pisau tajam dan buah nangka itu diturunkan dengan hati-hati. Pohon nangka yang berbuah besar berbuah pada umur 5-10 tahun sedangkan nangka mini pada umur 1,5-2 tahun. Pada umumnya buah masak setelah 8 bulan sejak bunganya muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur maksimum produksi buah 20-30 tahun, sesudah itu harus diremajakan. Hasil buah per tahun per pohon beragam umumnya berkisar 8-12 buah / pohon / tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah nangka dikumpulkan oleh pemborong atau dibawa langsung ke pasar dan dijual ke pedagang eceran atau dibelah dan dilepas satu-satu untuk dijual langsung ke konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyimpanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging buah nagka yang tebal itu seringkali diekstrak, dibersihkan, dan dijual dalam keadaan ekstrak segar. Jika persediaan melimpah, buah nangka diawetkan, caranya ialah: daging buah dipisahkan dari bijinya, kemudian dicuci, dipipihkan, dan dijemur ditambah gula atau sirop, atau tanpa diberi apa-apa. Hasil olahan ini dijual sebagai kue kering. Di semenanjung Malaysia dilakukan pengalengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Penanganan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging buah nangka digunakan untuk mengharumkan es krim dan minuman/dijadikan madu nangka, konsentrat, atau tepung dan dimanfaatkan dalam pembuatan minuman. Biji nangka bisa dibuat tepung biji nangka yang dicampurkan ke dlam tepung gandum untuk pembuatan roti. Penggunaan tepung biji nangka sebagai bahan substitusi sebagian tepung terigu dalam pembuatan cookies dan BMC (Bahan Makanan Campuran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8701429938341752084?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8701429938341752084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8701429938341752084&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8701429938341752084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8701429938341752084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-nangka-artocarpus.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Nangka ( Artocarpus Heterophyllus Lamk )&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5vJOm95yI/AAAAAAAAANk/xAYBtu9qnJM/s72-c/nangka.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-760859468994075616</id><published>2009-01-27T09:05:00.000+07:00</published><updated>2009-01-27T09:10:24.835+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Tanaman Nilam  (Progestemon Cablin Benth) </title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5s4nj5hAI/AAAAAAAAANc/oM4BgqZUfaE/s1600-h/tanaman_79NIlam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 184px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5s4nj5hAI/AAAAAAAAANc/oM4BgqZUfaE/s200/tanaman_79NIlam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295789931782308866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanaman Nilam ( Progestemon Cablin Bent ) yaitu kelompok tanaman penghasil minyak atsiri, mempunyai prospek yang baik karena di samping harganya tinggi, juga sampai saat ini minyaknya belum dapat dibuat dalam bentuk sintesis.&lt;br /&gt;• Kebutuhan dunia akan minyak atsiri yang berasal dari tanaman nilam saat ini berkisar 600 – 800 ton/tahun.Sebagian besar kebutuhan ini disuplai dari Indonesia.&lt;br /&gt;• Minyak nilam oleh Negara konsumen digunakan sebagaii bahan pengikat dalam industri minyak wangi (parfum) atau dalam industri kosmetik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;II. JENIS-JENIS NILAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pogostemon Cablin Benth&lt;br /&gt;Disebut nilam Aceh, jarang berbunga, kandungan minyak tinggi, bekadar 2,5 – 5 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pogostemon Heynecnus Benth&lt;br /&gt;Disebut nilam jawa atau nilam hutan, dapat berbunga, kandungan minyaknya 0,5 -1,5 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pogostemon Hortensis BACKER Bent&lt;br /&gt;Jenis ini hanya tumbuh di daerah Banten, bentuknya mirip dengan Nilam Jawa, kandungan minyak rendah yaitu 0,5 – 1,5 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tumbuh baik di dataran rendah dan berproduksi tinggi pada ketinggian 10 – 400 m dpl.&lt;br /&gt;• Menghendaki tanah yang subur, cukup humus, tanah yang mengandung bahan organic memberikan hasil yang paling baik.&lt;br /&gt;• Memerlukan penyinaran matahari yang cukup.&lt;br /&gt;• Curah hujan yang dikehedaki berkisar 2.500 – 3.500 mm/tahun, dengan suhu 24 -28º C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. CARA BERCOCOK TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bibit&lt;br /&gt;• Stek cabang, pada stek ini harus ada 3 mata tunas atau 3 helai daun dan stek batang, harus ada 3-5 mata tunas.&lt;br /&gt;• Bahan stek terpilh terlebih dahulu disemai dalam bedengan dengan jarak 10 X 10 cm atau 5 X 5 cm dan ditanam miring 45º kedalam tanah yang telah disiapkan dengan perbandingan 1 : 2. Setelah 3-4 minggu stek mulai tumbuh, kemudian dipindahkan ke kebun yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;• Bahan stek terpilih dapat juga langsung disemaikan di dalam Polybag yang telah diisi campuran tanah dan pupuk kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persiapan lahan&lt;br /&gt;• Persiapan lahan dilakukan dalam bentuk pengolahan tanah. Tanah harus bersih dari rumput, kemudian dicangkul/ dibajak dan dibuat parit-parit pembuangan dengan lebar 30 – 40 cm dan kedalaman 50 cm&lt;br /&gt;• Pada areal dengan kemiringan 20º-30º dilakukan menurut arah melintang lereng (countour), dibuat teras tangga.&lt;br /&gt;• Pada areal bergelombang dibuat teras berdasarkan lebarnya dan diberi pohon pelindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jarak tanam&lt;br /&gt;• Dataran rendah dan subur jarak tanam 100 x 100 cm, kandungan litany tinggi jarak tanam 50 x 100 cm.&lt;br /&gt;• Pada tanah liparite jarak tanamnya 75 x 75 cm.&lt;br /&gt;• Pada tanah berbukit mengikuti countour 50 x 100 cm atau 30 x 100 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penanaman&lt;br /&gt;Dilakukan pada awal musim hujan. Sebelum bibit ditanam terlebih dahulu dibuat lubang tanam dengan tugal atau mencangkul lubang dengan kedalaman 10 cm dengan memperhatikan agar bibiot berdiri dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemeliharaan&lt;br /&gt;a. Penyulaman&lt;br /&gt;Dilakukan pada tanaman yang mati atau tertekan pertumbuhannya. Penyulaman dilakukan satu bulan setelah tanam&lt;br /&gt;b. Penyiangan&lt;br /&gt;Setelah tanaman berumur 2 bulan, tanaman akan mencapai 20 -30 cm dan telah bercabang. Pada saat ini perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan selanjutnya dilakukan secara periodik yaitu setelah 3 bulan sekali.&lt;br /&gt;c. Pemangkasan&lt;br /&gt;Setelah tanaman berumur 3 bulan, tanaman nilam tumbuh dengan sempurna telah membentuk perdu yang rimbun dan cabang - cabang telah mencapai panjang 30 cm yang menyebabkan setiap cabang saling bertautan dan menutupi. Dalam keadaan demikian dilakukan pemangkasan dan penjarangan.&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan pada cabang dari tingkat 3 keatas.&lt;br /&gt;d. Pemupukan&lt;br /&gt;- Pupuk organic (pupuk kandang, kompos ataiu pupuk hijau) yang cukup masak.&lt;br /&gt;- Pupuk an organik (urea, TSP, KCL) dengan dosis 150 Kgn urea, 50 kg TSP dan 80 kg KCL.&lt;br /&gt;- 1 bulan setelah tanaman pupuk urea, TSP, KCL diberikan ¼ dosis sedangkan sisanya ¾ dosis dilakukan setelah panen I dan II (masing-masing setengah dosisi yang tersisa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. PANEN&lt;br /&gt;1. Waktu Panen&lt;br /&gt;Umur nilam yang tepat untuk dipanen 6 – 8 bulan setelah tanam. Panen dapat dilakukan berulang-ulang tergantung pada keadaan tanaman dan kesuburan tanah. Panen selanjutnya dapat dilakukan setelah 3 – 5 bulan setelah panen pertama. Setiap setelah panen tanaman harus dibumbun serta dilakukan pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cara Panen&lt;br /&gt;• Pada panen pertama bagian yang boleh dipangkas adlah cabang-cabang dari tingkat dua keatas, cabang tingkat pertama ditinggalkan.&lt;br /&gt;• Cabang tingkat pertama (cabang yang dekat dengan tanah) dibumbun/ditimbun dengan tanah pada setiap tunasnya. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak anakan tanaman sehingga membentuk satu rumpun yang padat.&lt;br /&gt;• Tiga bulan kemudian ( umur tanaman sembilan bulan) akan didapat rumpun-rumpun baru dimana pada bekas pangkasan akan tumbuh cabang-cabang baru dan pada setiap pada mata tunas yang dibumbun akan tumbuh  anakan. Pada keadaan demikian dapat dilakukan pqanen kedua dengan memangkas cabang dan ranting dari tngkat kedua keatas. 3 bulan kemudian dapat dilakukan panen selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-760859468994075616?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/760859468994075616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=760859468994075616&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/760859468994075616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/760859468994075616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-tanaman-nilam-progestemon_26.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Tanaman Nilam  (Progestemon Cablin Benth) &lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SX5s4nj5hAI/AAAAAAAAANc/oM4BgqZUfaE/s72-c/tanaman_79NIlam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-3607959708733919167</id><published>2009-01-21T12:05:00.000+07:00</published><updated>2009-01-21T12:28:29.282+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Tanaman Lada Panjat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXawMomKMDI/AAAAAAAAANM/psdy_jazmAY/s1600-h/LADA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 119px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXawMomKMDI/AAAAAAAAANM/psdy_jazmAY/s200/LADA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293612143122985010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lada terutama bijinya, sudah dikenal sejak jaman dahulu kala. Theoprastus dari Yunani (372 – 387 SM) sudah mengenal dua jenis Lada yaitu Piper nigrum (Lada Hitam) dan Piper longum. Tahun 600 – 1500 para pedagang Arab mengangkut biji Lada dari pantai Malabar di India. Hubungan perdagang lada antara Jawa dan Cina tercatat mulai tahun 1500, dan bangsa-bangsa Eropah antara lain Inggris, Spanyol, Portugis dan Belanda menjajah bangsa-bangsa di Asia termasuk Indonesia antara lain disebabkan oleh komoditi rempah dan obat termasuk Lada.&lt;br /&gt;Di Indonesia pada masa penjajahan Belanda tanaman Lada pernah menjadi komoditas ekspor utama, tercatat antara tahun 1930 – 1938 rata-rata ekspor Indonesia meliputi 50.000 ton per tahun. Pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 1980 s.d saat ini rata-rata ekspor pertahun hanya sekitar 30.000 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penghasil Lada di Indonesia antara lain Lampung, Bangka dan Kalimantan Barat. Untuk Jawa Barat sendiri, tanaman lada mulai diminati petani dan untuk mempercepat masa panen / produktif, saat ini sudah mulai sudah mulai diupayakan baik oleh BALITRO Bogor maupun penangkar bibit suatu jenis lada perdu yang berasal dari Lada Panjat dengan perlakuan khusus pada waktu pembibitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;• 10 - 12 genera (marga)&lt;br /&gt;• 1.400 species (jenis) antara lain :&lt;br /&gt;- Piper betle L (sirih/seureuh Sunda)&lt;br /&gt;- Piper cubeba (kemukus).&lt;br /&gt;- Piper retrofractum (cabe Jawa).&lt;br /&gt;• Varietas antara lain :&lt;br /&gt;- Varietas Jambi dan Lampung&lt;br /&gt;- Varietas Bulok Belantung&lt;br /&gt;- Varietas Muntok atau Bangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;• Elevasi :  Ketinggian berkisar dari 10 – 500 m dpl (dataran rendah).&lt;br /&gt;• Iklim  :  A, B dan C&lt;br /&gt;• Curah hujan :  di atas 2.000 mm per tahun.&lt;br /&gt;• Suhu  :  25º - 26,5º C.&lt;br /&gt;• Ketinggian air tanah :  relatif dalam (air tanah 0,5 M di bawah tanah terutama pada tanah gambut tidak ditolerir oleh tanaman Lada).&lt;br /&gt;• Jenis Tanah : &lt;br /&gt;- Laterit merah, Latosol coklat muda sampai coklat tua.&lt;br /&gt;- Tanah lempung yang mengandung pasir 20 - 45 % (clay loam).&lt;br /&gt;- Tanah lempung merah mengandung pasir &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-3607959708733919167?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/3607959708733919167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=3607959708733919167&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3607959708733919167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3607959708733919167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-tanaman-lada-panjat.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Tanaman Lada Panjat&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXawMomKMDI/AAAAAAAAANM/psdy_jazmAY/s72-c/LADA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-924178311925427138</id><published>2009-01-21T11:51:00.000+07:00</published><updated>2009-01-21T12:01:06.892+07:00</updated><title type='text'>Penetapan Lokasi Budidaya Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus Benth) yang Aman Terhadap Cemaran Logam Berat Timbal (Pb)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXar6Smjq_I/AAAAAAAAANE/O2wpW2dJnVE/s1600-h/kumis+kucing.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 84px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXar6Smjq_I/AAAAAAAAANE/O2wpW2dJnVE/s200/kumis+kucing.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293607429934918642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) merupakan tanaman obat yang banyak digunakan oleh masyarakat.Dewasa ini telah di diformulasi fitofarmaka kumis kucing dan daun seledri (Apii folia) sebagai anti hipertensi sehingga kebutuhan simplisiannya meningkat.Hingga saat ini simplisia daun kumis kucing diperoleh dari hasil budidaya dan sebagian masih dilakukan di pinggir jalan. Ini berimplikasi terhadap tanaman kumis kucing yang rawan kontaminasi cemaran logam berat(Pb) padahal pemanfaatan tanaman kumis kucing sebagai bahan obat tradisional harus memenuhi kaidah aman (safety) dan berkualitas (quality) agar tidak merugikan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logam berat timbale dihasilkan dari hasil pembakaran bahan baker bensin premium pada kendaraan bermotor yang dikeluarkan berbentuk asap ke udara, kemudianpartikel-partikel tersebut menempel di atas permukaan daun dan melalui stomata ada sebagian yang ikut masuk dalam tubuh tanaman obat dan menjadi residu. Apabila kandungan timbal dalam jaringan tanaman kumis kucing melebihi ambang batas, maka berbahaya bagi kesehatan manusia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dampak pencemaran logam timbale bagi manusia antara lain mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar,pertumbuhan kerdil, penurunan fungsi pendengaran, merusak fungsi organ tubuh, seperti ginjal, sistem syarat dan reproduksi, meningkatkan tekanan darah dan mempengaruhi perkembangan otak.Bagi wanita hamil cemaran logam berat Pb terakumulasi dalam ASI dan akan ditranslokasi ke anak yang disusuinya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian pengukuran kadar logam berat timbale (Pb) pada tanaman obat kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) di beberapa lokasi budidaya di sekitar sumber pencemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini dirancang dengan desain split plot(rancangan petak terbagi) dengan main plot(plot utama) kelas jalan meliputi jalan Negara, jalan Provinsi dan jalan kabupaten. Kemudian subplot adalah jarak budidaya tanaman kumis kucing dari sumber pencemar (jalan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat beban jalan bukan merupakan satu-satunya faktor penentu tingkat pencemaran, namun merupakan faktor potensial pada budidaya tanaman obat kumis kucing di sekitar sumber pencemar, di samping faktor lain yang berpengaruh yaitu arah dan kekuatan angina, iklim dan penghalang angina. Untuk lokasi budidaya tanaman kumis kucing yang dianggap aman dari cemaran logam berat timbale (Pb) sehingga dihasilkan simplisasia yang terjamin keamanan (safety) dan kualitasnya (quality). Disamping itu budidaya tanaman obat kumis kucing akan lebih baik jika di kelilingi oleh tanaman lain yang bersifat fitoremediasi (tanaman berkemampuan menyerap polutan tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-924178311925427138?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/924178311925427138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=924178311925427138&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/924178311925427138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/924178311925427138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/penetapan-lokasi-budidaya-tanaman-kumis.html' title='&lt;center&gt;Penetapan Lokasi Budidaya Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus Benth) yang Aman Terhadap Cemaran Logam Berat Timbal (Pb)&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXar6Smjq_I/AAAAAAAAANE/O2wpW2dJnVE/s72-c/kumis+kucing.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-5391008630241743785</id><published>2009-01-21T11:36:00.000+07:00</published><updated>2009-01-21T11:46:42.297+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Tanaman Porang (Amarphopallus oncophilus)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXaoY8DRlHI/AAAAAAAAAM8/dEa42wJjdMc/s1600-h/porang.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 123px; height: 92px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXaoY8DRlHI/AAAAAAAAAM8/dEa42wJjdMc/s200/porang.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293603558410785906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Porang adalah tanaman daerah tropis yang termasuk family iles-iles. Tanaman ini mempunyai umbi yang kandungan Glucomanan-nya cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Morfologi Porang&lt;br /&gt;Tanaman Porang merupakan tumbuhan herba dan menchun. Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil/katak berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman Porang. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia tanaman Porang dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya disebut acung atau acoan oray (Sunda), Kajrong (Nganjuk) dll. Banyak jenis tanaman yang sangat mirip dengan Porang yaitu diantaranya: Suweg, Iles-iles dan Walur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat - syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keadaan Iklim&lt;br /&gt;Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 - 600 M dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keadaan Tanah&lt;br /&gt;Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur / subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 - 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kondisi Lingkungan&lt;br /&gt;Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain - lain, yang pokok ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Perkembangbiakan Porang&lt;br /&gt;Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu anatara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perkembangbiakan dengan Katak&lt;br /&gt;Dalam 1 kg Katak berisi sekitar 100 butir katak. Katak ini pada masa panen dikumpulkan kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkembangbiakan dengan Biji / Buah&lt;br /&gt;Tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perkembangbiakan dengan Unbi&lt;br /&gt;- Dengan umbi yang kecil, ini diperoleh dari hasil pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit.&lt;br /&gt;- Dengan umbi yang besar, ini dilakukan dengan cara umbi yang besar tersebut dipecah-pecah sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah di siapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Budidaya Porang di Perum Perhutani&lt;br /&gt;Budidaya Porang telah dilaksanakan di dalam kawasan hutan Perum Perhutani Unit II Jawa Timur seluas 1605,3 Ha, yang meliputi beberapa wilayah KPH sebagai berikut:&lt;br /&gt;No KPH Luas (Ha)&lt;br /&gt;1 Jember         121,3&lt;br /&gt;2 Nganjuk        759,8&lt;br /&gt;3 Padangan         3,9&lt;br /&gt;4 Saradan        615,0&lt;br /&gt;5 Bojonegoro      35,3&lt;br /&gt;6 Madiun          70,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Manfaat Porang&lt;br /&gt;Manfaat Porang banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat Glucomanan yang ada di dalamnya. Adapun manfaat unbi Porang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bahan lem&lt;br /&gt;2. Juli&lt;br /&gt;3. Mie&lt;br /&gt;4. Conyaku/tahu&lt;br /&gt;5. Felem&lt;br /&gt;6. Perekat tablet&lt;br /&gt;7. Pembungkus kapsul&lt;br /&gt;8. Penguat kertas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pemasaran&lt;br /&gt;Pangsa pasar umbi Porang mencakup pasar luar negeri dan dalam negeri.&lt;br /&gt;1. Untuk pangsa pasar dalam negeri;&lt;br /&gt;umbi Porang digunakan sebagai bahan mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar.&lt;br /&gt;2. Untuk pangsa pasar luar negeri;&lt;br /&gt;masih sangat terbuka yaitu terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa.&lt;br /&gt;Produk dipasarkan oleh LMDH binaan Perum Perhutani dalam bentuk unbi basah dan umbi kering&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-5391008630241743785?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/5391008630241743785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=5391008630241743785&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5391008630241743785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5391008630241743785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-tanaman-porang-amarphopallus.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Tanaman Porang (Amarphopallus oncophilus)&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXaoY8DRlHI/AAAAAAAAAM8/dEa42wJjdMc/s72-c/porang.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-7981650747808793439</id><published>2009-01-21T10:34:00.000+07:00</published><updated>2009-01-21T11:33:06.943+07:00</updated><title type='text'>Budidaya  Tanaman  Kencur   ( Kaempferia galanga L. ) </title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXai2w4Ky4I/AAAAAAAAAM0/EicH1PMy7k4/s1600-h/kencur.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 99px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXai2w4Ky4I/AAAAAAAAAM0/EicH1PMy7k4/s200/kencur.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293597473737722754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Kencur ( kaempferia galanga L. ) termasuk kedalam famili jahe-jahean Zingiberaceae yang merupakan tumbuhan asli India dengan daerah penyebaran meliputi kawasan Asia Tenggara dan Cina.&lt;br /&gt;Sifat dan bentuk tanaman yaitu berbatang semu, jumlah daun 2-3 helai, warna bunga putih, umbi berwarna kuning kecoklatan dan banyak mengandung air. Komposisi umbi terdiri dari pati 4,14%, mineral sebanyak 13,73% serta minyak atsiri  2,4-3,9% yang terdiri dari cineol, asam methyl, aldehide, ethyl, ester dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manfaat rimpang kencur sebagai bumbu penyedap juga sebagai obat tradisional, oleh karenanya banyak petani yang mengusahakan di pekarangan maupun di tegalan baik secara monolkultur ataupun secara tympang sari, sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani.&lt;br /&gt;Pada saat ini kencur banyak dalam industri rokok, jamu dan kosmetika dengan perkiraan kebutuhan dalam negeri untuk ketiga komponen tersebut sebesar 10 ton cip kencur kering atau setara dengan 100 ton rimpang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;- Tinggi tempat         : 50 m – 1.000 m dpl.&lt;br /&gt;- Intensitas cahaya : Sedikit terlindung dari sinar matahari lansung&lt;br /&gt;- Curah hujan   : 2.500 – 4.000 mm / tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Tanah&lt;br /&gt;- Jenis tanah  : Lempung berpasir, lempung berliat.&lt;br /&gt;- Struktur  : Remah dan kaya humus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. BERCOCOK TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Klon Anjuran&lt;br /&gt;- Jenis kencur berdaun sempit&lt;br /&gt;- Jenis kencur berdaun lebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pemilihan Bibit&lt;br /&gt;Berasal dari pohon yang sudah tua, cara memperoleh bibit ada 2 cara :&lt;br /&gt;a). Lansung tanam&lt;br /&gt;Rimpang segar setelah dipotong-potong sepanjang 4 Cm lansung ditanam dilapangan tanpa disimpan dulu.&lt;br /&gt;b). Ditunaskan dulu&lt;br /&gt;Rimpang setelah dipotong-potong 4 Cm disimpsn dalam gudang 1-2 minggu (sampai tunas bermunculan), ruang tempat penyimpanan harus kering,  tidak panas dan tidak terlindung. Rimpang dihamparkan (tidak bertumpuk) di atas rak kayu atau bambu. Bibit yang baik mempunyai 2-3 buah mata tunas.&lt;br /&gt;Keperluan bibit sekitar 1-2 ton / hektar dengan jarak tanam sekitar                20 X 15 Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Penyiapan Lahan&lt;br /&gt;- Tanah dibersihkan dari rerumputan lalu dicangkul 2 (dua) kali.&lt;br /&gt;- Dibuat bedengan sambil diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton/hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Penanaman&lt;br /&gt;- Penanaman pada awal musim hujan.&lt;br /&gt;- Jarak tanam 20 X 15 Cm, kecuali untuk tumpang sari 60 X 40 Cm.&lt;br /&gt;- Cara penanaman dengan meletakan bibit dicelup / dipping pada larutan anti biotik agrimyoin, sterptomyoin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Pemeliharaan&lt;br /&gt;- Penyiangan    &lt;br /&gt;Pada minggu ke II – IV setelah tanam atau tergantung keadaan.&lt;br /&gt;- Mulching &lt;br /&gt;Penutupan tanah bisa denngan jerami atau ampas perasan tebu.&lt;br /&gt;- Pemupukan &lt;br /&gt;Pada saat tanaman sudah membentuk daun sempurna (akhir minggu ke 4) dipupuk dengan pupuk Urea 75 Kg, TSP 200 Kg dan KCl 100 Kg dan pada saat tanaman berumur 3 bulan dipupuk dengan Urea sebanyak 75 Kg&lt;br /&gt;- Penggemburan tanah&lt;br /&gt;Dilakukan disekitar rumput pada umur 3 bulan bersamaan dengan   pemupukan ke II.&lt;br /&gt;- Hama dan Penyakit &lt;br /&gt;Hama pada tanaman kencur tidak banyak yang penting adalah  penyakit  busuk umbi oleh bakteri Pseudomonas sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. PANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Umur&lt;br /&gt;- Mulai dapat dipanen umur 6-8 bulan, dan dapat ditunda sampai musim berikutnya karena tidak akan ada efek buruk terhadap rimpang namun jika ditunda sampai musim berikutnya lagi kemungkinan rimpang akan membusuk dan kadar patinya menurun.&lt;br /&gt;- Panen sebaiknya dilakukan dalam waktu yang singkat.&lt;br /&gt;- Biasanya bila setelah cukup panen ditandai dengan daun menguning dan akhirnya gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2. Cara Panen&lt;br /&gt;- Membongkar seluruh rimpang dengan cangkul, garpu atau alat lainnya.&lt;br /&gt;- Mematahkan atau memotong rimpang bagian pinggir, sisa yang tertinggal dibiarkan tumbuh untuk musim tanam berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3. Produktivitas&lt;br /&gt;- Produksi rimpang bisa mencapai 6-10 ton /hektar.&lt;br /&gt;- Variasi produksi di pengaruhi oleh kesuburan tanah, jenis kencur dan pemeliharaan selama penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. PENGOLAHAN HASIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil lahan kencur bisa berupa  rimpang basah dan rimpang kering. Pada Pengolahan Rimpang basah, rimpang hanya dibersikan,  dikering anginkan, dikemas lalu diangkut.&lt;br /&gt;Pada pengolahan rimpang kering terdapat proses pengeringan, pencelupan dan pengeringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHASIAT TANAMAN KENCUR BAGI KESEHATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka industri farmasipun semakin berkembang seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang kian pesat.  Namun dalam keadaan krisis ekonomi saat ini tidak semua lapisan masyarakat mampu membeli produk farmasi yang dibutuhkan, oleh karena itu pengobatan dengan tanaman secara tradisional merupakan salah satu pilihan yang bijaksana.  Begitu banyak tanaman yang berfungsi sebagai tanaman obat-obatan salah satu diantaranya adalah tanaman kencur.&lt;br /&gt;Kencur termasuk ke dalam suku jahe-jahean (zingeberaceae) dengan nama ilmiah Kaempferia galanga L.  Aroma kencur sangat lembut dan khas sehingga mudah membedakan dengan jenis dari zingeberaceae yang lainnya.  Fungsi tanaman kencur selain sebagai penyedap makanan juga banyak digunakan dalam ramuan obat tradisional yang khasiatnya dapat mengobati berbagai macam penyakit, sehingga tidak heran apabila pabrik-pabrik pengolahan obat trasional banyak mempergunakan bahan baku kencur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. KHASIAT TANAMAN KENCUR&lt;br /&gt;Kencur dipergunakan untuk meramu obat-obatan tradisional yang sudah banyak diproduksi oleh pabrik-pabrik jamu maupun dibuat sendiri, selain itu rimpangnya bisa dijadikan obat tanpa diramu dengan tumbuhan lain ataupun diramu dengan campuran bahan lain. Secara garis besar khasiat tanaman kencur adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Expentorasia&lt;br /&gt;yaitu untuk menyembuhkan batuk dengan cara mengencerkan dahak serta memudahkan keluarnya dahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dinretioca&lt;br /&gt;yaitu untuk memperlancar proses pengeluaran urine (air kencing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Carminativa&lt;br /&gt;yaitu untuk membantu proses pengeluaran angin dari dalam perut akibat perut kembung / masuk angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Stimulansia&lt;br /&gt;yaitu untuk membangkitkan atau memberikan rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Protection&lt;br /&gt;yaitu untuk memberikan perlindungan pada pakaian atau buku dari gangguan serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. RESEP PEMBUATAN OBAT-OBATAN TRADISIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Batuk&lt;br /&gt;a. Rimpang kencur 1 jari (jangan dibuang kulitnya) dicuci bersih lalu  dikunyah halus-halus dengan sedikit garam kemudian ditelan dan disusul dengan minum air hangat dilakukan 2 kali sehari.&lt;br /&gt;b. Rimpang kencur 2 jari, bawang merah 8 butir, buah kapolaga 3 buah, buah kelengkeng 8 buah, daun kaki kuda 1/3 genggam, daun jinten ¼ genggam, rimpang jahe 1 jari. Semua bahan dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dalam air bersih 3 gelas, hingga setengahnya, kemudian beri madu murni 4 sendok makan. Diminum 3 kali sehari sebanyak ½ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masuk Angin&lt;br /&gt;a. Rimpang kencur ¾ jari, jahe ½ jari, tempurung ½ jari, gangle 1/3 jari, adas ½ sendok teh, gula aren secukupnya. Semua bahan kecuali gula aren dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya kemudian direbus dalam air bersih 4 gelas hingga tersisa 3 gelas. Diminum 3 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;b. Rimpang kencur ½ jari, dicuci bersih, dikunyah dengan garam secukupnya sesudah halus lalu ditelan disusul dengan minum air hangat 2 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Muntah – Muntah&lt;br /&gt;a. Rimpang kencur 1 jari dicuci bersih lalu diparut dan dicampur dengan garam   sedikit, airnya disaring dan diminum 1-2 kali sehari.&lt;br /&gt;b. Rimpang kencur 1 jari, buah kapulaga 3 buah, jintan ¾ sendok teh, adas ¾ sendok teh. Bahan semua dicuci lalu ditumbuk seperlunya dan direbus dengan air bersih 2 gelas hingga tinggal ¾ nya kemudian ditambah gula aren secukupnya, setelah dingin diminum 1-2 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tetanus&lt;br /&gt;Rimpang kencur 1 jari, putik mengkudu 15 buah, rimpang lengkuas ¾ jari, lempuyang ½ jari, temulawak ¾ jari, jahe ½ jari, bangle ½ jari. Semua bahan dicuci dan dipotong-potong seperlunya lalu direbus dengan air bersih 4 gelas hingga tinggal ¾ nya setelah dingin disaring lalu diminum 3 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Radang Lambung&lt;br /&gt;Rimpang kencur 1 jari, putik mengkudu 15 buah, rimpang lengkuas ¾ jari, lempuyang ½ jari, temulawak ¾ jari, jahe ½ jari, bangle ½ jari. Semua bahan dicuci dipotong seperlunya lalu direbus dengan air 4 ½ gelas hingga menjadi ½ nya, setelah dingin disaring lalu diminum 3 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mulas&lt;br /&gt;Rimpang kencur 1 jari daun saga 1/5 genggam, bangle ½ jari, kapulaga 2 buah, asam trenggali 2 jari, cengkeh 10 kuntum, adas ½ sendok teh, pulosari ¾ jari daun sena ½ genggam. Semua bahan dicuci dan dipotong-potong lalu ditumbuk dan direbus dengan air 4 gelas hingga ¾ bagiannya, kemudian setelah dingin disaring dan diminum 2-3 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Keracunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Keracunan jamur&lt;br /&gt;Kencur 1 jari, sambiloto 1/3 genggam, daun jinten ¼ genggam. Bahan   ditumbuk halus dan diberi air bersih ¾ gelas, lalu diperas dan disaring kemudian diminum 2-3 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Keracunan udang&lt;br /&gt;Kencur ¾ jari, daun bidara laut ¼ genggam, daun kaki kuda 1/3 genggam, gula aren secukupnya. Bahan-bahan kecuali gula aren dicuci dipotong-potong lalu direbus dengan air bersih 2 gelas hingga tinggal ¾ nya, kemudian diminum 1-2 kali sehari ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Keracunan Tempe Bongkrek&lt;br /&gt;Rimpang kencur ¾ jari, daun gidana laut ¼ genggam, daun kaki kuda ¼ genggam, daun jinten ¼ genggam, gula aren secukupnya. Kemudian setelah bahan dicuci direbus dengan air 2 gelas hingga menjadi ¾ nya kemudian diminum 1-2 kali sehari, sekali minum ¾ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Luka Berdarah/Bernanah dan Borok&lt;br /&gt;Kencur 2 jari lalu dicuci dan diparut dan dicampur air 4 sendok makan lalu air perasannya diteteskan pada luka atau dapat digunakan untuk mencuci pada luka bernanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Keramas&lt;br /&gt;Untuk menyuburkan rambut bisa dengan mencuci 15 lembar daun kencur lalu ditumbuk dan dicampur 2 gelas air, dan air perasannya bisa untuk mencuci rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Beras Kencur&lt;br /&gt;Beras ½ genggam (disangrai, dicor air panas ¼ jam, tiriskan), kencur ½ genggam (diungkep), lempuyang, jahe, kunyit, asam masing-masing 1 jempol (dibakar dan diseduh air panas), gula aren 1 jari (dicairkan), cabe jawa 3 buah (direndam air panas), kedawung 3 biji, kayu manis sepotong, cengkeh, kapulaga masing-masing 3 buah lalu disngrai. Setelah siap bahan lalu ditumbuk halus dan diberi air hangat sedikit demi sedikit lalu peras dan saring baru campurkan gula aren cair dan asem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-7981650747808793439?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/7981650747808793439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=7981650747808793439&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7981650747808793439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7981650747808793439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-tanaman-kencur-kaempferia.html' title='&lt;center&gt;Budidaya  Tanaman  Kencur   ( Kaempferia galanga L. ) &lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SXai2w4Ky4I/AAAAAAAAAM0/EicH1PMy7k4/s72-c/kencur.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8808163392119468555</id><published>2009-01-14T15:17:00.000+07:00</published><updated>2009-01-14T15:21:07.087+07:00</updated><title type='text'>Jati (Tectona Grandis)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2gS4yRJdI/AAAAAAAAAMs/91pNHDWvoVs/s1600-h/jati.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2gS4yRJdI/AAAAAAAAAMs/91pNHDWvoVs/s200/jati.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291061383571514834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jati (Tectona grandis L.F) termasuk family Verbenaceae mempunyai banyak keunggulan dalam penggunaan kayunya. Namun dalam pembudidayaannya secara generatif jati (Tectona grandis L.F) memiliki kendala antara lain dikarenakan biji jati tergolong dalam benih dorman. Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakan pada keadaan secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan (Sutopo, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang menjadi pembatas adalah presentase daya kecambah benih jati tergolong rendah yaitu antara 35-85 % (Khaerudin, 1994). Untuk alasan tersebut maka benih jati memerlukan perlakuan khusus untuk memecahkan dormansi atau sekurangkurangnya lama dormansi dapat dipersingkat. Permudaan tanaman jati secara vegetatif perlu diterapkan sebagai alternatif lain dalam pembudidayaan tanaman jati untuk mengurangi ketergantungan terhadap benih mengingat kebutuhan akan kayu jati yang memiliki nilai dekoratif lebih dan serba guna, dimanfaatkan antara lain untuk bangunan, vinir mewah, perkakas/mebel, tiang listrik, telepon, serta kegunaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Keadaan Botani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jati (Tectona grandis L.F) termasuk kelompok tumbuhan yang dapat menggugurkan daunnya sebagai mekanisme pengendalian diri terhadap keadaan defisiensi air selama musim kemarau. Jati digolongkan dalam family Verbenacea. Daerah penyebaran tumbuhan ini meliputi India, Birma, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia tanaman ini tumbuh di pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Bara (Sumbawa), Maluku dan Lampung. Nama daerah untuk kayu ini adalah Jahe, Jatos, Kulidawa (Jawa), Kianti, Dodolan. Jati tergolong jenis kayu berdaun lebar dengan bentuk batang umumnya bulat dan lurus dengan percabangan yang tinggi, warna kulit agak kelabu muda, agak tipis beralur memanjang agak dalam. Tinggi pohon dapat mencapai 45 m dengan panjang batang bebas cabang 15-20 m, diameternya mencapai 220 cm (Khaerudin, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk tajuk tidak beraturan, berbentuk kubah dan agak lebar. Tergolong dalam jenis intoleran yaitu dalam pertumbuhannya jati memerlukan cahaya penuh, tidak tahan terhadap naungan. Daun berukuran lebar dan sedikit berbulu (Atmosuseno, 1995). Tanaman jati berbunga antara bulan Oktober – Juni kemudian buah masak pada bulan Juli – Desember. Dalam tiap kg biji kering mengandung 1.500 butir atau 416 butir per liter (Khaerudin, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Khaerudin (1994), kayu jati termasuk kelas kuat I dan kelas awet II dengan berat jenis rata-rata 0,70 sehingga cocok untuk berbagai keperluan pertukangan. Pemanfaatan kayu jati pada insdustri kayu lapis digunakan sebagai vinir muka karena memiliki serat gambar yang indah. Tetapi karena sifatnya yang mudah pecah kayu ini kurang cocok untuk digunakan sebagai bahan yang memerlukan kekenyalan tinggi seperti alat olah raga dan peti pengepak (Atmosuseno, 1995). Daun jati dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, bahan pewarna tikar atau masakan (Sugiarto, 1996).&lt;br /&gt;Pada waktu muda jati mempunyai akar tunggal yang tumbuh cepat dan dalam dengan akar-akar permukaan yang banyak. Tetapi akar tunggal ini segera bercabang sehingga merupakan berkas-berkas akar yang mendalam (Anonim, 1976). Bunga berbentuk corong berwarna putih atau agak merah muda. Buah bulat atau berujung runcing dengan empat ruang berisi biji (Sugiarto, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keadaan Ekologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tectona grandis L.F tumbuhnya paling baik di daerah-daerah rendah dan panas di pulau Jawa teutama pada tanah-tanah rendah dan berbukit-bukit, sifatnya agak kurus, dan kurang air, yang terdiri dari formasi tua kapur dan mengalit. Pula terdapat pada tanah-tanah vulkanis muda (Anonim, 1976).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu tanaman ini juga tumbuh di daerah yang memiliki musim kering yang nyata (3-5 bulan kering), curah hujan rata-rata 1.250 – 2.500 mm/tahun dengan ketinggian kurang dari 700 m dpl dan temperatur rata-rata 22-26oC (Khaerudin, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif dengan Stek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu perbanyakan tanaman secara Vegetatif, stek menjadi alternatif yang banyak dipilih orang karena caranya sederhana, tidak memerlukan teknik yang rumit sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Wudianto (1988) mendefinisikan stek sebagai suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian tanaman (akar, batang, daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. Dengan dasar itu maka muncullah istilah stek akar, stek batang, stek daun, dan sebagainya. Definisi lain dari stek adalah salah satu cara pembiakan tanaman tanpa melalui proses penyerbukan (generatif) tetapi dengan jalan pemotongan batang, cabang, akar muda, pucuk, atau daun dan menumbuhkannya dalam media padat atau cair sebelum dilakukan penyapihan (Anonim, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman yang dihasilkan dari stek biasanya mempunyai sifat persamaan dalam umur, ukuran tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan sifat-sifat lainnya. Selain itu kita juga memperoleh tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang mempunyai akar, batang, dan daun yang relatif singkat (Wudianto, 1988). Stek batang adalah tipe stek yang paling umum dipakai dalam bidang kehutanan. Stek batang didefinisikan sebagai pembiakkan tanaman dengan menggunakan bagian batang yang dipisahkan dari induknya, sehingga menghasilkan tanaman yang sempurna. Menurut Yasman dan Smits (1988), stek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;batang ini sebaiknya diambil dari bagian tanaman ortotrof sehingga diharapkan dapat membentuk suatu batang yang pokok dan lurus keatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan dari stek batang adalah pembiakkan ini lebih efisien jika dibandingkan dengan cara lain karena cepat tumbuh dan penyediaan bibit dapat dilakukan dalam jumlah yang besar. Sedangkan kesulitan yang dihadapi adalah selang waktu penyimpanan relatif pendek antara pengambilan dan penanaman (Wudianto, 1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sumber bahan vegetatif haruslah dicari atau dipilih pohon-pohon unggul dengan produksi tinggi, tahan hama dan penyakit serta mudah penanamannya, sedangkan yang berkaitan dengan persiapan bahan stek, Yasman dan Smits (1988) menerangkan pemotongan bagian pangkal stek sebaiknya 1 cm dibawah buku (node) karena sifat anatomis dan penimbunan karbohidrat yang banyak pada buku tersebut adalah lebih baik untuk perakaran stek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya akar pada stek merupakan indikasi keberhasilan dari stek. Adapun hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek adalah faktor lingkungan dan faktor dari dalam tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.Faktor Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek yaitu: media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya (Hartman, 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal stek. Media perakaran yang baik menurut Hartman (1983) adalah yang dapat memberikan aerasi dan kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak stek. Media perakaran stek yang biasa dipergunakan adalah tanah, pasir, campuran gambut dan pasir, perlite dan Vermikulit. Suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21oC sampai 27oC pada pagi dan siang hari dan 15oC pada malam hari. Suhu yang terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.Faktor Dari Dalam Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi fisiologis tanamn mempengaruhi penyetekan adalah umur bahan stek, jenis tanaman, adanya tunas dan daun muda pada stek, persediaan bahan makanan, dan zat pengatur tumbuh (Kramer dan Kozlowzky, 1960)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Umur Bahan Stek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hartman (1983), stek yang berasal dari tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua, hal ini disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua jenis tanaman dapat dibiakkan dengan stek. Keberhasilan dengan cara stek bergantung pada kesanggupan jenis tersebut untuk berakar. Ada jenis yang mudah berakar dan ada yang sulit. Kandungan lignin yang tinggi dan kehadiran cincin sklerenkim yang kontinyu merupakan penghambat anatomi pada jenis-jenis sulit berakar, dengan cara menghalangi tempat munculnya adventif (Kramer, 1960).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Adanya Tunas dan Daun Pada Stek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tunas dan daun pada stek berperan penting bagi perakaran. Bila seluruh tunas dihilangkan maka pembentukan akar tidak terjadi sebab tunas berfungsi sebagai auksin. Selain itu, tunas menghasilkan suatu zat berupa auksin yang berperan dalam mendorong pembentukan akar yang dinamakan Rhizokalin (Boulenne dan Went, 1933 dalam Hartman, 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Persediaan Bahan Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haber (1957) persediaan bahan makanan sering dinyatakan dengan perbandingan antara persediaan karbohidrat dan nitrogen (C/N ratio). Ratio C/N yang tinggi sangat diperlukan untuk pembentukan akar stek yang diambil dari tanaman dengan C/N ratio yang tinggi akan berakar lebih cepat dan banyak dari pada tanaman dengan C/N ratio rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Zat pengatur Tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heddy (1991) hormon berasal dari bahasa Yunani yang artinya menggiatkan. Hormon pada tanaman menurut batasan adalah zat yang hanya dihasilkan oleh tanaman itu sendiri yang disebut fitohormon dan zat kimia sintetik yang dibuat oleh ahli kimia (Kusumo, 1984). Hormon tanaman (fitohormon) adalah “regulators” yang dihasilkan oleh tanaman sendiri dan pada kadar rendah mengatur proses fisiologis tanaman. Hormon biasanya mengalir di dalam tanaman dari tempat dihasilkannya ke tempat keaktifannya (Kusumo, 1984). Salah satu hormon tumbuh yang tidak lepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah auksin. Thimann (1973) dalam Kusumo (1984) berpendapat bahwa hubungan antara pertumbuhan dan kadar auksin adalah sama pada akar, batang dan tunas yaitu auksin merangsang pertumbuhan pada kadar rendah, sebaliknya menghambat pertumbuhan pada kadar tinggi. Kadar optimum hormon untuk pertumbuhan akar jauh lebih rendah kira-kira 1.100.000 dari kadar optimum untuk pertumbuhan batang (Kusumo, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat pengatur tumbuh Rootone-F termasuk dalam kelompok auksin. Secara teknis Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya (Soemarno, 1987 dalam Puttileihalat, 2001). Cara pemberian hormon pada stek batang dapat dilakukan dengan cara pemberian dengan perendaman, pencelupan dan tepung. Untuk metode perendaman, konsentrasi zat pengatur tumbuh bervariasi antara 20 ppm sampai 200 ppm tergantung kemampuan jenis tersebut berakar (Hartman, 1983). Dalam mengaplikasikan hormon perlu diperhatikan ketepatan dosis, karena jikalau dosis terlampau tinggi bukannya memacu pertumbuhan tanaman tetapi malah menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan keracunan pada seluruh jaringan tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8808163392119468555?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8808163392119468555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8808163392119468555&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8808163392119468555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8808163392119468555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/jati-tectona-grandis.html' title='&lt;center&gt;Jati (Tectona Grandis)&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2gS4yRJdI/AAAAAAAAAMs/91pNHDWvoVs/s72-c/jati.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-3133834916371892062</id><published>2009-01-14T15:08:00.000+07:00</published><updated>2009-01-14T15:12:48.399+07:00</updated><title type='text'>Kultur Jaringan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2eZHB4-OI/AAAAAAAAAMk/2S14bvfhutU/s1600-h/hasil+kutur.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2eZHB4-OI/AAAAAAAAAMk/2S14bvfhutU/s200/hasil+kutur.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291059291451095266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kultur jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Dasar Kultur Jaringan&lt;br /&gt;a. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Teknik Kultur Jaringan dalam Bidang Agronomi&lt;br /&gt;a. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).&lt;br /&gt;b. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus&lt;br /&gt;c. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen /Rekayasa Genetika Tanaman dll).&lt;br /&gt;d. Produksi metabolit sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Eksplan ,adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Media Tumbuh, Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media yang sering digunakan secara luas adalah MS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tabel 1. Komposisi media Murashige dan Skoog (MS)&lt;br /&gt;   Bahan Kimia Konsentrasi Media (mg/l)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. NH4NO3     1650&lt;br /&gt;   2. KNO3     1900&lt;br /&gt;   3. CaCL2.2H20     440&lt;br /&gt;   4. MgSO4.7H20    370&lt;br /&gt;   5. KH2PO4      170&lt;br /&gt;   6. FeSO4.7H20     27&lt;br /&gt;   7. NaEDTA        37,3&lt;br /&gt;   8. MnSO4.4H20      22,3&lt;br /&gt;   9. ZnSO4.7H2O       8,6&lt;br /&gt;   10. H3BO3        6,2&lt;br /&gt;   11. KI        0,83&lt;br /&gt;   12. Na2MoO4.2H20         0,25&lt;br /&gt;   13. CuSO4.5H20       0,025&lt;br /&gt;   14. CoCl2.6H20       0,025&lt;br /&gt;   15. Myoinositol     100&lt;br /&gt;   16. Niasin        0,5&lt;br /&gt;   17. Piridoksin-HCL       0,5&lt;br /&gt;   18. Tiamin -HCL       0,1&lt;br /&gt;   19. Glisin               2&lt;br /&gt;   20. Sukrosa  30.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman&lt;br /&gt;Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P, Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lingkungan Tumbuh&lt;br /&gt;Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan ukuran wadah kultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-3133834916371892062?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/3133834916371892062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=3133834916371892062&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3133834916371892062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3133834916371892062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/kultur-jaringan.html' title='&lt;center&gt;Kultur Jaringan&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SW2eZHB4-OI/AAAAAAAAAMk/2S14bvfhutU/s72-c/hasil+kutur.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-3414188713724076155</id><published>2009-01-07T01:22:00.000+07:00</published><updated>2009-01-07T01:34:27.145+07:00</updated><title type='text'>Budidaya  Tanaman  Melinjo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOjW4QkO1I/AAAAAAAAAMc/SrgvCsl1ue0/s1600-h/melinjo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOjW4QkO1I/AAAAAAAAAMc/SrgvCsl1ue0/s200/melinjo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288250000917412690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;A. PENDAHULUAN                                                                                                 &lt;br /&gt;Tanaman melinjo (Gnetum gnemon L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka, tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Tanaman melinjo dapat tumbuh mencapai 100 tahun lebih dan setiap panen raya mampu menghasilkan melinjo sebanyak 80 - 100 Kg, Bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;Tanaman melinjo dapat tumbuh pada tanah-tanah liat / lempung, berpasir dan berkapur, tetapi tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau yang berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh dari ketinggian  0 - 1.200 m  dpl.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;C. PENANAMAN&lt;br /&gt;Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan, okulasi, penyambungan dan stek).&lt;br /&gt;Lahan yang akan ditanami melinjo harus terbuka atau terkena sinar matahari, lubang tanam berukuran 60 X 60 X 75 cm (panjang, lebar, dalam) dengan jarak tanam 6 - 8 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;Pemeliharaan tanaman melinjo terdiri dari pemupukan, penyiraman, penyiangan, pemberantasan hama / penyakit dan pemangkasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemupukan&lt;br /&gt;Pemberian pupuk secara rutin akan menambah produksi, pupuk yang akan                         &lt;br /&gt;diberikan adalah pupuk organik (ppk.kandang) dan pupuk an organik. Pupuk                    &lt;br /&gt;kandang diberikan 2 kali dalam setahun terutama pada tanaman muda.                               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyiraman&lt;br /&gt;Tanaman pada umur muda perlu dilakukan penyiraman, terutama pada musim kemarau agar pertumbuhan tanaman baik. Penyiraman dengan banyak air setelah diberi pupuk kimia perlu dilakukan, agar pupuk segera diserap akar tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan perlu dilakukan agar gulma yang mengganggu hilang, terutama pada tanaman berumur muda, sebaliknya penyiangan dilakukan dengan pendamngiran agar udara bisa masuk kedalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemangkasan&lt;br /&gt;Manfaat dari pemangkasan cabang - cabang melinjo antara lain :&lt;br /&gt;• Percabangan menjadi banyak dan tanaman tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;• Daun muda serta bunga muda sebagai bahan sayuran akan tumbuh banyak.&lt;br /&gt;• Tanaman asal bibit cangkokan, pemangkasan dapat mencegah tumbangnya tanah.&lt;br /&gt;• Memudahkan perawatan dalam menghilangkan tanaman benalu, penyemprotan.&lt;br /&gt;• Mempermuda tanaman yang sudah tua.&lt;br /&gt;• Mempercepat tanaman berbunga/berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pengendalian Hama / Penyakit&lt;br /&gt;• Hama-hama yang diketemukan dalam tanaman melinjo masih belum begitu merugikan sehingga belum perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi. Apabila ada yang ingin mencegah serangan hama, maka dianjurkan menggunakan pestisida Demicron dengan dosis 1 - 2 gram per liter air.&lt;br /&gt;• Pengendalian hama yang efektif, yaitu untuk mencegah serangan hama melalui pengendalian secara mekanik, yaitu dengan cara memotong bagian tanaman yang terserang, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;• Penyakit - penyakit yang biasa menyerang adalah penyakit layu pembuluh bakteri, penyakit hawar daun bakteri dan penyakit hawar daun cendawan. Pengendalian penyakit layu pembuluh bakteri dapat dilakukan dengan cara eradikasi (membasmi) tanaman yang sakit, untuk encegah penyebarannya kita harus membersihkan alat - alat yang digunakan untuk menolong tanaman yang sakit, pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan dapat dilakukan dengan memusnah kan bagian tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-3414188713724076155?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/3414188713724076155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=3414188713724076155&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3414188713724076155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/3414188713724076155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-tanaman-melinjo.html' title='&lt;center&gt;Budidaya  Tanaman  Melinjo&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOjW4QkO1I/AAAAAAAAAMc/SrgvCsl1ue0/s72-c/melinjo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-2255829855852191220</id><published>2009-01-07T01:17:00.000+07:00</published><updated>2009-01-07T01:19:39.253+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Panili</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOglwHhDJI/AAAAAAAAAMU/OELh0UUivGc/s1600-h/2131.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOglwHhDJI/AAAAAAAAAMU/OELh0UUivGc/s200/2131.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288246957895126162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1. Umum&lt;br /&gt;Panili merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup potensial untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan pendapatan petani, kareana panili termasuk salah satu komoditi ekspor. Dalam pengembangannya sudah tentu harus memilih kondisi alam yang cocok, respon masyarakat / petani cukup baik, pemasaran mudah, disamping adanya mitra usaha. Syarat tumbuh tanaman panili adalah : Tinggi tempat 300 – 800 m di atas permukaan laut, Curah hujan 1.500 – 3.000 mm / tahun dengan Bulan Basah 9 – 10 Bulan / Tahun dan Bulan Kering 2 – 3 Bulan / Tahun. Intensitas cahaya 30 – 50 %, harus ada naungan dan kelembaban 0 – 80 %. Sedangkan Tanah gembur, subur / berhumus, drainase baik, tekstur berpasir pH Tanah : 5,5 – 6,5.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Cara Bercocok Tanam&lt;br /&gt;a. Bibit&lt;br /&gt;* Bibit harus dalam kantong plastik (polybag) yang berwarna hitam dengan ukuran 13 x 23 Cm atau 15 x 25 Cm.&lt;br /&gt;* Bibit panili berasal dari bibit unggul lokal, sehat (bebas hama dan penyakit), tinggi tanaman 30 – 50 Cm (4 – 6 helai daun).&lt;br /&gt;* Umur bibit 4 – 5 bulan, tanaman sudah cukup rimbun dan kuat untuk dipindah ke lapangan&lt;br /&gt;b. Persiapan Tiang Panjat&lt;br /&gt;Tiang panjat yang digunakan untuk tanaman panili sebaiknya yang berdaun tidak terlalu rapat, umumnya menggunakan tanaman dadap atau cebreng / gamal. Tanaman dadap tidak dianjurkan sebagai tiang panjat karena mengeluarkan zat alelopaty yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman pokok. Tinggi tanaman tiang panjat 1.5 m di atas permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Persiapan Tanaman&lt;br /&gt;* Lahan dibersihkan dari semak / alang - alang, tunggul pohon dan gulma&lt;br /&gt;* Pengolahan tanah I pada awal musim hujan dengan dicangkul sampai gembur.&lt;br /&gt;* Pengolahan tanah II menjelang penanaman pohon panjat/pelindung, tanah dibuat jalur-jalur / gulungan / bedengan lebar 0,8 – 1 m panjang sesuai kebutuhan jarak antara bedengan 50 Cm. Dalam bedengan dibuat lubang tanaman dengan jarak 1,5 m membujur kearah timur.&lt;br /&gt;* Penanaman pohon pelindung dan sebagai pohon panjatan dengan syarat pohon pelindung : tumbuh cepat, daun tidak terlalu rindang, perakaran dalam / kuat dan mudah didapat contoh : dadap, lamtoro, clyrisida ditanam 3 - 4 bulan sebelum penanaman panili.&lt;br /&gt;* Jarak tanam pohon panjatan / pelindung sesuai dengan jarak tanam panili 1,5 x 1,5 m sampai 1,5 x 3 m, proyek menggunakan jarak tanam 1,6 x 2,5m.&lt;br /&gt;* Pemberian pupuk kandang, setiap lubang tanam sebanyak 10 kg.&lt;br /&gt;d. Penanaman&lt;br /&gt;* Penanaman panili dilakukan pada awal musim hujan, tanah disekitar pohon panjatan dibersihkan dan dibuat lubang tanam untuk menanamkan bibit panili.&lt;br /&gt;* Bibit panili ditanam leher akar sejajar dengan tanah, jarak antara lubang tanam dengan pohon panjatan / pelindung sekitar 30 cm.&lt;br /&gt;* Jarak tanam dalam barisan 1 – 1,5 m dan antar barisan 1,5 – 3 m, stek bagian atas diikat pada pohon pemanjat dibantu dengan tali lunak.&lt;br /&gt;* Barisan tanaman dibuat arah utara – selatan supaya tanaman panili terkena sinar matahari cukup.&lt;br /&gt;* Usahakan tanah janagan sampai kering setelah 2 – 3 minggu mulai akan keluar akar.&lt;br /&gt;e. Penyulaman&lt;br /&gt;Bila setelah 2 – 3 minggu belum keluar akar tanaman harus diganti / disulam.&lt;br /&gt;f. Penggemburan Tanah dan Penyiraman&lt;br /&gt;Tanah harus selalu gembur / jangan padat dilakukan sebulan sekali bersamaan dengan penyiangan, jangan sampai kering usahakan penyiraman secara rutin pada pagi hari dan sore hari karena tanaman panili tidak tahan kering.&lt;br /&gt;g. Penyiangan&lt;br /&gt;Dilakukan sebulan sekali atau sesuai kebutuhan, rumputnya bisa digunakan sebagai mulching.&lt;br /&gt;h. Pemupukan&lt;br /&gt;Pupuk yang diberikan oleh proyek Peningkatan Produksi Perkebunan Rakyat ini hanya pupuk kandang sebanyak 0,8 Kg/lubang atau 2000 Kg/Ha, sedangakan dosis pupuk anjuran yang harus diberikan : 6 bulan setelah penanaman diberikan pada awal dan akhir musim hujan dengan dosis pupuk buatan : 4 gram Urea + 1,5 gram TSP + 6,5 gram KCL per pohon per tahun atau Urea 8 kg / Ha / th ; SP 36 ; 4 kg / Ha / th ; KCL 14 kg /Ha / th. Pupuk kandang perlu diberikan setiap tahun dengan dosis 10 – 20 kg/pohon dilakukan setelah panen.&lt;br /&gt;i. Pemangkasan&lt;br /&gt;Pemangkasan Pohon panjat Tujuannya :&lt;br /&gt;- Mengatur masuknya sinar matahari / intensitas cahaya.&lt;br /&gt;- Memperbaiki sirkulasi udara / kelembaban.&lt;br /&gt;- Mempertahankan keteduhan kebun saat musim kemarau&lt;br /&gt;- Mencegah serangan penyakit jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenisnya :&lt;br /&gt;- Pangkasan bentuk : saat tinggi tanaman mencapai 2 m, caranya membuang cabang dibawah ketinggian tersebut.&lt;br /&gt;- Pangkasan pengaturan : dilakukan pada musim hujan pada pohon yang berdaun rimbun, caranya membuang cabang yang terdapat pada 20 cm diatas lengkungan batang panili, dilakukan bertahap yaitu 50 % pada musim hujan pertama dan 50 % pada hujan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan Pohon Panili&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan setelah panen, sulur - sulur yang telah mengeluarkan buah, sulu - sulur yang tumbuhnya kurus / jelek.&lt;br /&gt;j. Pengendalian hama dan penyakit&lt;br /&gt;Pengendalian dilakukan secara preventif apabila terjadi serangan secara explosif maka digunakan pestisida secara bijaksana dan seminimal mungkin, dengan prinsip PHT. Hama umumnya bekicot dan belalang merusak daun dan pucuk, pengendalian mengambil hama tersebut dengan dibunuh, sedangkan belalang dengan cara disemprot dengan insektisida. Penyakit umumnya berupa cendawan.&lt;br /&gt;• Noda coklat pada batang, pengendalian memotong batang yang sakit dan dibakar&lt;br /&gt;• Noda hitam, penyakit ini menyerang bagian atas dan bawah daun. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida Dithane M45 dengan dosis 1 – 2 sendok teh / 10 liter air.&lt;br /&gt;• Noda coklat pada buah, penyakit ini menyerang buah dewasa / tua. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida dithane M45.&lt;br /&gt;• Galaspora Vanillae, penyakit ini menyerang pada daun, batang, dan buah. Gejala adanya noda berwarna coklat muda kekuning-kuningan. Pengendalian, bagian tanaman yang terserang dipotong / dibakar, pohon pelindung harus dipangkas.&lt;br /&gt;• Penyakit busuk pangkal batang (BPB) dan busuk buah, penyakit paling merugikan disebabkan Fusarium oxysporum. Dapat ditanggulangi secaraa terpadu menggunakan bibit sehat, menjaga sanitasi kebun, dan perlakuan budidaya. Cara memperoleh benih sehat mencelupkan stek + 30 menit dalam larutan fungisida bahan aktif mencozeb dan benomil. Penyakit BPB biasanya muncul tanaman berproduksi berumur + 3 tahun.&lt;br /&gt;Untuk kebun yang bebas gejala BPB. Tindakan yang dapat dilakukan :&lt;br /&gt;• Monitoring secara teratur untuk mengamati gejala dini, dijumpai gejala awal penanganan lebih mudah.&lt;br /&gt;• Menghindari pelukaan selama pemeliharaan (melilitkan batang pada Tiang panjat, menyiang, pemupukan, dan waktu pemetikan buah) karena fusarium mudah menular melalui luka.&lt;br /&gt;• Penyemprotan teratur dengan fungisida efektif seperti : Dithane, Antrakol, Banlate dosis 1 – 2 sendok teh / 10 liter air.&lt;br /&gt;• Membuat drainase baik, menghindari kebun tergenang air karena keloembaban tinggi merangsang pertumbuhan jamur.&lt;br /&gt;• Menghindari pemakaian pupuk kandang kotoran ayam.&lt;br /&gt;Apabila terjadi serangan ringan BPB tindakan yg dapat dilakukan :&lt;br /&gt;• Isolasi tanaman baru terserang dengan membuat parit - parit isolasi disekitar tanaman.&lt;br /&gt;• Memotong bagian tanaman sakit pada gejala dini, dimusnahkan atau dibakar luka sayatan diolesi fungisida.&lt;br /&gt;• Tanaman terserang berat / tidak akan sembuh segera dibongkar, kalau dibiarkan akan menjadi sumber inokulum. Areal bekas tanaman disiram dengan fungisida dan tanaman sekitar disemprot fungisida.&lt;br /&gt;• Tindakan lainnya seperti belum terserang : penyemprotan perbaikan drainase, penggunaan pupuk kandang selektif dan monitoring secara teratur.&lt;br /&gt;k. Penyerbukan Bunga&lt;br /&gt;• Tanaman Panili berbunga pada bulan Juli s/d September tergantung daerah.&lt;br /&gt;• Tanaman panili tidak bisa menyerbuk sendiri, penyerbukan dibantu manusia karena kepala putik tertutup labillum.&lt;br /&gt;• Panili mulai berbunga pada umur 12 – 18 bulan dan jatuh pada masa penggantian iklim.&lt;br /&gt;• Hasil penyerbukan akan berhasil baik pada waktu keadaan udara kering.&lt;br /&gt;• satu tandan bunga terdiri 10 – 20 kuntum bunga. Penyerbukan bunga sebaiknya pada bunga paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penyerbukan panili sebagai berikut :&lt;br /&gt;• Penyerbukan dengan menggunakan alat sebilah bamboo kecil atau lidi yang panjangnya 10 cm. Bunga yang sudah mekar dipegang dengan tangan kiri sehingga kedua mahkota bunga paling belakang berada diantara jari tangan dan telunjuk, sedangkan bagian belakang dari tangkai putik dan benang sari bersandar pada jari telunjuk. Dengan alat lidi labium bunga dirobek, kemudian tutupnya diangkat hingga benang sari diambil dan diletakkan pada kepala putik. Apabila penyerbukan berhasil setelah 2 – 3 hari daun bunga akan jatuh. Satu hari dapat menyerbukan bunga 500 – 1000 bunga. Waktu penyerbukan antara jam 7.00 - 10.00 pagi.&lt;br /&gt;• Beberapa minggu setelah penyerbukan, diadakan pemerikasaan pada tandan - tandan untuk memperjarang buah dengan membuang buah yang jelek.&lt;br /&gt;• Untuk memperoleh buah panili yang baik dan panjang - panjang, maka setiap tandan bunga agar ditinggalkan sekitar 10 bunga yang akan membentuk buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Panen&lt;br /&gt;• tanda - tanda buah panili masak warna buah berubah dari hijau tua mengkilat menjadi hijau muda suram, biasanya umur mulai dipanen pada usia 9 bulan setelah penyerbukan, pada kulit buah terbentuk garis - garis kecil warna kuning ujung buah menjadi kuning dan buah agak lurus dan berisi serta keras ukuran buah untuk pemungutan hasil.&lt;br /&gt;• cara pemetikan buah panili diambil satu - persatu diputar dari tandan. Karena matang buah tidak bersamaan dalam satu tandan, maka panen bisa berlangsung selama 2 – 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-2255829855852191220?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/2255829855852191220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=2255829855852191220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/2255829855852191220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/2255829855852191220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/budidaya-panili_06.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Panili&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWOglwHhDJI/AAAAAAAAAMU/OELh0UUivGc/s72-c/2131.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8143967013530346919</id><published>2009-01-05T19:02:00.000+07:00</published><updated>2009-01-05T19:17:52.650+07:00</updated><title type='text'>Teknologi   Budidaya  Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWH6ARYR0fI/AAAAAAAAAME/I67LarfMVZ4/s1600-h/lahansayuranorganik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 187px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWH6ARYR0fI/AAAAAAAAAME/I67LarfMVZ4/s200/lahansayuranorganik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287782320081850866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki abad ke-21 banyak keluhan-keluhan masyarakat utamanya masyarakat menengah ke atas tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, dan lain - lain, yang disebabkan pola makan. Banyak sekali bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia. Disamping itu budaya petani yang menggunakan pestisida kimia   dengan frekuensi dan dosis berlebih akan menghasilkan pangan yang meracuni tubuh konsumen.  Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam pestisida kimia  akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di negara itu, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002). Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang berturut - turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SISTEM PERTANIAN ORGANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya. Demikian juga ada produk sayuran bebas pestisida seperti yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar FP Unibraw Malang. Walaupun demikian, produk organik yang beredar di pasar Indonesia sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang yang berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIK BUDIDAYA ORGANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Budidaya merupakan bagian dari kegiatan  agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal - asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi disamping juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama. Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha. Lahan bekas tanaman brokoli selanjutmya dirotasi dengan tanaman wortel yang dalam penanamannya tidak perlu lagi diberi pupuk kandang. Nantinya setelah tanaman wortel dipanen atau 100 hari kemudian, lahan tersebut dapat ditanami brokoli kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUPUK ORGANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah - daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir - akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT Trimitra Buanawahana Perkasa yang bekerjasama dengan PT Trihantoro Utama bersama Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi yang saat ini akan mengolah sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yang bekerjasama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan Pemda Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang mengolah sampah kota dan limbah perdesaan. PT PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, saat ini bersama PT Trihantoro Utama dan Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk organik. Sampah dan limbah organik diolah dengan menggunakan teknologi modern dengan penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk organik yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan, Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata - rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGENDALIAN HAMA &amp;amp; PENYAKIT YANG ORGANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan. Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara-cara lain dalam pengendalian OPT  selain pestisida sintetik, pestisida biologi dan pestisida botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pestisida dapat berasal dari bahan alami dan dapat dari bahan buatan. Di samping itu, pestisida dapat merupakan bahan organik  maupun anorganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum disebutkan bahwa pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau menolak penggunaan pupuk sintetis pestisida sintetis, dan senyawa tumbuh sintetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPM VERSUS IPM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah yang juga penting untuk diketahui yaitu Organik Pest Management (OPM), yaitu pengelolaan hama dan penyakit menggunakan cara - cara organik. Selama ini telah lama dikenal istilah Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM). Persamaan diantara keduanya adalah bagaimana menurunkan populasi hama dan patogen pada tingkat yang tidak merugikan dengan memperhatikan masalah lingkungan dan keuntungan ekonomi bagi petani. Walaupun demikian, ada perbedaannya yaitu bahwa pestisida sintetik masih dimungkinkan untuk digunakan dalam PHT, walaupun penggunaannya menjadi ‘bila perlu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Bila perlu’ berarti bahwa aplikasi pestisida boleh dilakukan bila cara - cara pengendalian lainnya sudah tidak dapat mengatasi OPT padahal OPT tersebut  diputuskan harus dikendalikan karena telah sampai pada ambang merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dalam PHT masih digunakan pestisida sintetik, maka PHT tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dalam pertanian organik. Akan tetapi, bila  pestisida sintetik dapat diganti dengan pestisida alami, yang kemudian disebut sebagai pestisida organik, atau cara pengendalian lain non-pestisida maka PHT dapat diterapkan dalam pertanian organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA - CARA PENGENDALIAN NON-PESTISIDA YANG AMAN LINGKUNGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara pengendalian  OPT selain penggunaan pestisida yang dapat digunakan dalam pertanian organik. Salah satunya yaitu dengan menghindarkan adanya OPT saat tanaman sedang dalam masa rentan.  Cara menghindari OPT dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman, mengatur jarak tanam ataupun dengan cara menanam tanaman secara intercropping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penggunaan varietas tahan merupakan suatu pilihan yang sangat praktis dan ekonomis dalam mengendalikan OPT. Walaupun demikian, penggunaan varietas yang sama dalam waktu yang berulang-ulang dengan cara penanaman yang monokultur dalam areal yang relatif luas akan mendorong terjadinya ras atau biotipe baru dari OPT tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara fisik dan mekanis dalam pengendalian OPT dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain dengan sanitasi atau membersihkan lahan dari sisa - sisa tanaman sakit atau hama. Selain itu, hama dapat diambil atau dikumpulkan dengan tangan. Hama juga dapat diperangkap dengan senyawa kimia yang disebut sebagai feromon, atau menggunakan lampu pada malam hari. Hama juga dapat diusir atau diperangkap dengan bau-bauan lain seperti bau bangkai, bau karet yang dibakar dan sebagainya.  Penggunaan mulsa plastik dan penjemuran tanah setelah diolah dapat menurunkan serangan penyakit tular tanah. Hama dapat pula dikendalikan dengan cara hanya menyemprotkan air dengan tekanan tertentu atau dikumpulkan dengan menggunakan penyedot mekanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian dengan cara biologi merupakan harapan besar untuk pengendalian OPT dalam pertanian organik. Cara ini antara lain menyang-kut penggunaan tanaman perangkap, penggunaan tanaman penolak (tanaman yang tidak disukai), penggunaan mulsa alami, penggunaan kompos yang memungkinkan berkembangnya musuh alami dalam tanah, dan penggunaan mikroba sebagai agen pengendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Dr. Ir. Ririen Prihandarini MS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8143967013530346919?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8143967013530346919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8143967013530346919&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8143967013530346919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8143967013530346919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/teknologi-budidaya-organik.html' title='&lt;center&gt;Teknologi   Budidaya  Organik&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWH6ARYR0fI/AAAAAAAAAME/I67LarfMVZ4/s72-c/lahansayuranorganik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-2900307969317514742</id><published>2009-01-05T10:05:00.000+07:00</published><updated>2009-01-05T10:15:57.663+07:00</updated><title type='text'>Bunga Teratai</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF6_KTEniI/AAAAAAAAAL8/Qzma-4Sjo_E/s1600-h/teratai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF6_KTEniI/AAAAAAAAAL8/Qzma-4Sjo_E/s200/teratai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287642663024369186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(Nelumbium nelumbo Druce)&lt;br /&gt;Sinonim :&lt;br /&gt;= Nelumbiurn nuciferum, Gaertn. = N. speciosum, Wilid. = Nelumbo nucifera, Gaertn. = Nyrnphaea nelumbo, Linn&lt;br /&gt;Familia : Nymphaeaceae&lt;br /&gt;Nama Lokal :&lt;br /&gt;Padma, seroia, terate, tarate, taratai besar.;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman air menahun yang indah, asli dari daratan Asia. Teratai dibudidayakan di perairan dan kolam, kadang ditemukan tumbuh liar di rawa - rawa. Tanaman air yang tumbuh tegak. Rimpang tebal bersisik, tumbuh menjalar. Daun dan bunga keluar langsung dari rimpangnya yang terikat pada lumpur di dasar kolam. Helaian daun lebar dan bulat, disangga oleh tangkai yang panjang dan bulat berdiameter 0,5 - 1 cm, panjangnya 75 - 150 cm. Daun menyembul ke atas permukaan air, menjulang tegak seperti perisai. Permukaan daun berlilin; warnanya hijau keputihan, tepi rata, bagian tengah agak mencekung, tulang daun tersebar dari pusat daun ke arah tepi, diameter 30 - 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bunganya harum, tumbuh menjulang di atas permukaan air dengan tangkai bulat panjang dan kokoh, panjang tangkai bunga 75 - 200 cm. Diameter bunga 15 - 25 cm, benang sari banyak kepala sari kuning, mahkota bunga lebar, ada yang engkel dan ada yang dobel dengan warna merah jambu, putih dan kuning. Bunga mekar sehari penuh dari pagi sampai sore hari. Setelah layu, mahkota bunga berguguran sampai akhirnya tersisa dasar bunga yang akan menjadi bakal buah, bentuknya seperti kerucut terbalik dengan permukaan datar semacam spons dan berlubang - lubang berisi 15 - 30 biji, warnanya hijau kekuningan, kemudian hijau dan akhirnya coklat hitam, garis tengah 6 - 11 cm. Biji bentuknya bulat seperti kacang tanah, terdapat dalam lubang - lubang buah yang berbentuk seperti sarang tawon. Biji yang sudah tua warnanya hijau kehitaman, umurnya kira - kira 1 bulan sejak bunganya mekar. Daunnya biasa dipakai sebagai bahan pembungkus, rimpang muda dan biji bisa dimakan. Pemeluk agama Budha menganggap bunga ini sebagai lambang kesucian, tercermin dalam berbagai lukisan dan patung yang menggambarkan Sang Budha sedang duduk bersemedi di atas bunga teratai.Komposisi :&lt;br /&gt;SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Biji: Memelihara kondisi jantung, bermanfaat bagi ginjal dan menguatkan limpa. Tunas biji teratai: Menghilangkan panas dalam di jantung, menurunkan panas, menghentikan perdarahan, menahan ejakulasi dini. Kulit biji teratai: Menghentikan perdarahan, Menghilangkan panas dalam di lambung, mengeluarkan panas dan lembab dari usus. Benangsari (kumis bunga teratai): Menghilangkan panas dari jantung, menguatkan fungsi ginjal, menahan ejakulasi dini dan menghentikan perdarahan. Penyangga bunga: Membuyarkan darah beku, menghentikan perdarahan, menolak lembab. Batang teratai (tangkai daun, tangkai bunga): Menurunkan panas dan memperlancar kencing. Daun: Membersihkan panas dan menghilangkan lembab, menaikkan yang jernih, menghentikan perdarahan. Dasar daun: Menurunkan panas dan menghilangkan lembab, menormalkan menstruasi, menguatkan kehamilan. Rimpang: Dimakan mentah berkhasiat menurunkan panas, mendinginkan darah yang panas dan membuyarkan darah beku. Bila dimasak, berkhasiat menguatkan limpa, menambah selera makan, penambah darah, membantu pertumbuhan otot dan menyembuhkan diare. Akar: Menghentikan perdarahan, membuyarkan darah beku, penenang. Tepung rimpang: Menghentikan perdarahan, menambah darah, mengatur fungsi ginjal dan limpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KANDUNGAN KIMIA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga: Quercetin, luteolin, isoquercitrin, kaempferol.&lt;br /&gt;Benangsari: Quercetin, luteolin, isoquercitrin, galuteolin, juga terdapat alkaloid. Penyangga bunga (reseptacle): Protein, lemak, karbohidrat, caroten, asam nikotinat, vitamin B1, B2, C dan sedikit mengandung nelumbine.&lt;br /&gt;Biji: Kaya akan pati, juga mengandung raffinose, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, phosphor dan besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit biji : mengandung nuciferine, oxoushinsunine, N-norarmepavine. Tunas biji teratai: Liensinine, isoliensinine, neferine, nuciferine, pronuciferine, lotusine, methylcorypalline, demethylcoclaurine, galuteolin, hyperin, rutin. Rimpang: Pati, protein, asparagine, vitamin C. Selain itu juga mengandung catechol, d-gallocatechol, neochlorogenic acid, leucocyanidin, leucodelphinidin, peroxidase, dll.&lt;br /&gt;Akar: Zat tannic dan asparagine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun: Roemerine, nuciferine, nornuciferine, armepavine, pronuciferine, N-nornuciferine, D-N-methylcoclaurine, anonaine, liriodenine, quercetin, isoquercitrin, nelumboside, citric acid, tartaric acid, malic acid, gluconic acid, oxalic acid, succinic acid, zat tannic, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar daun teratai: Roemerine, nuciferine dan nornuciferine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangkai daun: Roemerine, nornuciferine, resin dan zat tannic. Oxoushinsunine yang terdapat pada kulit biji teratai berkhasiat menekan perkembangan kanker hidung dan tenggorokan, sedangkan biji dan tangkai teratai berkhasiat anti hipertensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Yang Dapat Diobati :&lt;br /&gt;Diare, disentri, keputihan, kanker nasopharynx, demam, insomnia; Hipertensi, muntah darah, mimisan, batuk darah, sakit jantung; Beri - beri, sakit kepala, berak dan kencing darah, anemia, ejakulasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN YANG DIPAKAI:&lt;br /&gt;Seluruh tanaman. Rimpang, daun dan tangkai, bunga dan benang sari, biji dan penyangga bunga yang seperti sarang tawon / spons (reseptacle), serta tunas biji. Pemakaian segar atau yang telah dikeringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGUNAAN:&lt;br /&gt;Biji:&lt;br /&gt;- Gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion).&lt;br /&gt;- Diare karena badan lernah, radang usus kronis (enteritis kronis).&lt;br /&gt;Disentri.&lt;br /&gt;- Muntah-muntah.&lt;br /&gt;- Keputihan, perdarahan pada wanita.&lt;br /&gt;- Mimpi basah (spermatorrhea).&lt;br /&gt;- Susah tidur, banyak mimpi.&lt;br /&gt;- Kencing terasa sakit dan keruh.&lt;br /&gt;- lesu tidak bersemangat (neurasthenia).&lt;br /&gt;- Kanker nasopharynx.&lt;br /&gt;Tunas biji teratai:&lt;br /&gt;- Demam, rasa haus.&lt;br /&gt;- Jantung berdebar, gelisah.&lt;br /&gt;- Muntah darah.&lt;br /&gt;- Ejakulasi dini.&lt;br /&gt;- Mata merah dan bengkak.&lt;br /&gt;- Susah tidur (insomnia).&lt;br /&gt;- Darah tinggi (hipertensi).&lt;br /&gt;Banang sari:&lt;br /&gt;- keluar sperma malam hari (sperrnatorrhea).&lt;br /&gt;- Keputihan (leucorrhea).&lt;br /&gt;- Perdarahan seperti muntah darah, disentri.&lt;br /&gt;- sering kencing.&lt;br /&gt;- Tidak dapat menahan kencing (enuresis).&lt;br /&gt;Remptacle:&lt;br /&gt;- Perdarahan kandungan yang berlebihan.&lt;br /&gt;- Darah haid berlebihan.&lt;br /&gt;- Perdarahan sewaktu hamil.&lt;br /&gt;- Keluar cairan (lochia) yang berlebihan setelah melahirkan.&lt;br /&gt;- Sakit perut bawah akibat sumbatan darah.&lt;br /&gt;- Berak darah, kencing darah.&lt;br /&gt;- Wasir, koreng basah.&lt;br /&gt;Rimpang:&lt;br /&gt;- Demam, rasa haus.&lt;br /&gt;- Batuk darah, muntah darah, mimisan.&lt;br /&gt;- Berak darah, kencing darah. Tekanan darah tinggi.&lt;br /&gt;- Sakit jantung.&lt;br /&gt;- Gangguan lambung.&lt;br /&gt;- Kurang darah (anemia).&lt;br /&gt;- Gangguan pada mati haid (menopause).&lt;br /&gt;- Neurosis.&lt;br /&gt;Akar:&lt;br /&gt;- Muntah darah, mimisan.&lt;br /&gt;- Kencing panas dan merah.&lt;br /&gt;- Batuk darah, berak darah.&lt;br /&gt;Daun:&lt;br /&gt;- Pingsan karena hawa panas (heat stroke).&lt;br /&gt;- Diare karena panas atau lembab.&lt;br /&gt;- Pusing, sakit kepala.&lt;br /&gt;- Beri-beri.&lt;br /&gt;- Perdarahan seperti mimisan, muntah darah, berak darah.&lt;br /&gt;- Perdarahan pada wanita.&lt;br /&gt;Dasar daun:&lt;br /&gt;- Disentri berdarah, diare.&lt;br /&gt;- Bayi dalam kandungan tidak tenang.&lt;br /&gt;Batang:&lt;br /&gt;- Heat stroke, pingsan.&lt;br /&gt;- Dada terasa tertekan karena panas atau lembab.&lt;br /&gt;- Diare, muntah.&lt;br /&gt;- Keputihan.&lt;br /&gt;Bunga:&lt;br /&gt;- Terpukul (trauma).&lt;br /&gt;- Perdarahan.&lt;br /&gt;- Radang kulit bernanah (impetigo).&lt;br /&gt;Tepung rimpang:&lt;br /&gt;- Menambah selera makan,&lt;br /&gt;- Badan lemah dan kurang darah.&lt;br /&gt;- Diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMAKAIAN:&lt;br /&gt;Untuk minum:&lt;br /&gt;Rimpang: 240 g. Direbus atau di juice.&lt;br /&gt;Daun: 5 - 12 g, rebus.&lt;br /&gt;Tangkai: 3 - 5 g, rebus.&lt;br /&gt;Bunga. 3 - 5 g, rebus.&lt;br /&gt;Benang sari: 3 - 10 g, rebus.&lt;br /&gt;Receptacle: 10 - 15 g, rebus.&lt;br /&gt;Biji: 5 - 12 g, rebus.&lt;br /&gt;Tunas biji teratai: 1,5 - 3 g, rebus.&lt;br /&gt;CARA PEMAKAIAN:&lt;br /&gt;1. Batuk darah, muntah darah:&lt;br /&gt;Rimpang teratai dicuci bersih lalu dijuice, sampai terkumpul 1 gelas&lt;br /&gt;ukuran 200 cc. Minum, lakukan selama 3 - 5 hari berturut - turut.&lt;br /&gt;2. Muntah, diare :&lt;br /&gt;50 g rimpang teratai dan 15 g jahe dicuci lalu dijuice atau diparut,&lt;br /&gt;ambil airnya. Minum, sehari 3 kali.&lt;br /&gt;3. Disentri:&lt;br /&gt;50 g rimpang teratai dan 10 g jahe, diparut atau dijuice. Air&lt;br /&gt;perasannya ditambahkan 10O cc air, lalu dipanaskan sampai&lt;br /&gt;mendidih. Setelah dingin tambahkan 1 sendok makan madu, diaduk&lt;br /&gt;lalu diminum.&lt;br /&gt;4. Darah tinggi:&lt;br /&gt;a. 10 g biji teratai dan 15 g tunas biji teratai. (lien sim), direbus&lt;br /&gt;dengan 350 cc air sampai tersisa 200 cc. Minum setiap hari&lt;br /&gt;seperti teh.&lt;br /&gt;b. Tunas biji teratai (lien sim) sebanyak 10 - 15 g direbus dengan air&lt;br /&gt;secukupnya sampai mendidih, minum sebagai teh. Dapat juga&lt;br /&gt;tunas biji teratai digiling halus, seduh dengan air panas, minum.&lt;br /&gt;5. Panas dalam, gondokan, juga bermanfaat untuk penderita jantung&lt;br /&gt;dan lever:&lt;br /&gt;100 g rimpang teratai dan 50 g rimpang segar alang - alang, dicuci&lt;br /&gt;lalu dipotong - potong secukupnya. Rebus dengan 500 cc air bersih&lt;br /&gt;sampai tersisa 250 cc. Setelah dingin disaring, minum seperti teh.&lt;br /&gt;6. Keluar darah dari hidung (mimisan):&lt;br /&gt;Ruas akar teratai dicuci bersih lalu dijuice. Airnya diteteskan ke&lt;br /&gt;hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-2900307969317514742?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/2900307969317514742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=2900307969317514742&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/2900307969317514742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/2900307969317514742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/bunga-teratai.html' title='&lt;center&gt;Bunga Teratai&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF6_KTEniI/AAAAAAAAAL8/Qzma-4Sjo_E/s72-c/teratai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-5059239205977082316</id><published>2009-01-05T09:58:00.000+07:00</published><updated>2009-01-05T10:01:11.368+07:00</updated><title type='text'>Proses Penanaman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF3mBnsjDI/AAAAAAAAAL0/jn8IfV0yXeU/s1600-h/imenanam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 125px; height: 89px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF3mBnsjDI/AAAAAAAAAL0/jn8IfV0yXeU/s200/imenanam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287638932663340082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cara menanam tanaman berbeda-beda, tergantung dari jenis tanamannya. Masing masing tanaman memiliki kondisi fisik yang lain satu dengan lainnya oleh karena itu hendaknya anda yang ingin menanam memperhatikan benar benar cara menanam tanaman tersebut. Disini tidak akan membicarakan cara menanam tanaman industry karena tanaman tersebut lebih spesifik dan lebih kompleks perawatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani harus memperhatikan musim, kondisi tanah, curah hujan, dan lain lain.Untuk tanaman hias, menanam tanaman dapat diletakkan pada 2 tempat yang berbeda, pot atau di tanah. Untuk beberapa tanaman seperti anggrek, dapat diletakkan di sebuah pohon yang akan menjadi media tanaman tersebut untuk menempel dan hidup namun tidak parasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan bila anda ingin menanam tanaman adalah menyesuaikan kondisi alam tanaman asal dengan daerah dimana anda akan menanam tanaman tersebut. Tanaman dari daerah dingin akan susah beradaptasi dengan lingkungan daerah panas. Anda yang membeli tanaman di daerah dingin dan akan menanamnya di daerah panas pertama tama harus menyesuaikan tanaman yang akan anda tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah terlebih dulu mengeluarkan tanaman anda dari potnya dan menanamnya langsung di tanah karena tanaman tersebut akan mati karena kekeringan. Berikan air yang banyak namun regular kepada tanaman anda dan pada hari ketiga tanam di mana anda menginginkannya. Perhatikan pula apakah tanaman tersebut sensitif dengan sinar matahari atau tidak. Jangan lupa untuk memperhatikan tanaman anda dengan rutin menyiram di sore hari, di kala matahari tidak terlalu terik serta memberi pupuk dan menghilangkan tanaman yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman secara alami adalah penanaman tanaman dengan media tanah yang memiliki kandungan zat yang dibutuhkan tanaman. Namun sekarang ditemukan cara untuk menanam tanaman di media bukan tanah. Bagi beberapa negara yang padat penduduk dimana harga tanah sangat mahal, penanaman tanaman dengan media bukan tanah merupakah solusi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, tanaman ditanam di media air dan ini merupakan solusi penting pada pertanian negara tersebut dimana menanam tanaman di tanah dalam jumlah banyak dan luas adalah suatu hal yang tak mungkin mengingat harga tanah di Jepang sangat mahal. Di Indonesia, penanaman tanaman di media bukan tanah masih belum terlalu popular karena Indonesia adalah negara subur dengan tanah berlimpah ruah. Namun untuk tanaman hias, penanaman dengan media gel mulai popular. Hal ini dikarenakan selain tidak kotor, media gel juga praktis dan bebas dari gangguan-gangguan yang biasanya muncul seperti tumbuhan pengganggu juga serangga dan rayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanam hanya perlu menambahkan air untuk merawat tanaman mereka. Namun gel ini masih mahal dan harganya masih belum menjangkau masyarakat luas. Selain itu kelemahan gel tersebut adalah belum bisa menjadi media tanam untuk tanaman yang lebih besar, karena tanaman yang lebih besar membutuhkan banyak gel yang berarti harus mengeluarkan lebih banyak uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan tanaman&lt;br /&gt;Banyak hal yang harus diperhatikan untuk merawat tanaman. Merawat tanaman tak hanya cukup memberi air dan pupuk supaya tanaman tumbuh subur dan sehat, tetapi juga memperhatikan jenis tanaman, kondisi tanah, iklim dan penyakit yang kemungkinan dapat menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah penting untuk menghindarkan tanaman dari tanaman atau serangga yang mengganggu. Bila menemukan gulma atau tanaman pengganggu, maka harus dilakukan penyiangan atau pembunuhan tanaman yang mengganggu tersebut. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman seperti rumput atau semak semak dapat dihilangkan dengan pembubunan tanah di sekitar tanaman. Penyiangan ini hendaknya dilakukan rutin selama 2 atau 3 kali seminggu atau disesuaikan dengan kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah pemupukan. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk alami atau pupuk buatan yang dapat diberikan pada daun, tanah atau bagian yang lain. Sama seperti penyiangan, pemupukan juga diberikan dengan rutin, namun jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sering karena dapat mengganggu keseimbangan komposisi tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting adalah memperhatikan penyiraman kepada tanaman tersbeut. Perlu diingat bahwa penyiraman disesuaikan dengan kebutuhan suatu tanaman dan juga curah hujan pada daerah tempat tanaman tumbuh. Jaga supaya tanaman tidak layu dan kekurangan air karena hasilnya akan sangat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadalah terhadap timbulnya hama dan penyakit pada tanaman. Cari tahu informasi tentang hama atau penyakit tertentu yang sering menyerang sebelum menanam suatu jenis tanaman untuk mempermudah menanggulangi bila tanaman tersebut terserang penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, seringlah memangkas tanaman terutama untuk tanaman perdu dan pohon. Selain untuk membentuk pohon, pemangkasan tanaman juga dapat mempercepat pembuahan, meremajakan tanaman dan lain sebagainya. Untuk pohon, pembentukan tanaman dimaksudkan supaya pohon tersebut dapat memproduksi bunga lebih banyak. Pengurangan daun adalah supaya pohon dapat lebih menghasilkan asimilasi yang bersih sehingga buah cepat dapat cepat berproses. Jangan lupa untuk memotong ranting, daun dan bagian tanaman lain yang terkena penyakit supaya tidak menular ke bagian atau tanaman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya merawat tanaman tidaklah sulit. Bila dilakukan secara rutin, merawat tanaman dapat menjadi hobi yang menyenangkan. Beberapa orang menyatakan bahwa merawat tanaman dapat menghilangkan stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-5059239205977082316?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/5059239205977082316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=5059239205977082316&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5059239205977082316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5059239205977082316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/proses-penanaman.html' title='&lt;center&gt;Proses Penanaman&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWF3mBnsjDI/AAAAAAAAAL0/jn8IfV0yXeU/s72-c/imenanam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-756267145382200156</id><published>2009-01-04T22:13:00.000+07:00</published><updated>2009-01-04T22:19:51.905+07:00</updated><title type='text'>Bunga Krisan </title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWDTcT7fwYI/AAAAAAAAALs/-lawl5RGGhM/s1600-h/krista.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 155px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWDTcT7fwYI/AAAAAAAAALs/-lawl5RGGhM/s200/krista.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287458445872578946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Krisan, bunga bulan November, bunga musim gugur. Saat ini kalo teman - teman jalan - jalan ke taman di Perancis, atau ke toko bunga, halaman orang, maka tanaman Krisan ini yang dominan terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang mempunyai prospek yang baik untuk dibudidayakan dan dijadikan sumber penghasilan. Karena itu Tanaman Krisan atau Seruni yang punya nama latin Chrysanthemum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Krisan masih sodaraan dengan bunga Aster, Daisy, sama sama masuk famili Asteraceae. Keunggulan Krisan terletak pada masa tanamnya yang singkat dan harganya yang stabil, keaneka ragaman warna dan bentuk bunganya, juga karena sebagai bunga potong, krisan bisa tahan lebih dari 2 minggu di vas. Krisan pot bahkan bisa bertahan sampai hitungan bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Krisan sebenarnya bunga asli dari kawasan Asia Timur, seperti Korea, Jepang dan China Utara tapi saat ini lebih banyak ditanam di negara eropa dan amerika.&lt;br /&gt;Krisan di Perancis disebut Chrysanthème , merupakan bunga yang diasosiasikan dengan duka dan kematian. Krisan putih banyak digunakan untuk pemakaman, dan juga di tanggal 1 November pada saat perayaan La Toussaint (All Saints), Krisan warna warni diserbu untuk menghiasi kuburan. Kalo di Indonesia keknya Krisan dipake untuk bunga di pernikahan juga ya? Di Amrik juga keknya Krisan itu bunga untuk keceriaan.&lt;br /&gt;Kuburan Berbunga Krisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan Berbunga Krisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya Bunga Krisan&lt;br /&gt;Tanaman krisan sangat cocok ditanam pada lahan dengan ketinggian antara 700 - 1200 di atas permukaan laut (dpl). Untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman harus dilakukan di dalam bangunan rumah plastik, karena krisan gak tahan terpaan air .&lt;br /&gt;Untuk pembungaan bunga ini butuh cahaya yang lebih lama, makanya perlu bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penyinaran paling baik di tengah malam antara jam 22.30 – 01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 meter persegi, dan lampu dipasang setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2 - 8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga.&lt;br /&gt;Aneka Bunga Krisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka Bunga Krisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20 - 26 derajat selsius. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17 - 30 derajat selsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pembibitan krisan perlu kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit dari stek yaitu berkisar 90 - 95%, sedangkan RH untuk tanaman muda sampai dewasa antara 70 - 80 persen, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman krisan mulai berbunga pada umur 10 – 14 minggu setelah tanam, tergantung pada jenis varietasnya. Saat panen yang paling tepat untuk krisan standar adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3 - 4 hari sebelum mekar penuh. Krisan tipe sprai dapat dipanen bila 75 - 80% dari seluruh kuntum bunga dalam satu tangkai telah mekar penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit Krisan bisa didapatkan dengan jalan penanaman stek pucuk maupun bila dinginkan dalam skala besar maka gunakanlah teknik kultur jaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisan bisa dipacu produksinya dengan penggunaan perlakuan khusus berupa pembuangan titik tumbuh (pincing), penjarangan tanaman dan pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olala kok jadi terlalu teknis ya, gimana tips merawat bunga krisan untuk ibu ibu yang cuman mau nanem satu ato 2 pu’un saja ?&lt;br /&gt;Gampang. Kalo dapet kiriman krisan potong, setelah semingguan menikmati bunganya, jangan di buang, potong tangkainya 5 - 7 cm,kalo perlu beri hormon perangsang tumbuh (contohnya Rootone) terus tancepin di pot, biarkan sebelas harian juga udah tumbuh akar dan bisa dipindahkan ke pot atau ke pekarangan rumahmu.&lt;br /&gt;Bisa juga dari benih . biji yg dibeli dlm sanchet. Semaikan biji pada media sekam, pasir, tanah berhumus dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Agar media terbebas dari bakteri pembusuk, kukus media sebelum digunakan. Siramin teratur, ngasih pupuk sbb : pada masa pertumbuhan (hingga dua bulan) beri pupuk lengkap seperti gandasil, hyponex atau complesal dengan kadar nitrogen tinggi. Ketika tanaman menampakkan kuntum bunga, gunakan pupuk dengan kadar P (fosfat) tinggi untuk merangsang munculnya kuntum bunga., 3 bulan kemudian sudah bisa menikmati bunga krisan yang indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Krisan bagi kesehatan.&lt;br /&gt;Krisan jenis Chrysanthemum morifolium or Chrysanthemum indicum, yang warna putih atau kuning bisa dijadikan teh krisan ato Chrysanthemum Tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khasiatnya untuk menyembuhkan influenza, jerawat dan mengobati panas dalam dan sakit tenggorokan. Bole juga untuk obat demam, mata panas dan berair, pusing2 serta untuk membersihkan liver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-756267145382200156?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/756267145382200156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=756267145382200156&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/756267145382200156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/756267145382200156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2009/01/bunga-krisan.html' title='&lt;center&gt;Bunga Krisan &lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SWDTcT7fwYI/AAAAAAAAALs/-lawl5RGGhM/s72-c/krista.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-904175442852477646</id><published>2008-12-19T17:45:00.001+07:00</published><updated>2008-12-19T17:49:14.414+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Tanaman Kedelai</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUt7_87d_JI/AAAAAAAAALk/BAEsUvDaoqs/s1600-h/kedelai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUt7_87d_JI/AAAAAAAAALk/BAEsUvDaoqs/s200/kedelai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281451326639570066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KEDELAI merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan berbagai kedelai yang kita kenal sekarang (Glycine max (L) Merril). Berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara). Di Indonesia, yang dibudidayakan mulai abad ke 17 sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Penyebaran tanaman kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo menyebar ke daerah Mansyuria: Jepang (Asia Timur) dan ke negara-negara lain di Amerika dan Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacang kedelai yang diolah menjadi tepung kedelai secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok manfaat utama, yaitu: olahan dalam bentuk protein kedelai dan minyak kedelai. Dalam bentuk protein kedelai dapat digunakan sebagai bahan industri makanan yang diolah menjadi: susu, vetsin, kue - kue, permen dan daging nabati serta sebagai bahan industri bukan makanan seperti : kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan olahan dalam bentuk minyak kedelai digunakan sebagai bahan industri makanan dan non makanan. Industri makanan dari minyak kedelai yang digunakan sebagai bahan industri makanan berbentuk gliserida sebagai bahan untuk pembuatan minyak goreng, margarin dan bahan lemak lainnya. Sedangkan dalam bentuk lecithin dibuat antara lain: margarin, kue, tinta, kosmetika, insectisida dan farmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air tetap tersedia. Jagung merupakan tanaman indikator yang baik bagi kedelai. Tanah yang baik ditanami jagung, baik pula ditanami kedelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelai tidak menuntut struktur tanah yang khusus sebagai suatu persyaratan tumbuh. Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur dan agak asam pun kedelai dapat tumbuh dengan baik, asal tidak tergenang air yang akan menyebabkan busuknya akar. Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah, asal drainase dan aerasi tanah cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBIBITAN&lt;br /&gt;1. TEKNIK BENIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan seragam, tidak tercemar dengan varietas - varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit. Benih yang ditanam juga harus merupakan varietas unggul yang berproduksi tinggi, berumur genjah/pendek dan tahan terhadap serangan hama penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa varietas unggul kedelai adalah: Ainggit (137), Clark 63, Davros, Economic Garden, Galunggung, Guntur, Lakon, Limpo Batang, Merbabu, No.27, No.29, No.452, Orba, Peter, Raung, Rinjani, Shakti, Taichung, Tambora, Tidar, TK 5, Wilis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PENYIAPAN BENIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang ditempatkan di media biakan, tanah, kompos untuk memulai aktifitas biologinya Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai atau kacang - kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TEKNIK PENYEMAIAN BENIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman dengan benih yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat diatasi dengan cara menanamkan 3 - 4 biji tiap lubang, atau dengan memperpendek jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong (batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu dengan lainnya tidak terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. PEMINDAHAN BIBIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memindah yaitu menunjuk akar tanaman di kebun, perlu memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGOLAHAN MEDIA TANAM&lt;br /&gt;1. PERSIAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dibiarkan bongkahan terangin-angin 5 - 7 hari, pencangkulan ke 2 sekaligus meratakan, memupuk, menggemburkan dan membersihkan tanah dari sisa - sisa akar. Jarak antara waktu pengolahan tanah dengan waktu penanaman sekitar 3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PEMBENTUKAN BEDENGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan bajak lebar 50 - 60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3 - 4 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PENGAPURAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 seperti tanah podsolik merah-kuning, harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil tanam yang baik. Kapur dapat diberikan dengan cara menyebar di permukaan tanah, kemudian dicampur sedalam lapisan olah tanah sekitar 15 cm. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2 - 3 ton/ha. Diharapkan pada saat musim tanam kapur sudah bereaksi dengan tanah, dan pH tanah sudah meningkat sesuai dengan yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapur halus memberikan reaksi lebih cepat daripada kapur kasar. Sebagai sumber kapur dapat digunakan batu kapur atau kapur tembok. Pemberian kapur tidak harus dilakukan setiap kali tanam, tetapi setiap 3 - 4 tahun sekali. Dengan pengapuran, tanah menjadi kaya akan Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dan pH-nya meningkat. Selain itu peningkatan pH dapat menaikkan tingkat persediaan Molibdenum (Mo) yang berperan penting untuk produksi kedelai dan golongan tanaman kacang-kacangan, karena erat hubungannya dengan perkembangan bintil akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. PENENTUAN POLA TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20 - 40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam kedelai tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus jarak tanam dapat dirapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. WAKTU TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan waktu tanam kedelai ini harus tepat, agar tanaman yang masih muda tidak terkena banjir atau kekeringan. Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75 - 120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda. Sebagai pedoman: bila ditanam di tanah tegalan, waktu tanam terbaik adalah permulaan musim penghujan. Bila ditanam di tanah sawah, waktu tanam paling tepat adalah menjelang akhir musim penghujan. Di lahan sawah dengan irigasi, kedelai dapat ditanam pada awal sampai pertengahan musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. PEMUPUKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Sawah kondisi tanah subur: pupuk Urea=50 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Sawah kondisi tanah subur sedang: pupuk Urea=50 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Sawah kondisi tanah subur rendah: pupuk Urea=100 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Lahan kering kondisi tanah kurang subur: pupuk kandang=2000 - 5000 kg/ha; Urea=50 - 100 kg/ha, TSP=50 - 75 kg/ha dan KCl=50-75 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRI DAN UMUR PANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak - retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat akan merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak - retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75 - 110 hari, tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Perlu diperhatikan, kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul - betul sempurna dan merata. (berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-904175442852477646?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/904175442852477646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=904175442852477646&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/904175442852477646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/904175442852477646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-tanaman-kedelai.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Tanaman Kedelai&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUt7_87d_JI/AAAAAAAAALk/BAEsUvDaoqs/s72-c/kedelai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8512564906872745217</id><published>2008-12-19T12:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-19T12:34:44.027+07:00</updated><title type='text'>Konsep Budidaya Tebu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsySTuBWMI/AAAAAAAAAK8/X7XCsA7m_wQ/s1600-h/tebu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsySTuBWMI/AAAAAAAAAK8/X7XCsA7m_wQ/s200/tebu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281370278134372546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengertiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. &lt;br /&gt;Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi.  Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu.  Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan Hidup Tanaman Tebu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya mahkluk hidup membutuhkan  sumberdaya alam berupa air, oksigen, karbondioksida, makanan dan sinar matahari. Kecuali karbon dioksida dan oksigen, sumberdaya alam lainnya berada pada kondisi yang terbatas dan sering tidak mencukupi kebutuhan, sehingga terkadang memerlukan usaha untuk mencukupi kebutuhan tersebut dengan tindakan pengelolaan hidup.  Sebagai contoh misalnya tanaman tebu membutuhkan hara untuk mencapai pertumbuhan normalnya, namun ketersediaan di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh tidak tersedia hara N yang memadai. Pada keadaan demikian tanaman tersebut tentu tidak akan mungkin tumbuh normal (karena defisiensi N). Untuk mencapai kondisi pertumbuhan normal, maka upaya budidaya diperlukan yaitu dengan cara memberikan pupuk N untuk kasus kekurangan hara N tersebut.&lt;br /&gt;Sumberdaya alam selama periode pertumbuhan tebu sangat dibutuhkan.  Namun laju kebutuhan setiap fase pertumbuhan tanaman terhadap kebutuhan jenis maupun kuantitasnya selalu tidak sama.  Dengan demikian terdapat ukuran - ukuran kebutuhan yang secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kebutuhan biologi pertumbuhan.  Sebagai contoh, tanaman tebu memiliki 5 stadium pertumbuhan yaitu fase perkecambahan, pertunasan, pemanjangan batang, kemasakan dan kematian, kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium berbeda. Stadium perkecambahan sampai pemanjangan batang dapat dikatakan menghendaki kebutuhan air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan dan bahkan kematian, kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih sedikit untuk mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang.  Hal yang lain yang berkaitan dengan kebutuhan hidup tanaman tebu adalah secara agregat setiap sumber daya alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan antara setiap fase pertumbuhannya.&lt;br /&gt;Tidak terpenuhi salah satu atau lebih sumberdaya alam yang dibutuhkan tanaman tebu, maka akan berakibat pada penurunan kualitas pertumbuhan maupun produktivitas tanaman yang dihasilkan.  Dalam budidaya tebu, upaya untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya alam pada saat optimal diperlukan akan memberikan hasil panen yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksimumkan Hasil Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara definisi telah dikemukakan di atas arti dari budidaya yang sesungguhnya dapat disederhanakan lagi yaitu suatu upaya manusia  mengoptimalkan  kondisi tanaman agar memperoleh sumberdaya alam yang dibutuhkan untuk hidupnya, sehingga dapat dimaksimalkan perolehan produktivitas tanaman.  Dengan demikian tujuan akhir dari upaya budidaya adalah mengoptimalkan kondisi tanaman untuk memaksimumkan hasil panen.&lt;br /&gt;Budidaya merupakan prasarana untuk meningkatkan respon tanaman terhadap input yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menunjang dan memacu proses pertumbuhan.  Keberhasilan budidaya ditentukan oleh berlangsungnya proses-proses pertumbuhan dalam setiap stadium secara normal dan berkesinambungan.  Setiap proses fase pertumbuhan harus berjalan dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan proses fase pertumbuhan berikutnya sehingga berjalan sempurna juga.  Gangguan pada salah satu proses fase pertumbuhan tebu, harus dipandang sebagai titik dari mata rantai yang terlemah dan yang paling bertanggung jawab terhadap hasil panen yang akan diperoleh. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan faktor pembatas yang paling menentukan terhadap perolehan hasil tanaman, maka upaya dari budidaya sesungguhnya untuk mengeleminir sekecil mungkin kekurangan ketersedian sumber daya alam yang dibutuhkan setiap fase pertumbuhan guna memaksimumkan hasil panen yang akan diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan Pola Budidaya Tebu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan tofografi.  Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan.  Lebih spesifik lagi, keberhasilan penyesuaian budidaya tebu ditentukan oleh kesesuaian tebu terhadap kondisi iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu dengan tofografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga,  sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu menuju pertanian berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesesuaian Tebu Terhadap Iklim&lt;br /&gt;Budidaya tebu harus  mengupayakan kebutuhan tebu terhadap variabel iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air maupun mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan pertumbuhan tebu dengan kebutuhan SDA iklim, seperti mengatur masa tanam yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal dan ditebang pada periode musim kemarau.&lt;br /&gt;Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan ideal untuk pertanaman tebu adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan pada  2 bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan teknologi adalah B2, C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan tebu dengan tanah cukup ringan dan berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesesuaian Tebu Terhadap Kesuburan Tanah&lt;br /&gt;Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah.  Sifat fisik tanah yang menonjol adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori.  Sedangkan sifat kimia tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah.         &lt;br /&gt;Tekstur tanah yang sesuai bagi tanaman tebu berdasarkan sifat olah tanah adalah sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, 1960) adalah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat berlempung, liat berdebu dan liat atau yang tergolong bertekstur agak kasar sampai halus.  Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0 – 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5.  Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total &gt; 1,5,  P2O5 tersedia &gt; 75 ppm,  K2O tersedia &gt; 150 ppm dan kejenuhan Al &lt;&gt; 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, ngompol dapat diolah sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering ≤ 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau.&lt;br /&gt;d. Mencukupi Kebutuhan Hara Tanaman&lt;br /&gt;Ketersediaan hara dalam tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman pada masing-masing fase pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kondisi lahan dan ketepatan pemupukan. Dalam pemupukan perlu diperhatikan efektivitas dan efisiensi.&lt;br /&gt;e. Pengendalian Jasad Pengganggu&lt;br /&gt;Prinsip pengendalian jasad pengganggu (gulma, hama dan penyakit) adalah memastikan bahwa input dan tanaman tebu tidak “termakan” oleh jasad pengganggu yaitu pengendalian secara preventif.&lt;br /&gt;f. Panen Tebu Masak (M), Bersih (B) Dan Segar (S)&lt;br /&gt;Dalam pengusahaan tanaman tebu, upaya budidaya yang ditunjukkan untuk meningkatkan bobot tebu dan rendemen yang tinggi pada akhirnya banyak ditentukan oleh sejumlah mana tebu tersebut ditebang dan digiling dalam keadaan Masak, Bersih dan Segar (MBS). Untuk menciptakan panen MBS banyak berkaitan dengan aspek - aspek manajerial dan koordinasi, baik diintern Pabrik Gula (antara Bagian Tanaman, Tebang Angkut dan Pabrik) maupun koordinasi PG dengan Petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan Pertumbuhan Tanaman&lt;br /&gt;Pemantauan perrtumbuhan tanaman yang bertujuan untuk mengetahui dampak dari tindakan - tindakan budidaya yang dilakukan. Pemantauan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan pengetahuan pertumbuhan setiap fase dan faktor - faktor yang mempengaruhi dan dinamika populasi. Dengan membandingkan antara jumlah populasi atau pertumbuhan suatu saat pada suatu kebun dengan standar pertumbuhan / dinamika populasi normal serta dihubungkan dengan fase pertumbuhan saat pemantauan, sehingga dapat ditentukan tumbuh normal atau tidak serta antisipasi / tindakan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsistensi Pengelolaan Tanaman&lt;br /&gt;Agar dapat diperoleh hasil gula yang optimal diperlukan konsistensi pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan sampai tebu dipanen dan digiling, mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan menentukan pertumbuhan berikutnya dan kualitas bahan baku akan menentukan sejauh mana potensi gula yang ada di batang dapat dijadikan gula kristal yang diharapkan. Salah satu yang harus diwaspadai adalah ketidak konsistenan  pada saat panen, tebu yang ditanam dan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang menggembirakan karena kehilangan gula yang cukup besar saat panen akibat mutu tebang dan angkut kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8512564906872745217?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8512564906872745217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8512564906872745217&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8512564906872745217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8512564906872745217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/konsep-budidaya-tebu.html' title='&lt;center&gt;Konsep Budidaya Tebu&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsySTuBWMI/AAAAAAAAAK8/X7XCsA7m_wQ/s72-c/tebu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-675419500900838580</id><published>2008-12-19T11:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-19T11:49:21.171+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Bunga Matahari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsm5D-_EVI/AAAAAAAAAK0/3oL20VSVXSE/s1600-h/hari.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsm5D-_EVI/AAAAAAAAAK0/3oL20VSVXSE/s200/hari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281357749785923922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KLASIFIKASI&lt;br /&gt;Kerajaan : Plantae&lt;br /&gt;Divisio : Magnoliophyta&lt;br /&gt;Kelas : Magnoliophyta&lt;br /&gt;Ordo : Asterales&lt;br /&gt;Familia : Asteraceae (Compositae).&lt;br /&gt;Genus : Helianthus&lt;br /&gt;Spesies : Helianthus annuus&lt;br /&gt;Nama jenis : Helianthus annuus Linnaeus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DESKRIPSI MORFOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga matahari (Helianthus annuus), merupakan tanaman perdu. Rasa lembut, netral. Herba anual (umumya pendek, kurang dari setahun), tegak, berbulu, tinggi 1 - 3 m. Termasuk tanaman berbatang basah (herbaceus), daun tunggal berbentuk jantung sepanjang 15 sentimeter panjang dan 12 sentimeter lebar dengan gagang daunnya yang panjang kemas tersusun pada batang pokoknya yang keras dan berbulu. Pokoknya setinggi  90 – 350 cm, berbatang kecil, berbulu kasar dan hampir tidak bercabang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kepala bunga yang besar (inflorescence) dengan diameter bunga dapat sampai 30 cm, dengan mahkota berbentuk pita disepanjang tepi cawan dengan ukuran melintang antara 10 hingga 15 sentimeter, berwarna kuning, dan di tengahnya terdapat bunga - bunga yang kecil berbentuk tabung, warnanya coklat. Bila dibuahi, bunga-bunga kecil ini menjadi biji - bijinya yang berwarna hitam bergaris - garis putih itu berkumpul di dalam cawan. Bila sudah matang, biji - biji ini mudah dilepaskan dari cawannya. Bunga Matahari dikenal tumbuh ke arah matahari, perilaku ini dikenal dengan istilah heliotropik. Pada malam hari, bunga itu tertunduk ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga matahari (Helianthus annuus), ditanam pada halaman dan taman-taman yang cukup mendapat sinar matahari, sebagai tanaman hias. Tanaman ini cocok di segala alam tetapi tanaman ini paling subur di daerah pegunungan, daerah yang memiliki kelembaban cukup dan banyak mendapatkan sinar matahari langsung. Bunga matahari dapat tumbuh didataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga matahari tidak dapat hidup di daerah yang tergenang air. Karena akar-akarnya akan membusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga matahari merupakan tanaman semusim. Tanaman ini diperbanyak dengan biji. Biji benih berasal dari bunga pertama induknya yang sudah tua. Caranya dengan penyemaian. Biji benih diambil dan ditabur dalam bekas yang mengandung tanah basah, ia mudah berkecambah dan cepat membesar. Jika hanya butuh sedikit, cukup menggunakan pot sebagai wahana persemaian. Untuk skala besar, semaikan di bedengan. Tunggu 10 hari sejak masa tabur, atau bila tinggi bibit sekitar 15 - 20 cm, baru boleh dipindahkan ke lokasi tanam. Satu lubang, cukup satu bibit. Jarak tanam sekurang - kurangnya 1 meter persegi. Jika terlalu rapat, batang tak akan berkembang dan bercabang. Besaran bunga pun akan mengecil, bahkan kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman sebaiknya ditanam pada tanah gembur. Di awal penanaman, taburkan 3 kg pupuk kandang (kotoran ayam, kotoran kambing, kotoran lembu) per bibit. Ulangi saat tanaman berumur sebulan. Berikan 25 gram ZA per batang. Di usia 1,5 bulan, tambahkan 15 gram TSP per batang. Jangan lupa, perhatikan saluran pembuangan air, hama dan penyakit yang bisa mendera. Umur 2 bulan, bunga dari batang utama mulai kuncup, diikuti cabang - cabang di ruas - ruas daun di bawahnya. Satu batang tanaman bisa menghasilkan 10 - 12 tangkai bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemeliharaan lakukan penyiraman setidaknya sekali sehari. Spesies pokok hiasan ini mampu menarik serangga yang turut membantu proses pendebungaan untuk menghasilkan biji benih bagi pertumbuhan anak benih baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FITOKIMIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bunga : quercimeritrin, (flavon glikosida), sianidinmonogiukosida (antosian glikosida), xantofil, kholina, betaina, sapogenin, helianthoside A - B - C, oleanolic acid, echinocystic acid.&lt;br /&gt;2. Biji : Protein, globuiin, albumin, glutolin, asam amino esensial, Beta sitosterol, prostaglandin E, chlorogenic acid, quinic acid, phytin, dan 3,4 benzopyrene. Dalam 100 g minyak biji bunga matahari: Lemak total: 100, lemak jenuh: 9,8: lemak tidak jenuh: Oleat 11.7 dan linoleat 72.9, cholesterol:&lt;br /&gt;3. Buah : Minyak lemak dengañ kholina, lesitin, betaina, dan zat samak.&lt;br /&gt;4. Sumsum dari batang dan dasar bunga itu berisi kandungan hemicellulose yang menghambat sarcoma 180 dan Ehrlich ascitic carcinoma pada tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHASIAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bunga : antipiretik, hipotensif, menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa nyeri (analgetik), nyeri haid (dysmenorrhoe), nyeri lambung (gastric pain), sakit kepala, sakit gigi, sakit perut, tekanan darah tinggi, radang payudara (obat luar), radang persendian (obat luar), kosmetik (mencegah penuaan dini), dan sulit melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Akar : Anti inflamasi, analgesik, antitusif, diuretic, batuk, batu ginjal, bronkhitis, keputihan (leucorrhoe), anti radang, peluruh air seni, pereda batuk, dan menghilangkan nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Daun : Anti inflamasi, analgesik, antipiretik, anti radang, mengurangi rasa nyeri, dan anti malaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Biji : Anti dysentery, membangkitkan nafsu makan, lesu, sakit kepala, , disenteri berdarah, merangsang pengeluaran cairan tubuh (hormon, enzym, dll.), merangsang pengeluaran campak (measles).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sumsum dari batang dan dasar bunga (reseptaculum) : Merangsang energi vital, menenangkan liver, merangsang pengeluaran air kemih, menghilangkan rasa nyeri pada waktu buang air kemih, nyeri lambung, air kemih bedarah (hematuria), ari kemih berlemak (chyluria), kanker lambung, kanker esophagus dan malignant mole.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-675419500900838580?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/675419500900838580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=675419500900838580&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/675419500900838580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/675419500900838580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-bunga-matahari.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Bunga Matahari&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsm5D-_EVI/AAAAAAAAAK0/3oL20VSVXSE/s72-c/hari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-4229133947521183525</id><published>2008-12-19T10:57:00.000+07:00</published><updated>2008-12-19T11:07:49.032+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Hortikultura di Musim Hujan Kendala dan Kiat Mengatasinya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsduaxyqkI/AAAAAAAAAKs/z_LPUXhpOJ0/s1600-h/hujan.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 195px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsduaxyqkI/AAAAAAAAAKs/z_LPUXhpOJ0/s200/hujan.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281347671321389634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hujan datang lagi……!!! Begitulah luapan kegembiraan para petani menyambut datangnya hujan di pertengahan bulan oktober lalu. Bagaimana tidak? Kenyataan adanya kekeringan yang berkepanjangan telah membuat kita merana apalagi petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan memang selalu ditunggu banyak petani karena masa bero , gagal panen dan berebut air dapat segera diakhiri . Kedatangannya mampu menghijaukan kembali rumput dan hutan yang mengering; memunculkan harapan baru untuk dapat berhasil dalam bertani, serta memotong siklus hama yang telah menguras tenaga dan biaya di musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Budidaya sayuran selalu dilakukan sepanjang musim baik musim kemarau maupun musim hujan karena konsumen sayuran lebih menyukai produk segar dibandingkan dengan produk olahan. Hujan selain memudahkan petani untuk mendapatkan air dalam budidaya tanaman sayuran juga berarti sejumlah tantangan dan kendala yang akan datang dan mengancam keberhasilan panen atau menurunnya mutu produk sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan fisik yang muncul akibat hujan bagi lingkungan tumbuh tanaman adalah meningkatnya kelembaban udara dan meningkatnya kandungan air dalam tanah. Kedua hal tersebut berdampak pada percepatan perkembangan patogen baik jamur maupun bakteri, terganggunya keseimbangan nutrisi tanaman di dalam tanah serta munculnya kerusakan fisik lain berupa pecah batang , pecah buah juga robohnya tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teknik untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran akan disajikan dan dilengkapi dengan tinjauan penyakit - penyakit utama yang biasa menyerang tanaman di musim hujan, uraian singkat mengenai siklus air, proses kehilangan dan pergerakan nutrisi tanaman utama, serta uraian dampak genangan air pada tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kerusakan Tanaman Akibat Kelebihan Air&lt;br /&gt;Organ tanaman sayuran banyak yang bersifat sukulen atau mempunyai kandungan air yang tinggi. Karena air hujan juga mengandung cukup banyak nitrogen maka beberapa jenis sayuran cenderung lebih mudah pecah pada waktu hujan sebagai contoh pecahnya batang tanaman melon, pecah buah semangka dan pecah kubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat lain dari kebanyakan air bagi tanaman sayuran adalah munculnya gejala layu karena tanaman keracunan nitrogen. Prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu air memenuhi seluruh rongga udara di dalam tanah maka kebutuhan oksigen akar tidak terpenuhi. Pada kondisi cukup oksigen nitrogen tersedia bagi tanaman dalam bentuk NH4+ atau NO3- sedangkan pada kondisi anaerob atau tergenang air ion - ion nitrogen tersebut tereduksi menjadi NO2 yang sangat beracun bagi tanaman. Sebagian besar tanaman sayuran sangat peka terhadap kebanyakan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan air dalam tanah juga menyebabkan rendahnya daya dukung tanah terhadap tetap tegaknya tanaman menjadi rendah. Hal yang sering terjadi adalah robohnya tanaman akibat hujan angina meskipun tanaman sudah ditopang dengan lanjaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan lain yang disebabkan oleh limpahan air hujan adalah keseimbangan nutisi dalam tanah. Bentuknya dapat berupa rontoknya bunga dan buah serta turunnya mutu buah khususnya dalam kemanisan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik budidaya yang paling popular digunakan untuk mengurangi kelebihan air adalah dengan pembuatan saluran drainase. Terdapat dua macam cara pembuatan saluran drainase yaitu saluran drainase di atas permukaan tanah dan saluran drainase di bawah permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran drainase di atas permukaan tanah dimaksudkan untuk mengurangi genangan, mencegah kejenuhan air yang berkepanjangan dan mempercepat aliran ke arah pembuangan tanpa terjadinya erosi tanah. Drainase ini mencakup parit-parit pemasukan dan pembuangan dalam petak penanaman termasuk di dalamnya parit yang ada diantara bedeng penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran drainase di bawah permukaan dimaksudkan untuk memindahkan kelebihan air di dalam tanah. Drainase ini dapat menurunkan tingginya kandungan air baik karena curah hujan, air irigasi permukaan , limpasan dari dataran yang lebih tinggi, dan air resapan. Bentuknya bervariasi ada drainase gorong-gorong, drainase batu, drainase kotak dan drainase bamboo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kerusakan Akibat Meningkatnya Perkembangan Penyakit&lt;br /&gt;Datangnya musim hujan bulan Oktober hingga Maret ini selain memberikan persediaan air yang cukup bagi tanaman, ternyata juga dapat memberikan dampak negatif berupa lingkungan udara yang lembab. Kelembaban yang tinggi ini sangat kondusif bagi perkembangan tumbuhnya jamur maupun bakteri. Sayangnya, tidak hanya jamur dan bakteri yang menguntungkan yang hidup secara pesat dalam keadaan ini, melainkan juga yang merugikan. Bahkan disinyalir pertumbuhan jamur yang merugikan termasuk diantaranya penyebab berbagai penyakit tanaman bisa lebih tinggi. Akibatnya tentu saja resiko serangan penyakit di musim hujan menjadi lebih tinggi dibandingkan musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya penyakit pada tanaman hortikultura tentu saja merugikan karena selain dapat mengurangi produktivitas maupun kualitas, juga dapat menyebabkan kegagalan panen. Berikut adalah beberapa penyakit tanaman sayuran yang biasa dijumpai di musim hujan yang menyebabkan kegagalan atau menurunkan mutu produk sayuran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanaman Cabai&lt;br /&gt;Antracnose (Busuk Buah)&lt;br /&gt;Penyakit ini disebabkan oleh jamur Collectroticum gloeosporioides dan dilaporkan ditemukan di hampir seluruh dunia. Adapun gejala serangannya antara lain sebagai berikut : Pada buah muda ataupun tua permukaanya nampak bercak berair dan berkembang dengan cepat hingga berdiameter 3 – 4 cm. Bercak luka menurun dan berwarna merah tua kehitaman yang menampakkan massa spora yang berbentuk melingkar – lingkar. Adanya musim hujan dengan suhu dan kelembaban yang tinggi ini menjadi penyebab meningkatnya perkembangan jamur. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara : treatment benih, rotasi tanaman dan aplikasi fungisida Victory 80WP diselingi Promefon 250EC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cercospora Leaf Spot&lt;br /&gt;Penyakit ini sama halnya seperti cacar pada manusia yaitu menimbulkan bintik-bintik/bercak-bercak melingkar terutama pada daunnya. Penyebabnya tidak lain adalah jamur Cercospora capsici. Penyakit bercak daun ternyata menyebar merata di seluruh dunia khususnya pada tanaman cabai.&lt;br /&gt;Gejala serangan daun yang terluka berbentuk bulat dengan diameter 1 cm yang dikelilingi warna coklat dan berwarna abu - abu di tengahnya (seperti mata katak). Serangan yang terjadi menyebabkan daun rontok, baik dengan gejala daun menguning ataupun tanpa gejala daun menguning. Luka yang timbul pada batang, tangkai daun, dan tangkai buah berbentuk elips dengan pusat abu-abu yang dikelilingi warna gelap disekitarnnya. Buahnya tidak ikut terserang penyakit ini. Jamur ini terdapat pada benih dan seresah daun yang telah terkena serangan. Lamanya waktu hujan dan kebasahan daun serta jarak tanam yang rapat dapat mendorong perkembangan penyakit. Penyemprotan fungisida Victory 80WP dapat mengendalikan penyakit, tetapi perkembangannya bergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya apakah sesuai untuk perkembangan penyakit ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Choanephora Blight&lt;br /&gt;Penyakit ini merupakan penyakit layu pada ujung cabai yang disebabkan Choanephora cucurbitarum. Meskipun termasuk jarang karena hanya ditemukan di daerah tropis, namun kita tetap harus mewaspadainya. Gejala Serangan penyakit ini ditandai dengan ujung cabang yang menjadi layu. Jika diamati dengan teliti akan tampak keperakan yang berbentuk seperti jamur dengan ujung yang gelap. Jamur ini juga dapat membunuh bunga dan kuncup bunga. Tingginya curah hujan dan suhu di musim hujan sangat mempengaruhi keberadaannya. Karena informasi yang didapatkan sangat sedikit, pengendalian yang tepat dan efektif terhadap penyakit ini masih dalam penelitian. Namun demikian, penyemprotan fungisida Victory 80WP dan Kocide 77WP dapat mencegah serangan penyakit.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bacterial Spot&lt;br /&gt;Bacterial spot atau bercak bakteri pada tanaman cabai berbeda dengan bercak melingkar cercospora. Penyakit ini disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. Vesicatoria. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit cabai yang umum dialami petani karena ditemukan di seluruh dunia. Gejala Serangannya ditandai dengan timbulnya bercak berair yang mengering dengan dikelilingi warna kuning pada daun. Luka yang timbul dimulai dari bagian atas hingga mencapai bawah daun. Daun yang terkena serangannya menjadi kuning dan rontok. Luka pada buah berwarna gelap dan berbintik - bintik. Bercak nekrotis timbul pada batang dan tangkai daun. Perkembangan jamur ini disebabkan karena terbawa benih dan bisa berada pada seresah daun dari tanaman yang terserang. Banyak jenis bakteri ini yang menyerang cabai dan tomat. Penyakit ini juga didorong oleh suhu tinggi, kabut yang tebal, serta pengairan dengan system leb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendaliannya dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran dengan tanaman yang tahan dan non-sayur. Selain itu juga dengan menggunakan benih yang bebas hama dan penyakit. Jenis varietas yang tahan terhadap penyakit ini mulai banyak, tetapi terkadang tidak untuk semua jenis bakteri. Penyemprotan fungisida tembaga seperti Kocide 77WP sangat efektif dalam mengendalikan serangan penyakit ini. Sungkup untuk menahan hujan juga dapat mengurangi serangan penyakit ini di musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacterial Soft Rot&lt;br /&gt;Penyakit busuk lunak bakteri ini disebabkan oleh Erwinia carotovora sub sp. Carotovora dan ditemukan di seluruh dunia. Gejala Serangan ditandai dengan adanya bercak berair yang menyebar ke seluruh buah. Buah yang terserang menjadi rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Selama masa panen, pembusukan biasanya dimulai pada batang dan diikuti oleh buah. Penyakit ini ternyata tidak hanya menyerang cabai saja melainkan dapat terjadi pada berbagai macam buah dan sayuran. Bakteri penyebab penyakit ini terdapat pada seresah tanaman, serangga, bahkan di tanah. Bakteri ini masuk ke tanaman melalui luka yang ditimbulkan oleh serangga taupun luka mekanis.&lt;br /&gt;Kondisi hujan dan suhu yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan bakteri ini. Buah yang telah dipanen pun bisa terkena penyakit ini dari air yang digunakan untuk mencuci buah. Untuk mengendalikannya dapat dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non - sayur. Selain itu system darinase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Jika memungkinkan sebisa mungkin menghindari mencuci buah dengan air sembarang sebelum disterilisai dengan klorin.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bacterial Wilt&lt;br /&gt;Bacterial Wilt atau layu bakteri pada cabe yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum ini termasuk salah satu penyakit yang ditakuti petani cabe. Meskipun hanya ditemukan di daerah tropis dan subtropics yang memiliki curah hujan tinggi saja namun kerusakan akibat penyakit ini tidaklah sedikit karena bisa mengancam kegagalan panen yang cukup besar. Awal gejala serangan yang timbul adalah adanya layu pada daun terbawah (atau daun teratas pada bibit) yang diikuti oleh layu yang tiba - tiba pada seluruh tanaman tanpa adanya gejala kekuningan pada tanaman. Penyakit ini timbul pada sekelompok tanaman saja atau mungkin hanya satu tanaman saja. Jaringan angkut tanaman sakit menjadi coklat serta pembusukan pada korteks yang dekat dengan tanah. Aliran bakteri akan muncul dari jaringan angkut tanaman yang dipotong melintang dari batang terbawah dan akan mengendap di air. Penyakit ini dapat menyerang hampir pada 200 jenis tanaman yang berbeda. Tanaman yang sering terserang adalah tomat, tembakau, kentang dan terung, disamping itu juga sangat merusak pada tanaman cabai. Bakteri ini dapat bertahan di tanah dalam waktu lama. Masuknya bakteri ini melalui luka pada akar ataupun luka akar yang disebabkan oleh serangga, nematode, atau pengolahan tanah. Suhu yang tinggi dan kelembaban tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Pengendalian penyakit layu dapat dilakukan antara lain : dengan menggunakan bedeng semai yang bebas dari hama dan penyakit, melakukan fumigasi pada bedeng semai serta sterilisasi media tanam. Kemudian lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman lain seperti padi misalnya, pergiliran ini akan mengurangi jumlah bakteri. Hindari system penanaman yang dapat merusak akar. Gunakan bedengan yang lebih tinggi untuk memudahkan drainase. Cabai besar lebih tahan terhadap penyakit ini dibanding paprika. Jenis yang tahan terhadap penyakit ini sedang dikembangkan tetapi belum tersedia. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 gr / L dengan volume semprot 200 ml / tanaman saat tanaman mulai berbuah atau mulai ada gejala serangan dengan interval 14 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanaman Kubis - kubisan&lt;br /&gt;Alternaria Leaf Spot&lt;br /&gt;Seperti halnya pada tanaman cabe, bercak alternaria pun dapat menyerang kubis - kubisan. Namun, penyakit pada kubis ini disebabkan oleh Alternaria brassicae, A. brassicicola. Hampir seluruh tanaman kubis - kubisan sangat peka terhadap bercak daun Alternaria dan dapat menyerang tanaman pada seluruh fase pertumbuhan. Gejala yang ditimbulkan oleh 2 pathogen ini sama dan bisa ditemukan dalam satu tanaman. Serangan pada tanaman di persemaian dapat mengakibatkan damping off atau tanaman kerdil. Bentuk Bercak daun sangat beragam ukurannya dari sebesar lubang jarum hingga yang berdiameter 5 cm. Umumnya serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Perubahan warna menjadi coklat pada head cauliflower dan brokoli juga disebabkan oleh pathogen ini. Patogen ini juga menimbulkan bercak elips nekrotis pada benih. Penyakit ini disebabkan oleh patogen yang terbawa benih. Alternaria sendiri dapat disebarkan oleh angin. Serangan dapat dipercepat oleh cuaca yang lembab dengan suhu optimum antara 25 – 30oC. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain : menggunakan benih yang bebas dari patogen ini. Air panas dan perlakuan benih dengan bahan kimia juga sangat efektif. Kemudian , penggunaan fungisida Promefon 250EC juga dapat diterapkan untuk mengendalikan perkembangan beberapa penyakit. Hindari penyiraman pada head cauliflower dan brokoli untuk mencegah pembusukan head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacterial Soft Rot&lt;br /&gt;Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis - kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis. Jaringan tanaman yang telah terserang menunjukkan gejala basah dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Tanaman yang terkena busuk lunak menimbulkan bau yang khas yang dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan terjadi. Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri.&lt;br /&gt;Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 – 37oC dengan suhu optimum berkisar 22oC. Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Black Rot&lt;br /&gt;Penyakit busuk hitam (Black rot) yang disebabkan Xanthomonas campestris pv. Campestris termasuk salah satu penyakit penting pada tanaman kubis - kubisan. Busuk hitam dapat menyerang seluruh tanaman kubis - kubisan. Gejala awal yang timbul adalah pada tepi daun dan berlanjut hingga klorosis membentuk huruf V. Dengan berjalannya waktu, gejala yang timbul tadi kemudian mengering dan seperti terbakar (nekrotis). Serangan umumnya terjadi pada pori daun, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat menyerang di bagian daun mana saja yang telah terserang serangga ataupun luka secara mekanis sehingga memudahkan bakteri masuk. Bakteri ini menyerang jaringan pengangkutan tanaman dan dapat berpindah secara sistematis dalam jaringan pengangkutan tanaman tersebut. Jaringan angkut yang terserang warnanya menjadi kehitaman yang dapat dilihat sebagai garis hitam pada luka atau bisa juga diamati dengan memotong secara melintang pada batang daun atau pada batang yang terkena infeksi. Busuk hitam juga dapat menyebabkan terjadinya busuk lunak. Bakteri banyak terdapat pada seresah dari tanaman yang terinfeksi, tetapi akan mati jika serasah tadi melapuk. Bakteri ini juga terdapat pada tanaman kubis - kubisan yang lain dan tanaman rumput-rumputan serta dapat pula terbawa benih. Suhu serta curah hujan yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan busuk hitam. Bakteri ini berada pada tetesan butir air dari tanaman yang terluka serta dapat menyebar ke seluruh tanaman melalui manusia ataupun peralatan yang sering bergerak melintasi lahan saat kondisi tanaman sedang basah.Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis - kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi seresah dari tanaman kubis - kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77WP sangat dianjurkan , terutama untuk budidaya di musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clubroot&lt;br /&gt;Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis - kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia; sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi . Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan sangat rentan terserang akar gada. Kubis, sawi putih, dan Brussels sprout sangat rentan terkena akar gada. Gejalanya adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput - runputan. Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena. Penyakit ini menyukai tanah yang masam dan serangan dapat terjadi pada suhu antara 10 dan 32oC. Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini.&lt;br /&gt;Pengendalian dilakukan dengan Penggunaan bibit yang bebas hama dan penyakit sangatlah penting dalam budidaya tanaman ini. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang taha haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda-beda di setiap lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanaman Timun-timunan&lt;br /&gt;Alternaria Leaf Spot&lt;br /&gt;Penyakit bercak ternyata tidak hanya menyerang tanaman kubis maupun cabai saja namun juga pada tanaman yang tergolong timun - timunan. Penyakit bercak pada timun ini disebabkan jamur Alternaria cucumerina. Biasanya, penyakit ini menyerang hanya satu jenis tanaman saja. Tanaman dapat terserang pada berbagi fase pertumbuhan. Serangan pada bibit tanaman dapat menyebabkan mati atau kerdil. Sedangkan pada tanaman yang lebih tua akan layu pada tengah hari pada beberapa waktu, kemudian layu untuk seterusnya dan akhirnya mati. Jaringan angkut tanaman menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama. Penyakit ini bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin - mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, dan air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan : menggunakan varietas yang tahan. Menghindari penanaman di lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Serta mencuci peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah. Apabila terlanjur ada serangan, dianjurkan untuk menyemprot fungisida Promefon 250EC bergantian dengan Victory 80WP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fusarium Wilt&lt;br /&gt;Layu fusarium merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman famili timun - timunan. Penyebabnya adalah Fusarium oxysporum f.sp. cucumerinum pada mentimun, F. oxysporum f.sp. melonis pada melon cantaloupe; dan F. oxysporum f.sp. niveum pada semangka. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, namun beberapa jenis terdapat hanya pada lokasi tertentu saja. Seperti halnya penyakit alternaria, penyakit ini hanya menyerang satu jenis tanaman saja. Tanaman yang terserang bisa terjadi pada berbagai tahap pertumbuhan. Mulai dari bibit hingga tanaman tua. Baik saat bibit maupun tanaman dewasa , serangan penyakit ini dapat meyebabkan layu yang akhirnya mati. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat.Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin - mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Adapun pengendalian nya dapat dilakukan dengan : menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan. Hindari lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Cucilah peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Downy Mildew&lt;br /&gt;Downy Mildew termasuk penyakit yang paling merusak pada tanaman timun-timunan yang disebabkan oleh jamur Pseudoperonospora cubensis. Penyakit ini banyak terdapat pada mentimun dan melon, tetapi sesekali menyerang dapat merusak seluruh tanaman timun-timunan. Gejala yang timbul biasanya terjadi pada daun yang berupa bercak kekuningan yang berubah dari kecoklatan menjadi coklat tua. Saat kelembaban tinggi, timbulnya spora menjadi bukti pada bagian bawah daun yang luka dimana spora tadi masuk ke dalam daun melalui stomata dan menghasilkan spora yang berwarna. Penyakit ini merupakan parasit yang dapat berada pada tanaman yang dibudidayakan, tanaman local / induk, ataupun jenis timun-timunan yang liar di daerah tropis dan subtropics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spora yang terbawa oleh udara atau percikan air hujan menjadi penyebab utama penyebaranya. Selain itu, adanya perbedaan suhu yang tinggi ditambah dengan kelembaban yang tinggi dari embun , kabut, atau hujan mempengaruhi pesatnya penyebaran sporanya. Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan bila ada. Penyemprotan fungisida Starmyl 25WP dicampur Victory 80WP sangat dianjurkan jika tidak ada varietas yang tahan dan guna mencegah serta mengendalikan penyakit agar tidak meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Late Blight&lt;br /&gt;Busuk Daun atau Late Blight merupakan penyakit busuk pada tanaman tomat yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans. Penyakit ini ditemukan di iklim sedang dan daerah datarn tinggi tropis. Penyakit late blight ini tidak hanya menyerang bagian daun saja melainkan juga batang serta buahnya. Pada bagain daun serangan ditandai dengan munculnya potongan - potongan kecil yang tidak beraturan dan berair serta menutupi bagian terbesar daun. Pembentukan spora jamur dapat dilihat pada sisi bawah daun dan berwarna putih. Kemudian luka mengering dan menjadi coklat. Akhirnya terjadi bercak pada seluruh daun. Pada bagian batang penyakit ini ditandai dengan muncul luka - luka kecil yang tidak beraturan dan berair dan dapat mematikan bagian batang dan tangkai daun yang terserang, atau menempel, dan membentuk luka berwarna coklat tua. Sedangkan pada bagian buahnya ditunjukkan dengan permukaan halus, kehijauan hingga coklat, bagian yang memiliki bentuk tidak beraturan tersebut membuat buah menjadi kasar dan permukaan buah menjadi ulet. Luka dapat melebar pada seluruh buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun yang basah dalam waktu yang lama dari seringnya hujan atau embun, serta kondisi suhu dingin hingga sedang merupakan kondisi yang sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Adanya cuaca yang kering dan panas dapat menghentikan perkembangan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur penyebab penyakit busuk daun dapat bertahan pada tanaman tomat dan kentang terutama pada umbi kentang. Tetapi tidak dapat bertahan pada jaringan yang melapuk. Spora menyebar melalui angin dan percikan air hujan. Air yang berada di permukaan tanaman pun bisa menyebabkan perkecambahan dan penyerangan spora. Pengendalian dapat dilakukan dengan memberikan fungisida seperti Starmyl 25WP (Metalaksil), Victory 80WP (Mancozeb), Kocide 77WP (tembaga hidroksida). Gunakan tanaman yang bebas hama dan penyakit. Hindari penanaman tomat dekat lahan kentang atau lahan yang sebelumnya pernah ditanami kentang. Bakar seresah tanaman tomat atau kentang yang terinfeksi. Beberapa tanaman memiliki ketahanan terhadap jenis 0, tapi tidak tahan terhadap jenis 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacterial Wilt&lt;br /&gt;Seperti halnya pada tanaman cabe, penyakit layu bakteri juga bisa menyerang tanaman tomat. Namun, penyebabnya adalah Ralstonia solanacearum, yang sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas solanacearum. Serangan paling parah terdapat di daerah tropis dan subtropics dengan curah hujan tinggi. Penyakit layu bakteri menyerang hanya pada beberapa kelompok tanaman saja. Gejala awal ditunjukkan berupa layu pada daun - daun pucuk, dua hari kemudian layu mendadak dan permanent. Akar adventis dapat berkembang pada batang utama. Gejala tambahan berupa pencoklatan pada jaringan pembuluh, jaringan gabus berair dan diikuti pencoklatan dan kemudian pecoklatan jaringan kortek yang dekat dengan tanah. Aliran masa bakteri dapat dilihat ketika potongan batang yang masih segar dicelupkan dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara beberapa tanaman hortikultura yang ada, tomat merupakan tanaman yang paling peka terhadap penyakit ini. Bakteri penyebab layu ini ternyata dapat bertahan di dalam tanah dalam waktu yang lama meskipun tanpa adanya tanaman inang. Bakteri ini menembus akar melalui luka, yang dapat disebabkan oleh serangga, nematode dan luka akibat praktek budidaya. Suhu dan kelembaban tanah yang tinggi sangat kondusif / cocok untuk pertumbuhan penyakit ini. Hingga saat ini belum ada pengendalian secara kimiawi yang effektif . Namun untuk pencegahan sebaiknya sebelum tanam, perlu dilakukan sterilisasi tanah atau pengasapan bedengan. Pergiliran system tanam dengan tanaman tahan kurang berhasil, namun demikian pergiliran dengan tanaman padi dapat mengurangi gejala sengan penyakit layu bakteri. Varietas yang toleran dapat bertahan hingga 70 – 80%. Gunakan bedengan yang tinggi agar drainase dapat berjalan baik. Menjaga tanah agar tetap pada pH 5.5 atau lebih tinggi. Hindari penggunaan lahan yang telah terinfeksi oleh nematode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blossom End Rot&lt;br /&gt;Busuk Ujung Buah atau Blossom End Rot juga termasuk penyakit penting pada tanaman tomat terutama di musim hujan. Penyakit ini ditandai dengan adanya luka berwarna kecoklatan sampai coklat tua pada bagian ujung buah yang nampak cekung. Luka tersebut membesar dan menjadi lebih cekung dan kulit mengelupas, kemudian diikuti oleh busuk kering. Jamur berwarna hitam tumbuh pada permukaan yang luka. Busuk ujung buah bukanlah disebabkan oleh penyakit namun lebih disebabkan oleh kekurangan unsur kalsium. Kondisi musim hujan yang ada berdampak pada berkurangnya serapan unsur kalsium pada tanaman tomat antara lain sehingga menimbulkan fluktuasi kelembaban tanah maupun kemasaman tanah, penggunaan nitrogen dalam bentuk ammonium, pemupukan nitrogen yang berlebihan, kelembaban relatif yang tinggi dan kerusakan akar. Yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan. Agar tidak terjadi hal seperti ini maka dianjurkan : menggunakan varietas yang lebih tahan terhadap penyakit ini. Jika perlu, berikan kapur atau pemupukan kalsium sebelum tanam. Irigasi selama cuaca kering dan gunakan mulsa agar kelembaban tanah tempat tumbuh tanaman konstan. Perawatan tanaman harus hati - hati untuk mengurangi resiko kerusakan akar. Hindari penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan, khususnya dalam bentuk ammonium. Hindari pula lahan yang sulit diairi atau yang mempunyai tingkat kemasaman tinggi. Penyemprotan pupuk mikro FItomic setiap minggu mulai awal pembentukan buah sangat mengurangi timbulnya penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-4229133947521183525?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/4229133947521183525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=4229133947521183525&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/4229133947521183525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/4229133947521183525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-hortikultura-di-musim-hujan.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Hortikultura di Musim Hujan Kendala dan Kiat Mengatasinya&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsduaxyqkI/AAAAAAAAAKs/z_LPUXhpOJ0/s72-c/hujan.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-6994673750582167313</id><published>2008-12-19T10:03:00.000+07:00</published><updated>2008-12-19T10:36:45.248+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Gladiol (Gladiolus hybridus)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsWRLjloNI/AAAAAAAAAKk/VJDEZJ1h4uE/s1600-h/gladiol.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsWRLjloNI/AAAAAAAAAKk/VJDEZJ1h4uE/s200/gladiol.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281339472437682386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae.&lt;br /&gt;Gladiol berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil, seperti bentuk daunnya. Berasal dari Afrika Selatan dan menyebar di Asia sejak 2000 tahun. Tahun 1730 mulai memasuki daratan Eropa dan berkembang di Belanda.&lt;br /&gt;Tanaman gladiol yang termasuk subklas Monocotyledoneae, berakar serabut, dan tanaman ini membentuk pula akar kontraktil yang tumbuh pada saat pembentukan subang baru. Kelebihan dari bunga potong gladiol adalah kesegarannya dapat bertahan lama sekitar 5 - 10 hari dan dapat berbunga sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi tanaman gladiol adalah sebagai berikut: Divisi : Tracheophyta&lt;br /&gt;Subdivisi : Pteropsida&lt;br /&gt;Klas : Angiospermae&lt;br /&gt;Subklas : Monocotyledoneae&lt;br /&gt;Ordo : Iridales&lt;br /&gt;Famili : Iridaceae&lt;br /&gt;Genus : Gladiolus&lt;br /&gt;Spesies : Gladiolus hybridus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian tahun 1988, Indonesia mengenal 20 varietas gladiol dari Belanda kemudian diuji multi lokasi di kebun percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas. Tiga varietas diantaranya memiliki penampilan yang paling indah,&lt;br /&gt;(warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama), yaitu: White godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan Priscilla (putih). Ragam jenis bunga gladiol adalah : a) Gladiolus gandavensis, berukuran besar, susunan bunga terlihat bertumpang tindih, panjang 90-150 cm.&lt;br /&gt;b) Gladiolus primulinus. berukuran kecil, sangat menarik. Bertangkai halus tetapi kuat dan panjangnya mencapai 90 cm.&lt;br /&gt;c) Gladiolus ramosus. Panjang tangkai bunga 100-300 cm.&lt;br /&gt;d) Gladiolus nanus. Tangkai bunga melengkung, dan panjang hanya 35 cm.&lt;br /&gt;Beberapa kultivar bunga gladiol lainnya yang telah di uji di Indonesia adalah: Red Majesty, Priscilla, Oscar, Rose Supreme, Sanclere, Dr. Mansoer, Albino, Salem, Marah Api, Queen Occer, Ceker dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;Gladiol di produksi sebagai bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi. Dan memiliki nilai estetika. Bunga potong&lt;br /&gt;juga merupakan sarana peralatan tradisional, agama, upacara kenegaraan dan keperluan ritual lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;Sentra produksi bunga gladiol di Indonesia untuk daerah Jawa Barat terdapat di Parongpong (Bandung), Salabintana Sukabumi) dan Cipanas (Cianjur). Di Jawa tengah terdapat di daerah Bandungan (Semarang) sedangkan di Jawa Timur berada di daerah Batu (Malang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT PETUMBUHAN&lt;br /&gt;5.1. Iklim 1) Gladiol membutuhkan curah hujan rata - rata 2.000-2500 mm/tahun. Di Indonesia gladiol dapat ditanam sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.&lt;br /&gt;2) Tanaman gladiol membutuhkan sinar matahari penuh untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan kurang optimal akan menyebabkan bunga mengering dan floret tidak terbentuk secara normal. Kekurangan cahaya terjadi pada waktu pembentukan daun ke 5, 6, dan 7, yang menyebabkan kekeringan tampak pada kuncup bunga saja. Kultifat Eurovision, Peter, Friendship, Jessica, dan Mascagni kurang peka terhadap cahaya matahari.&lt;br /&gt;3) Tanaman gladiol tumbuh baik pada suhu udara 10 - 25 derajat C. Suhu udara ratarata kurang dari 10 derajat C akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat, jika berlangsung lama pertumbuhan tanaman dapat terhenti. Suhu udara maksimum pertumbuhan gladiol adalah 27 derajat C, kadang - kadang dapat menyesuaikan diri sampai suhu udara 40 derajat C, bila kelembaban tanah dan tanaman relatif tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;1) Jenis tanah yang cocok untuk tanaman gladiol adalah andosol dan latosol yang subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik.&lt;br /&gt;2) Tanaman bunga gladiol dapat tumbuh subur diatas tanah yang memiliki pH 5,5 - 5,9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Tanaman gladiol dapat tumbuh dengan baik di daerah ketinggian 500 - 1500 m dpl dan beriklim sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;Bibit dapat berasal dari pembiakan generatif, vegetatif, dan kultur jaringan. Umumnya, pembibitan yang berasal dari vegetatif dan kultur jaringan lebih cepat dapat dipetik hasilnya dari pada pembibitan dengan cara generatif.&lt;br /&gt;1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;rawabelong.com ; komunitas bunga, tanaman hias dan ikan hias rawabelong&lt;br /&gt;http://rawabelong.com Powered by: Joomla! Generated: 17 December, 2008, 10:40&lt;br /&gt;Bibit dari subang bibit yang baik menghasilkan bunga berdiameter minimum 2,5 cm, kecuali untuk kultivar Golden Boy yang cukup berdiameter 1 cm. Bibit harus dipilih yang sehat, tidak cacat. Bibit vegetatif yang baik yang mempunyai daya kecambah lebih dari 90%. Bibit generatif harus berasal dari induk dengan pertumbuhan baik dan cukup umur.&lt;br /&gt;2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;Perbanyakan generatif gladiol dengan biji, digunakan untuk mendapatkan kultivar baru bukan untuk tujuan bibit produksi. Biji didapat dengan cara penyerbukan buatan dibantu manusia. Perbanyakan vegetatif gladiol dilakukan dengan menggunakan umbi (anak subang), bibit belah (subang belah), kultur jaringan maupun suspensi sel. Umbi dan anakan umbi diambil dari tanaman yang sudah dipanen. Teknik kultur jaringan&lt;br /&gt;merupakan salah satu cara alternatif untuk menanggulangi kendala-kendala dalam perbanyakan secara konvensional. Bibit (subang) yang dibutuhkan untuk 1 hektar lahan adalah sekitar 213.063 buah. Subang dan anak subang yang akan dijadikan bibit tidak dapat segera tumbuh bila ditanam meskipun pada lingkungan&lt;br /&gt;tumbuh yang cocok dan optimal, karena memerlukan masa dormansi. Selama masa dormansi subang dan anak subang yang telah kering disimpan ditempat yang beraliran udara baik dan terhindar dari cahaya matahari langsung. Subang yang telah dipisahkan dari batangnya disimpan selama ± 2 minggu.&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;Biji gladiol dapat langsung disemai, tanpa mengalami masa dormansi, biji akan berkecambah setelah 7 - 12 hari. Daun yang tumbuh dari biji hanya berjumlah 1 - 2 helai. Tanaman tumbuh sampai kira - kira 5 bulan dan menghasilkan anak subang yang berdiameter kurang dari 1 cm. Anak subang ini kemudian memasuki masa dormansi.&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;Penanaman gladiol dengan bibit anak subang yang baru muncul dari stolon yang menghubungkan subang induk dengan subang baru. Perbanyakan dengan menggunakan anak subang yang berdiameter sekitar 1,0 cm memerlukan 2 kali penanaman untuk mencapai ukuran subang yang dapat menghasilkan bunga. Penanaman pertama dari anak subang tersebut memerlukan waktu sekitar 4 bulan hingga panen subang kecil.&lt;br /&gt;Subang kecil hasil panen pertama akan berdiameter sekitar 2 cm. Subang kecil setelah dipanen akan mengalami masa dormansi minimal 3,5 bulan. Setelah masa dormansi terlewati, subang kecil dapat ditanam kembali. Waktu yang diperlukan untuk penanaman kedua kira-kira sama dengan waktu penanaman pertama. Subang dari panenan kedua&lt;br /&gt;akan berdiameter 3 cm dan merupakan bibit yang siap berbunga. Untuk rata - rata setiap kultivar gladiol, anak subang yang berdiameter sekitar 1 cm akan menjadi subang bibit yang siap berbunga dalam waktu 16 bulan.&lt;br /&gt;5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;Bibit gladiol siap ditanam bila sudah melewati masa dormansinya dengan ciri munculnya akar berupa tonjolan kecil berwarna putih melingkar dibagian bawah subang. Pecahnya dormansi juga ditandai dengan munculnya mata tunas. Bila tunas mencapai tinggi 1 cm, maka subang siap ditanam. Penanaman yang terlambat menyebabkan tunas semakin tinggi dan akar semakin panjang, sehingga akan terjadi kerusakan akar pada waktu penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;Lahan yang akan di tanami gladiol perlu di ukur pH tanahnya. Bila sesuai dengan pH tanah yang disyaratkan, lakukan pengukuran luas lahan yang akan ditanami. Kemudian analisa jenis tanah, apa bila lahan tersebut sebelumnya pernah ditanami gladiol sebaiknya tanah didiamkan minimal selama satu tahun.&lt;br /&gt;2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Lahan yang telah dianalisa, diukur dan dibersihkan dari gulma, batu-batuan, serta tanaman liar lain, kemudian bajak dan dicangkul sampai gembur. Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan 2 minggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Bila pemanenan bunga dilakukan setiap saat, maka lahan yang digunakan sebaiknya dibuat beberapa petak. Pemetakan lahan dimaksudkan agar dapat diatur mana untuk lahan yang akan diolah, ditanami, dan dipanen. Pada&lt;br /&gt;setiap petakan dibuat selokan (saluran air), agar drainase baik dan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Lahan selanjutnya diberi pupuk dasar agar tanah tidak kekurangan unsur haranya. Luas arel petakan dibuat sesuai dengan kebutuhan, Bila kebutuhan pasar sebanyak 1.000 tangkai setiap dua minggu, maka dibutuhkan lahan seluas 600 m2. Lahan dibuat menjadi 7 petak dengan luas setiap petak 72 m2.&lt;br /&gt;4) Pengapuran&lt;br /&gt;Pengapuran dilakukan pada tanah yang memiliki derajat kemasaman tanah (pH) kurang dari 5,5.&lt;br /&gt;5) Pemupukan&lt;br /&gt;Pemberian pupuk dasar dilakukan pada saat tanam. Pupuk yang diberikan adalah yang mengandung unsur N, K, Ca dan P, yang diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;Tanaman gladiol dapat ditanam dengan sistem guludan atau tanpa guludan. Jika pengairan menggunakan cara leb, maka penanaman sebaiknya dengan guludan agar air irigasi tidak merusak struktur tanah. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam cara penanaman adalah tempat dan waktu penanaman serta jarak dan kedalaman tanaman. Tempat&lt;br /&gt;penanaman gladiol harus terkena cahaya matahari langsung. Atap plastik yang tembus cahaya dan bersih digunakan untuk menghindari kerusakan akibat hujan. Jadwal penanaman disesuaikan dengan kebutuhan berkisar antara 60 - 80 hari, karena umur tanaman tergantung pada kultivarnya.&lt;br /&gt;2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat dengan mencangkul lahan sedalam 10-15 cm, untuk subang berdiameter = 2,5 cm.&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;Subang ditanam setelah masa dormansi sekitar 3,5 bulan. Cara penanaman dengan guludan, yang disesuaikan dengan kedalaman tanam subang gladiol. Bila kedalaman 10 - 15 cm, maka tinggi guludan dibuat = 15 cm dengan anggapan bahwa lapisan tanah atas lambat laun akan menurun. Bila dilakukan tanpa guludan maka sering kali tanaman rebah atau tangkai bunga bengkok yang menyebabkan turunnya kualitas bunga. Kerapatan tanaman perlu diperhatikan karena menentukan kekekaran tanaman dan kualitas bunga. Jika jumlah tanaman per meter persegi terlalu banyak, maka tanaman akan menjadi lemah dan panjang. Semakin kecil diameter subang maka kerapatan tanam semakin besar.&lt;br /&gt;Untuk anak subang berdiameter kurang dari 1 cm, biasanya ditanam dalam barisan pada guludan. Jarak tanam untuk subang berdiameter = 4 cm adalah 20 x 20 cm sedangkan untuk subang yang berdiameter lebih kecil ditanam lebih rapat.&lt;br /&gt;Dalam menentukan kedalaman tanam yang perlu diperhatikan adalah tekstur tanah dan waktu tanam. Pada tekstur tanah yang berat, (tanah liat dan berlempung) subang harus ditanam lebih dangkal dari pada tanah yang ringan dan berpasir. Pada musim kemarau subang ditanami lebih dalam dibanding musim penghujan. Suhu tanah akan lebih rendah pada tempat yang lebih dalam. Letak bibit yang dangkal, terutama pada tanah berpasir, akan mengakibatkan tanaman mudah rebah.&lt;br /&gt;4) Pemberian Ajir&lt;br /&gt;Pemberian ajir pada tanaman bunga gladiol dilakukan apabila tanaman rebah atau tangkai bunga bengkok yang menyebabkan turunnya kualitas bunga. Hal ini dapat terjadi bila penanaman bunga dilakukan tanpa menggunakan guludan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan gulma pada pertanaman anak subang penting karena gulma dapat menutupi pertumbuhan anak subang sehingga pertumbuhan terhambat dan menyulitkan dalam pemanenan. Penyiangan biasa dilakukan sebelum pemberian pupuk N (saat berumur sekitar 25 hari setelah tanam) dan dilakukan tiga kali dalam satu siklus tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Pembubunan&lt;br /&gt;Pembubunan dilakukan bersamaan waktunya dengan penyiangan, untuk menjaga agar subang baru yang tumbuh tidak terlihat di atas tanah.&lt;br /&gt;-Pemupukan&lt;br /&gt;Tanaman gladiol memerlukan pemupukan agar tanaman tumbuh cepat dan berproduksi dengan baik. Jumlah pupuk yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada tekstur tanah, keadaan lingkungan, curah hujan, pengairan dan kandungan hara di dalam tanah. Pada tanah berpasir, diperlukan pemupukan lebih sering terutama pada musim penghujan. Pemupukan dilakukan dua kali (umur 20 hari dan 45 hari setelah penanaman).&lt;br /&gt;Dosis pemupukan gladiol 90-135 kg N (diberikan sebagian dalam bentuk nitrat, sebagian lagi amonium), 90-180 kg P (sebagai P2O5) dan 110-180 kg K (sebagai K2O) per hektar pada tanah berpasir. Pupuk diberikan tidak sekaligus, pertama saat tanam, ( pupuk K dan P), setelah tanam membentuk 2-3 helai daun diberikan pupuk N sepertiga dosis. Pemberian pupuk N kedua dan ketiga masing-masing dilakukan pada saat mulai terbentuknya primordia bunga dan setelah panen bunga. Pemupukan terakhir sangat penting guna pembesaran subang dan pembentukan anak subang. Pupuk yang digunakan biasanya TSP dan Urea, masing-masing sebanyak satu sendok teh untuk setiap tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;Pengairan harus diperhatikan karena drainase berpengaruh terhadap tanaman. Penyiraman dilakukan hanya apabila tanah mulai kering (musim kemarau). Waktu Penyemprotan Pestisida Kerusakan tanaman gladiol dapat disebabkan oleh hama atau penyakit, yang dapat diatasi dengan pestisida yang tepat. Penanggulangan serangan hama digunakan pestisida padat (Aldikarb), dengan dosis 300 gram/100 m2 air. Digunakan pestisida cair (Permetrin dan deltametrin) dosis 5 cc per 100 m2. Pemberantasan penyakit digunakan pestisida Procymidon, dosis 5 gram/100 m2, atau Kaptofol, dosis 400 gram/100 liter air. Pemberian pestisida sebaiknya setelah&lt;br /&gt;tanaman berumur 50 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;1) Thrips gladiol (Taeniothrips simplex / Mor)&lt;br /&gt;Hama ini sering dijumpai disetiap area pertanaman gladiol di seluruh dunia, yang dapat menimbulkan kerusakan berat (di lapangan).&lt;br /&gt;Gejala: bercak - bercak berwarna keperak - perakan pada permukaan daun, merusak jaringan daun / bunga dan mengisap cairan yang keluar dari bagian tanaman dengan menggunakan alat mulutnya. Tanaman yang terserang hama ini akan timbul bercak-bercak putih dan akhirnya menjadi coklat dan mati. Serangga muda (nimfa) berwarna kuning pucat dan lebih suka makan pada bagian bunga dan kuncup. Panjang tubuh hama dewasa ± 2,5 mm, berbentuk ramping, pipih, berwarna coklat tua atau hitam.&lt;br /&gt;Pengendalian: dapat dilakukan dengan penyiangan gulma atau dengan menggunakan insektisida yang mengandung dimetoat, endusolfan, formothion, karbaril, merkaptodimetur dan metomil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kutu putih (Pseudococcus sp.)&lt;br /&gt;Gejala: menyerang umbi gladiol saat penyimpanan, dan di lapangan, dengan menusukan alat mulutnya kedalam umbi untuk menghisap cairan tanaman, sehingga tunas / akar terhambat pertumbuhannya dan gagal panen. Pada serangan berat umbi jadi keriput, kering dan mati. Ukuran tubuh serangga dewasa betina 4 mm dan mampu bertelur sampai 200 butir (diletakan berkelompok).&lt;br /&gt;Pengendalian: merendam subang dalam larutan insektisida 30-60 menit, yang mengandung bahan aktif asefat, nikotin, triazofos, kuinalfos dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ulat pemakan daun (Larva Lepidoptera)&lt;br /&gt;Gejala: hama ini menyerang dengan membuat lubang-lubang pada permukaan daun dan bunga. Bentuk, warna, ukuran larva - larva sebagai minor pest pada tanaman gladiol sangat bervariasi, tergantung pada spesiesnya. Panjang ulat famili Lymantriidae mencapai 3,5 - 4,0 cm.&lt;br /&gt;Penanggulangan: menyemprot insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;1) Layu fusarium (Penyakit busuk kering fusarium)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan F. oxysporum var. gladiol atau F. orthoceras var gladiol.&lt;br /&gt;Gejala: daun gladiol yang terserang menguning, agak memilin. Pada serangan yang lebih lanjut, pertumbuhan tanaman kerdil dan mudah patah. Pada subang yang terserang tampak bercak dan dalam keadaan lembab hifa patogen yang berwarna putih seperti kapas menutupi permukaan bercak tadi dan menjalar kebagian tanaman lainnya.&lt;br /&gt;Pengendalian: menyimpan subang ditempat tidak lembab serta merendam sebelum ditanam, kedalam larutan suspensi fungisida benlate selama 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Busuk kering&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Botrytis cinerea atau B. gladiolorum.&lt;br /&gt;Gejala: bunga berbintik - bintik, berkembang menjadi bercak - bercak, subang yang terserang busuk daun bintik - bintik agak kelabu, kemudian berkembang menjadi bercakbercak berwarna hitam keabu - abuan. Pengendalian: menganginkan (mengeringkan) subang yang dipanen sebelum disimpan pada tempat yang kering atau dengan menyemprotkan fungisida captan, zineb atau nabam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Busuk keras&lt;br /&gt;Penyebab: Septoria gladioli.&lt;br /&gt;Gejala: sama dengan gejala busuk kering, tetapi berbeda pada tubuh buah patogennya. Bintik - bintik kecil coklat tampak pada permukaan bagian bawah / bagian atas daun yang terserang patogen. Tanaman / bibit yang terserang patogen tersebut umumnya berasal dari anak subang, sedang yang berasal dari subang jarang terserang.&lt;br /&gt;Pengendalian: sama seperti untuk busuk kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Busuk kubang (Busuk kapang biru)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Penicillium gladioli yang termasuk patogen lemah. Patogen masuk dan menginfeksi subang gladiol bila di bagian subang terdapat luka yang disebabkan oleh serangga, alat - alat pertanian dan sebagainya.&lt;br /&gt;Gejala: pada subang yang terserang patogen tersebut terdapat lesio berwarna merah kecoklatan yang dalam waktu singkat bagian tersebut akan ditutupi koloni cendawan berwarna biru dan subang membusuk.&lt;br /&gt;Pengendalian: menyimpan subang dengan baik, setelah dikering udarakan dahulu, serta mencegah subang luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Hawar bakteri&lt;br /&gt;Penyebab: Xanthomonas gummisudan. Yang berkembang dengan cepat pada keadaan lingkungan yang basah atau drainase kurang baik.&lt;br /&gt;Gejala: ada bercak - bercak horizontal cekung berair berwarna hijau tua yang berubah menjadi coklat dan berkembang&lt;br /&gt;sampai menutupi hampir seluruh permukaan daun sampai daun kering. Patogen ditularkan melalui subang atau percikan air hujan.&lt;br /&gt;Pengendalian: memilih subang yang sehat dan merendam subang tanpa kulit selama 2 jam dalam suspensi larutan bakterisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. P A N E N&lt;br /&gt;Budidaya bunga gladiol dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen dapat dilakukan setiap minggu. Biasanya budidaya tanaman gladiol dilakukan berdasarkan pesanan pasar, sehingga panen dapat terus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman gladiol berbunga pada umur 60 - 80 hari setelah tanam, tergantung pada kultivarnya. Bunga pertama akan mekar sekitar 10 hari setelah primordia bunga muncul.&lt;br /&gt;Bunga dapat dipetik setelah warna dari 1 atau 2 floret terbawah telah dapat dilihat dengan jelas tetapi belum mekar. Jika kuncup bunga dibiarkan sampai mekar penuh, kerusakan akan mudah terjadi terutama selama pengemasan dan pengangkutan. Bila bunga dipanen terlalu awal, (sebelum floret terbawah menampakan warna bunga), maka akan ada&lt;br /&gt;kemungkinan bunga tidak dapat mekar dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan secara hati - hati dengan menyertakan 2 - 3 daun pada tangkai bunga dan menyisakan daun - daun pada tanaman sebanyak mungkin minimum 4 daun. Pemotongan tangkai bunga dengan pisau tajam dan bersih supaya terhindar dari kontaminasi jasad renik Jika menggunakan pisau tumpul, terjadi luka lebih lebar pada permukaan dasar tangkai bunga, memungkinkan terjadi infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Bunga gladiol tergolong bunga yang mudah kehilangan air. Sebaiknya panen bunga dilakukan pagi hari, karena saat tersebut bunga gladiol berturgor optimum. Kandungan karbohidrat yang rendah dapat diperbaiki dengan larutan pengawet yang mengandung gula.&lt;br /&gt;Panen bunga tidak dianjurkan pada saat suhu udara tinggi (siang hari) atau pada turgor rendah, bunga basah oleh embun, hujan atau sebab lain. Bunga yang basahakan mudah terserang oleh cendawan Botrytis gladiolorum (blight), walaupun pada kondisi suhu udara yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Untuk seluas 1 hektar akan menghasikan panen bunga ± sebanyak 200.000 potong. Budidaya bunga potong gladiol dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen bunga (pemanenan terbanyak) dilakukan setiap minggu. Secara teknis dapat diatur dengan pemetakan lahan, sehingga dalam satu saat terdapat lahan siap olah, siap tanam,dan siap panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCA PANEN&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Bunga gladiol sangat peka terhadap kekuatan gaya berat dan akan selalu cenderung melengkung pada suhu udara tinggi, sehingga berakibat terjadinya perubahan bentuk dan penurunan kualitas. Oleh karena itu bunga potong gladiol yang dipanen dikumpulkan dan diletakan tegak lurus diruangan pada suhu udara rendah (selama&lt;br /&gt;penyimpanan / pengangkutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;Setelah dipanen, dilakukan penyortiran dan penggolongan sesuai dengan ukuran. Bunga dibersihkan dari kotoran yang menempel, dengan hati - hati,(bila perlu) cukup diperciki atau disemprot air saja. Hal ini menjaga agar mahkota bunga tidak rusak. Bunga dipilih yang bagus bentuknya, tidak terkena penyakit atau luka, dikelompokan sesuai dengan kebutuhan, (berdasarkan tingkat kesegaran / ukuran bunga). Penggolongan ini dimaksudkan untuk mempertahankan nilai jual sehingga bunga yang bagus tidak turun harganya akibat tercampur dengan yang bunga gladiol yang berkualitas rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Penyimpanan bertujuan untuk memperlambat proses kelayuan bunga sebelum sampai kekonsumen, biasanya dilakukan pada saat bunga: a) Baru saja dipetik, menunggu pemanenan selesai.&lt;br /&gt;b) Setelah dipanen tidak segera dijual / diangkut.&lt;br /&gt;c) Diperjalanan sebelum sampai kekonsumen.&lt;br /&gt;Dalam tahap ini, bunga dikondisikan agar tetap segar, karena bunga potong sangat sensitif terhadap dehidrasi maka air yang hilang harus diimbangi dengan larutan perendam yang mengandung air dan senyawa lain yang diperlukan.&lt;br /&gt;Penyimpanan berkaitan erat dengan suhu udara. Makin rendah suhu udara, makin lambat terjadi penurunan mutu. Suhu udara penyimpanan bunga yang berasal dari daerah tropika relatif lebih tinggi, umumnya berkisar antara 0 - 5 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Sistem pengemasan yang baik bertujuan melindungi bunga selama pengangkutan dan sebagai sarana promosi yang dapat meningkatkan harga jual. Cara pengemasan yang paling sederhana yaitu dengan membungkus tangkai bunga dengan daun pisang, kemudian memasukan kedalam ember berisi air sehingga tangkai bunga tercelup dan membungkus bagian atas bunga dengan plastik yang sebelumnya sudah dilubangi. Pengemasan seperti ini umum dilakukan oleh pedagang pengecer yang langsung berhubungan dengan konsumen. Pengemasan yang lebih baik biasa untuk bunga yang akan menempuh perjalanan atau untuk promosi, digunakan bahan pengawet adalah sukrosan dan 8 hydroxyquinoline citrate. Mengingat sifat bunga yang selalu dikonsumsi dalam keadaan segar dan bagus berpenampilan maka dituntut sistem pengangkutan yang bisa bergerak cepat. Faktor yang perlu diperhatikan yaitu suhu udara selama pengangkutan dan susunan kemasan agar tidak terlalu tinggi serta tahan goncangan. Sarana pengangkutan biasa menggunakan mobil box yang dilengkapi alat pengatur suhu udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Perkiraan analisis budidaya gladiol luas lahan 1 ha dalam 1 musim tanam yang dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor. 1) Biaya produksi:&lt;br /&gt;1. Bibit: umbi bibit (subang) 190.000 bh @ Rp. 50,- Rp. 9.500.000,-&lt;br /&gt;2. Pupuk&lt;br /&gt;- Pupuk buatan NPK: 100 kg @ Rp. 2000,- Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;- (Urea, TSP, KCL): 834 kg @ Rp. 4.500,- Rp. 3.753.000,-&lt;br /&gt;3. Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Tenaga kerja sewa 120 OH @ Rp. 10.000,- Rp. 1.200.000,-&lt;br /&gt;- Tenaga kerja keluarga 120 OH @ Rp. 15.000,- Rp. 1.800.000,-&lt;br /&gt;4. Pestisida: 15 kg @ Rp. 75.000,- Rp. 1.125.000,-&lt;br /&gt;5. Sewa lahan/ha Rp. 1.500.000,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 19.078.000,-&lt;br /&gt;2) Pendapatan: bunga potong (tangkai) 214.000 @ Rp. 100,- Rp. 21.400.000,-&lt;br /&gt;3) Keuntungan Rp. 2.322.000,-&lt;br /&gt;4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;1. Rasio output/input = 1,122&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Usaha tani gladiol merupakan usaha komersial karena sebagian besar produksinya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar atau konsumen. Berdasarkan hal tersebut, pengkajian aspek Agro Ekonomi usaha tani gladiol mencakup kegiatan produksi, konsumsi dan pemasaran.&lt;br /&gt;Kebanyakan usaha tani gladiol dilakukan di daerah dataran tinggi sesudah tanaman sayuran, tanaman padi dan tanaman hias lainnya (Warsito dan Sutater, 1889). Produksi per hektar bunga potong gladiol di tingkat petani baru mencapai 169.189 tangkai dan produksi bibit (subang) mencapai 136.406 umbi (Ameriana, dkk., 1991).&lt;br /&gt;Volume permintaan dalam negeri 127.200 tangkai per minggu (BCI dan Nehem, 1987), terdapat kecenderungan bahwa permintaan terus meningkat. Untuk mengimbangi permintaan konsumen, rumpang hasil produksi bunga harus ditingkatkan demikian juga mutu bunga potongnya. Sampai saat ini DKI Jakarta masih merupakan pasar bunga potong&lt;br /&gt;terbesar dengan volume penjualan perminggu mencapai 54.700 tangkai dibandingkan dengan kota lainnya. Hal ini sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, pembangunan, komplek perumahan, perkotaan, dan perkembangan pariwisata (Sutater dan Asandhi, 1991).&lt;br /&gt;Pasar bunga potong asal Indonesia akhir - akhir ini cukup menggembirakan. Tim Direktorat Bina Produksi Hortikultura (1988) mencatat bahwa peringkat ekspor bunga ke Eropa adalah bunga potong (43,38%), tanaman hias (38,65%), dan umbi bunga (12,26%). Dalam artikel “Indonesia Belum Tanggapi Dunia akan Permintaan Bunga Potong Tropis” (1992) dicatat bahwa konsumsi bunga potong untuk kota - kota besar hingga kini masih didominasi oleh Jakarta, menyerap 60% dari total produksi bunga nasional. Bisnis bunga mencapai Rp. 2,15 milyar per bulan atau 25,8 milyar per tahun di Jakarta terdapat 327 florist dan 227 kios penjual bunga. Dalam artikel “Dari Bisnis Asalan Menuju Industri Bunga “ (1993) dilaporkan bahwa konsumsi bungapotong 1992 di kota - kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Denpasar, Semarang, dan Ujung Pandang 1.928.000 tangkai, 1.283.250 tangkai untuk Jakarta, karena hotel-hotel di Jakarta sebulan menghabiskan biaya sebesar Rp. 75.000 - Rp. 85 juta untuk pembelian bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;11.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar produksi meliputi: klasifikasi dan standar mutu, cara pengambilan contoh dan pengemasan.&lt;br /&gt;11.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Standar mutu bunga gladiol potong di Indonesia tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01–4479–1998&lt;br /&gt;11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Berdasarkan panjang tangkainya, bunga gladiol dikelompokan dalam lima kelas yaitu Super, Panjang, Medium, Pendekdan Mini.&lt;br /&gt;a) Kelas super: panjang tangkai &gt; 95 cm&lt;br /&gt;b) Kelas panjang: panjang tangkai 76–94 cm&lt;br /&gt;c) Kelas medium: panjang tangkai 61–75 cm&lt;br /&gt;d) Kelas pendek: panjang tangkai 51–60 cm&lt;br /&gt;e) Kelas mini: panjang tangkai 30–50 cm&lt;br /&gt;Selain berdasarkan panjang tangkai, bunga gladiol dikelompokan berdasarkan penampilan dan kondisi fisik lainnya sehingga terdapat bunga gladiol potong dengan mutu kelas AA, A, B dan C.&lt;br /&gt;a) Panjang tangkai (cm): kelas AA&gt;95; kelas A=76–94; kelas B=61-75; kelas C=51- 60.&lt;br /&gt;b) Jumlah minimum floret pertangkai: kelas AA=16; kelas A=14; kelas B=12; kelas C=10.&lt;br /&gt;c) Keseragaman (%): kelas AA=100; kelas A=95: kelas B=95; kelas C&lt;95. aa="100;" a="95;" b="95;" aa="100;" a="95;" b="95;" aa="1-2;" a="1–2;" b="2-3;" c="2–3." aa="0;" a="5;" b="10;"&gt;10.&lt;br /&gt;i) Benda asing/kotoran (%): kelas AA=0; kelas A=1; kelas B=2; kelas C=3.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan jenis dan mutu yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan pengujian yang meliputi:&lt;br /&gt;a) Penetapan panjang tangkai bunga&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, ukur satu persatu bunga contoh, kemudian pisahkan bunga yang panjangnya tidak memenuhi syarat kelas yang disebutkan dalam kemasan. Hitung jumlah seluruh bunga contoh yang panjangnya memenuhi syarat. Hitung presentase bunga yang panjangnya memenuhi syarat terhadap seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;b) Penetapan jumlah floret per tangkai, jumlah floret mulai mekar, kerusakan mekanik&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, hitung satu persatu jumlah floret per tangkai dari seluruh bunga contoh kemudian pisahkan tangkai bunga yang jumlah floretnya tidak memenuhi syarat kelas yang disebutkan dalam kemasan. Hitung jumlah seluruh bunga contoh yang jumlah floret per tangkainya memenuhi syarat. Hitung prosentase bunga yang memenuhi syarat terhadap jumlah seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;c) Penetapan keseragaman, warna spesifik dan bebas hama&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, amati satu per satu bunga contoh, lalu pisahkan bunga yang tampak tidak seragam. Hitung jumlah bunga seragam dan hitung prosentase bunga yang seragam terhadap jumlah seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;d) Penetapan kelurusan tangkai&lt;br /&gt;Letakan bunga gladiol yang diuji diatas meja kerja yang telah diberi garis lurus sepanjang 1 meter atau lebih. Bagian pangkal tangkai yang lurus diletakan pada garis lurus tersebut, sementara itu bagian ujung tangkai yang melengkung akan menjauhi garis lurus tadi. Ukur jarak ujung tangkai bunga terhadap garis lurus diatas meja menggunakan mistar yang tersedia. Deviasi atau kurvaktur maksimal 7,5 cm tergantung kelas.&lt;br /&gt;e) Penetapan benda asing&lt;br /&gt;Pisahkan dan kumpulkan benda asing yang dijumpai pada bunga atau dalam kemasan bunga contoh. Selanjurtya timbang benda asing tersebut dan juga seluruh bunga contoh. Hitung presentase berat benda asing terhadap berat seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;11.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;Dari satu partai atau lot bunga gladiol yang terdiri atas maksimum 1.000 kemasan, contoh diambil secara acak sejumlah seperti tersebut berikut ini:&lt;br /&gt;a) Contoh yang diambil semua, jumlah kemasan bunga dalam partai 1–5.&lt;br /&gt;b) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 5, jumlah kemasan bunga dalam partai 6–100.&lt;br /&gt;c) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 7, jumlah kemasan bunga dalam partai 101–300.&lt;br /&gt;d) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 9, jumlah kemasan bunga dalam partai 301–500.&lt;br /&gt;e) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 10, jumlah kemasan bunga dalam partai 501–1001.&lt;br /&gt;Dari setiap kemasan contoh yang dipilih secara acak diambil sekurang - kurangnya tiga tangkai bunga. Untuk kemasan contoh dengan isi kurang dari tiga tangkai, diambil satu tangkai. Dari sejumlah tangkai yang terkumpul kemudian diambil secara acak contoh yang berjumlah sekurang-kurang lima tangkai diuji. Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat, yaitu orang yang telah dilatih terlebih dahulu dan diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.5 Pengemasan&lt;br /&gt;Untuk pasar lokal, bunga gladiol boleh tidak dikemas, bunga diletakkan berdiri dalam ember plastik yang diberi air perendam tangkai. Kedalam air perendam seyogyanya ditambahkan bahan pengawet bunga. Untuk pasar jarak jauh, bunga gladiol sebaiknya dikemas dengan keranjang bambu yang diberi lapisan daun pisang, lembaran plastik atau&lt;br /&gt;kertas. Untuk eksport bunga gladiol harus dikemas dengan kotak karton yang sesuai dengan diberi lapisan plastik tipis atau kertas dibagian dalamnya. Ujung tangkai bunga diberi kapas yang dibasahi dengan larutan pengawet kemudian ditutup plastik. Jumlah bunga dalam tiap kemasan disesuaikan dengan permintaan pasar.&lt;br /&gt;Label atau gantungan (tag) yang menyertai setiap kemasan harus mudah dilihat/diambil dan berisi informasi.&lt;br /&gt;a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;b) Nama perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;c) Nama kultivar.&lt;br /&gt;d) Kelas mutu.&lt;br /&gt;e) Jumlah bunga dalam kemasan.&lt;br /&gt;f) Berat kotor.&lt;br /&gt;g) Berat bersih.&lt;br /&gt;h) Identitas pembelian ditempat tujuan.&lt;br /&gt;i) Tanggal panen dan perkiraan daya tanah.&lt;br /&gt;j) Petunjuk penanganan (suhu udara, kelembaban) yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-6994673750582167313?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/6994673750582167313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=6994673750582167313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/6994673750582167313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/6994673750582167313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-gladiol-gladiolus-hybridus.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Gladiol (Gladiolus hybridus)&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUsWRLjloNI/AAAAAAAAAKk/VJDEZJ1h4uE/s72-c/gladiol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-4865559491692403122</id><published>2008-12-18T23:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T23:51:38.536+07:00</updated><title type='text'>Macam-macam jenis Hama Tanaman dan Cara Pengendalian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUp_F9V0MqI/AAAAAAAAAKc/TRSVRSJ6AvU/s1600-h/08D555F6-22B1-4907-B929-0D0B28BC3832.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 232px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUp_F9V0MqI/AAAAAAAAAKc/TRSVRSJ6AvU/s200/08D555F6-22B1-4907-B929-0D0B28BC3832.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281173253387465378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;HAMA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. MORFOLOGI UMUM HAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar - dasar Perlintan  akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis - jenis hama yang dijumpai di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan - golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain - lain). Dalam uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar anggota filum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. FILUM ASCHELMINTHES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator (pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian - uraian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ciri - ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan nematoda parasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet. Tipe stomatostylet tersusun atas bagian - bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet (bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Tylenchida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda parasit ini antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.   FILUM MOLLUSCA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. FILUM CHORDATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar - benar merupakan hama tanaman. Jenis - jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C. nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama dijumpai pada daerah - daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera pada daerha dengan ketinggian sampai 1500 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang - kadang juga diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih teratur / rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keluarga tikus (fam. Muridae)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan antara lain, tikus rumah (Rattus - rattus diardi Jent); tikus pohon (Rattus - rattus tiomanicus Muller), serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver_Rob.&amp;amp;Kl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tikus rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu - abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11 - 20 cm dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah puting susunya ada 10 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang - kadang agak keabu-abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah putting susunya ada 10 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tikus sawah memiliki ciri - ciri tubuh antara lain bulu - bulu tubuh bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16 - 22 cm serta jumlah puting susu ada 12 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. FILUM ARTHOPODA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan filum terbesar di antara filum - filum yang lain karena lebih dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau Hexapoda (serangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klas Arachnida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda - tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax (gabungan caput dan thorax) dan abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak memiliki antene dan mata facet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kaki empat pasang dan beruas - ruas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan dilengkapi dengan bulu - bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax dijumpai adanya empat pasang kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian - bagian satu pasang chelicerae (masing - masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang pedipaalpus. Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai penusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tetranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah / jingga pada daun ketela pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klas Insekta (Hexapoda / serangga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  Tubuh terdiri atas ruas - ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga daerah, yaitu  caput, thorax dan abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-   Kaki tiga pasang, pada thorax.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-   Antene satu pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-   Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang atau bahkan tidak bersayap sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap - tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga, sedang uraian singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta akan diberikan pada uraian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifat morfologinya, maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tipe larva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat / kupu (Lepidoptera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan  Scarabaeiform,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Apodus (Apodous), tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae (Coleoptera).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tipe pupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan (appendages), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga tipe :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena - vena menebal / mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat - alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap - tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing - masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur ---&gt; nimfa ---&gt; dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kecoa (Periplaneta sp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Belalang sembah / mantis (Otomantis sp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas - ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur ---&gt; nimfa ---&gt; dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kepik hijau (Nezara viridula L)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---&gt; nimfa ---&gt; dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota - anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.&lt;br /&gt;Apabila istirahat, elytra seolah - olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---&gt; larva ---&gt; kepompong (pupa) ---&gt; dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas / libera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh anggotanya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik - sisik yang berwarna - warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---&gt; larva ---&gt; kepompong ---&gt; dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenisnya antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penggerek  batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kupu gajah (Attacus atlas L)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)&lt;br /&gt;f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe alat mulut  bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---&gt; larva ---&gt; kepompong ---&gt; dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh anggotanya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- lalat buah (Dacus spp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator / parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-&gt; larva--&gt; kepompong ---&gt; dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu / padi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Ordo Odonata (bangsa capung / kinjeng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena - vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANGKUMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal sifat - sifat morfologi luar dari binatang penyebab hama merupakan hal yang penting untuk mempermudah mengenali jenis - jenis hama yang ada di lapangan. Ada beberapa filum dalam dunia binatang yang sebagian dari anggotanya berpotensi menjadi hama tanaman, yakni Filum Aschelminthes, Mollusca, Chordata dan Athropoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam filum Aschelminthes, anggota klas nematoda banyak yang berperan sebagai hama tanaman, misalnya anggota dari ordo Tylenchida, “Giantsnail”, Achatina fulica merupakan salah satu anggota filum Mollusca yang diketahui sering merusak berbegai jenis tanaman, baik tahunan maupun tanaman semusim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota ordo Rodentia, yakni tikus dan bajing merupakan anggota filum Chordata yang menjadi hama penting pada beberapa jenis tanaman. Anggota filum Chordata lain yang juga berpotensi menjadi hama tanaman adalah kera (Primates) dan babi (Ungulata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthropoda merupakan filum terbesar dalam jumlah anggotanya, sehingga sebagian besar jenis hama tanaman merupakan anggota filum ini. Namun demikian, anggota filum ini khususnya dalam klas Arachida sebagian besar bertindak sebagai musuh alami hama, sedang dari klas Insekta sebagian dari anggotanya menjadi hama penting pada berbagai jenis tanaman dan yang lain ada pula yang berperan sebagai musuh alami hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. CARA MERUSAK DAN GEJALA KERUSAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan mengenai cara merusak dan gejala merusak yang diakibatkan oleh serangan hama khususnya dari serangga tidak dapat lepas dari pembicaraan mengenai morfologi alat mulut serangga hama. Dengan tipe alat mulut tertentu, serangga hama dalam merusak tanaman akan mengakibatkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman yang diserangnya. Karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala ataupun tanda serangan akan dapat membantu dalam mengenali jenis - jenis hama penyebab yang dijumpai di lapangan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula digunakan untuk menduga cara hidup ataupun untuk menaksir populasi hama yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pada cara merusak dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya, maka hama-hama penyebab kerusakan pada tanaman dapat digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu hama penyebab gejala puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah, dan hama pengorok (miner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANGKUMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis - jenis serangga dapat dikelompokkan berdasarkan tipe alat mulutnya. Dengan tipe alat mulut tertentu, perusakan tanaman oleh serangga akan meninggalkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman. Oleh karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala serangan akan memepermudah untuk mengetahui jenis hama penyebab kerusakan yang dijumpai di lapangan. Gejala kerusakan dalam bentuk intensitas serangan hama dapat juga digunakan untuk menduga tingkat populasi hama di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cara merusak dan tipe gejala, ada tujuh tipe yaitu hama penyebab puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah dan hama penggorok (miner).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TAKTIK PENGENDALIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai aras yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk meenghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan populasinya sampai pada aras tertentu ynag secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan secara ekologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengelolaan / Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian yang akan diuraikan berikut ini mengacu pada buku karangan Metcalf (1975) dan Matsumura (1980) yang terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengendalian secara mekanik&lt;br /&gt;2. Pengendalian secara fisik&lt;br /&gt;3. Pengendalian hayati&lt;br /&gt;4. Pengendalian dengan varietas tahan&lt;br /&gt;5. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam&lt;br /&gt;6. Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi&lt;br /&gt;7. Pengendalian kimiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGENDALIAN MEKANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah - daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat - ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PENGENDALIAN FISIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor - faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan - bahan simpanan sering diperlakukan denagn pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara - cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENGENDALIAN HAYATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh - musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen - agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati. Beberapa kumbang Coccinella merupakan predator aphis atau jenis serangga lain yang baik pada fase larva maupun dewasanya. Contoh lain serangga yang bersifat sebagai predator adalah Chilocorus, serangga ini sekarang telah dimanfaatkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap hama kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada tanaman kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar predator dan tanaman ini sukses sebagai agen pengendali biologis terhadap serangga, maka harus dapat beradaptasi dulu dengan lingkungan tempat hidup serangga hama. Predator dan parasit itu harus dapat beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru. Parasit dan predator juga harus bersifat spesifik terhadap hama dan mampu mencari dan membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parasit harus mempunyai siklus hidup yang lebih pendek daripada inangnya dan mampu berkembang lebih cepat dari inangnya. Siklus hidup parasit waktunya harus sinkron dengan inangnya sehingga apabila saat populasi inang meningkat maka saat peningkatan populasi parasit tidak terlambat datangnya. Predator tidak perlu mempunyai siklus hidup yang sama dengan inangnya, karena pada umumnya predator ini mempunyai siklus hidup yang lebih lama daripada inangnya dan setiap individu predator mampu memangsa beberapa ekor hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik parasit maupun predator mempunyai ratio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memiliki kemampuan meenyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga - serangga itu secara efektif mampu mencari inang atau mangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa parasit fase dewasa memerlukan polen dan nektar, sehingga untuk pelepasan dan pengembangan parasit pada suatu daerah, yang perlu diperhatikan adalah daerah tersebut banyak tersedia polen dan nektar yang nanti dapat digunakan sebagai pakan tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parasit yang didatangkan dari suatu daerah, mula - mula dipelihara dahulu di karantina selama beberapa saat agar serangga ini mampu beradaptasi dan berkembang. Selama pemeliharaan di dalam karantina, serangga-serangga ini dapat diberi pakan dengan pakan buatan atau mungkin dapat pula digunakan inangnya yang dilepaskan pada tempat pemeliharaan. Setelah dilepaskan di lapangan populasi parasit ini harus dapat dimonitor untuk mengetahui apakah parasit iru sudah mapan, menyebar dan dapat berfungsi sebagai agen pengendali biologis yang efektif; dan bila memungkinkan serangga ini mampu mengurangi populasi hama relatif lebih cepat dalam beberapa tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengendalian biologis yang pernah dilakukan di Australia adalah pengendalian  Aphis dengan menggunakan tabuhan chalcid atau pengendalian kutu yang menyerang jeruk dengan menggunakan tabuhan Aphytes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis bakteri, misal Bacillus thuringiensis secara komersial diperdagangkan dalam bentuk spora, dan bakteri ini dipergunakan untuk menyemprot tanaman seperti halnya insektisida. Yang bersifat rentan terhadap bahan ini adalah fase ulat, dan bilamana ulat-ulat itu makan spora, maka akhirnya bakteri akan berkembang di dalam usus serangga hama, akhirnya bakteri itu menembus usus dan masuk ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya larva akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur dapat pula digunakan untuk mengendalikan serangga hama, sebagai contoh Entomorpha digunakan untuk mengendalikan Aphis yang menyerang alfafa; spesies Beauveria untuk mengendalikan ulat dan Metarrhizium anisopliae sekarang sudah dikembangkan secara masal dengan medium jagung. Jamur ini digunakan untuk mengendalikan larva Orycetes rhinoceros yang imagonya merupakan penggerek pucuk kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 200 jenis virus mampu menyerang serangga. Jenis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama adalah Baculovirus untuk menekan populasi Orycetes rhinoceros; Nuclear polyhidrosis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama Heliothis zeae pada tongkol jagung, bahan tersebut telah banyak digunakan di AS, Eropa dan Australia. Virus tersebut masuk dan memperbanyak diri dalam sel inang sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Inti dari sel - sel yang terserang menjadi besar, kemudian virus tersebut menuju ke rongga tubuh akhirnya inang akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).&lt;br /&gt;2. Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.&lt;br /&gt;3. Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PENGENDALIAN DENGAN VARIETAS TAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa varietas tanaman tertentu kuran dapat diserang oleh serangga hama atau kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan varietas lain. Varietas tahan tersebut mempunyai satu atau lebih sifat-sifat fisik atau fisiologis yang memungkinkan tanaman tersebut dapat melawan terhadap serangan hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Toleransi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama. Toleransi ini sering juga tergantung pada kemampuan tanaman untuk mengganti jaringan yang terserang, dan keadaan ini berhubungan dengan fase pertumbuhan dan kerapatan hama yang menyerang pada suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Antibiosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman - tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga. Tanaman kapas yang mengandung senyawa gossypol dengan kadar tinggi mempunyai ketahanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang mengandung kadar yang lebih rendah, karena bahan kimia ini bekerja sebagai antibiosis terhadap jenis serangga tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Non prefens&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat - sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur. Contoh pengendalian hama yang telah memanfaatkan varietas tahan adalah pengendalian terhadap wereng coklat pada tanaman padi, pengendalian terhadap kutu loncat pada lamtoro, pengendalian terhadap Empoasca pada tanaman kapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENGENDALIAN HAMA DENGAN PENGATURAN CARA BERCOCOK TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang bekerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkunagn hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya. Dengan mengganti jenis tanaman pada setiap musim, berarti akan memutus tersedianya makanan bagi hama-hama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh dalam pengendalian hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) diatur pola tanamnya, yakni setelah padi - padi, pada periode berikutnya supaya diganti dengan palawija. Cara ini dimaksudkan untuk menghentikan berkembangnya populasi wereng. Cara di atas dapat pula diterapkan pada hama lain, khususnya yang memiliki inang spesifik. Kebaikan dari pengendalian hama dengan mengatur pola tanam adalah dapat memperkecil kemungkinan terbentuknya hama biotipe baru. Cara - cara pengaturan pola tanam yang telah diterapkan pada pengendalian wereng coklat adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tanam serentak meliputi satu petak tersier (wikel) dengan selisih waktu maksimal dua minggu dan selisih waktu panen maksimal 4 minggu, atau dengan kata lain varietas yang ditanam relatif mempunyai umur sama. Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama, sehingga lebih mudah memantau dan menjamin efektifitas pengendalian, karena penyemprotan dapat dilakukan serentak pada areal yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pergiliran tanaman meliputi areal minimal satu WKPP dengan umur tanaman relatif sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pergiliran varietas tahan. Untuk daerah-daerah yang berpengairan baik, para petani pada ummnya akan menanam padi - padi sepanjang tahun. Kalau pola demikian tidak dapat diubah maka teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergiliran varietas yang ditanam. Pada pengendalian ini diusahakan supaya digunakan varietas yang mempunyai tetua berbeda, dengan demikian dapat menghambat terbentuknya wereng biotipe baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PENGENDALIAN HAMA DENGAN SANITASI DAN ERADIKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis hama mempunyai makanan, baik berupa tanaman yang diusahakan manusia maupun tanaman liar (misal rumput, semak - semak, gulam dan lain - lain). Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengendalian dengan eradikasi terhadap serangan hama wereng coklat adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pada daerah serangan wereng coklat tetapi bukan merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan pada tanaman padi yang telah puso. Pada daerah serangan berat eradikasi hendaknya diikuti pemberoan selama 1 - 2 bulan atau mengganti dengan tanaman selain padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pada daerah serangan hama wereng yang juga merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Eradikasi selektif dilakukan pada padi stadia vegetatif yang terserang virus dengan intensitas sama dengan atau kurang dari 25 % atau padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus kurang dari 75 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Eradikasi total dilakukan terhadap pertanaman statdia vegetatif dengan intensitas serangan virus lebih besar dari 25 % atau pada padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus lebih besar sama dengan 75 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PENGENDALIAN KIMIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing - cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang - binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5 / 5 Saturn D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin - 5 - oksida (Staplex 10 WP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :&lt;br /&gt;1. Racun perut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu / rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan - bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Racun kontak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat - tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Minyak dan sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Racun pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ - organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Racun Syaraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Racun Protoplasmik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam - logam berat (air raksa dan tembaga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Racun penghambat khitin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Racun sistemik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi). Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat serta memperoleh efektifitas pengendalian yang tinggi maka oleh perusahaan pestisida, satu bahan aktif dibuat dalam bermacam-macam formulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari formulasi ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mempermudah penyimpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mempermudah penggunaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengurangi daya racun yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pestisida terbuat dari campuran antara dua bahan, yaitu bahan aktif (bahan pestisida yang mempunyai daya racun) dan bahan pembawa / inert (bahan pencampur yang tidak mempunyai daya racun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam formulasi yang banyak dibuat oleh perusahaan pembuat pestisida adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Formulasi dalam bentuk cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Cairan yang diemulsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ditandai dengan kode EC (Emulsifeable Concentrate) yaitu cairan yang diemulsikan. Pestisida ini dalam bentuk asli berwarna bening setelah dicampur air akan membentuk emulsi yang berwarna putih susu. Contoh : Dharmabas 50 EC, Bassa 50 EC dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Cairan yang dapat dilarutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi ini biasanya ditandai dengan kode WSC atau SCW yaitu kependekan dari Soluble Concentrated in Water. Pestisida ini bila dilarutkan dalam air tidak terjadi perubahan warna (tidak membentuk emulsi sehingga cairan tersebut tetap bening). Contoh : Azodrin 15 WSC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bentuk Padat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Berupa tepung yang dapat dilarutkan, dengan kode SP (Soluble Powder). Penggunaannya disemprotkan dengan sprayer. Contoh : Sevin 85 SP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Berupa tepung yang dapat dibasahi dengan merek dagang WP (Weatable Powder). Pestisida ini disemprotkan dengan dicampur air. Karena sifatnya tidak larut sempurna, maka selama menyemprot seharusnya disertai dengan pengadukan secara terus-menerus.Contoh: Aplaud 10 WP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Berupa butiran dengan kode G (Granulair). Aplikasi pestisida ini adalah dengan menaburkan atau membenamkan dekat. Contoh : Furadan 3 G, Dharmafur 3 G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Campuran umpan (bait). Pestisida ini dicampur dengan bahan makanan yang disukai hama, kemudian diumpankan. Contoh : Klerat RMB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANGKUMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah pengendalian hama yang digunakan adalah Pengelolaan / Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT tidak pernah mengandalkan satu taktik pengendalian saja dalam memcahkan permasalahan hama yang timbul, melainkan dengan tetap mencari alternatif pengendalian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa taktik pengendalian hama yang dikenal meliputi : taktik pengendalian secara mekanis, fisis, hayati, dengan varietas tahan, mengatur pola tanam, sanitasi dan eradikasi, dan cara kimiawi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-4865559491692403122?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/4865559491692403122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=4865559491692403122&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/4865559491692403122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/4865559491692403122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/macam-macam-jenis-hama-tanaman-dan-cara.html' title='&lt;center&gt;Macam-macam jenis Hama Tanaman dan Cara Pengendalian&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUp_F9V0MqI/AAAAAAAAAKc/TRSVRSJ6AvU/s72-c/08D555F6-22B1-4907-B929-0D0B28BC3832.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8663422654690420154</id><published>2008-12-18T22:39:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T22:48:56.114+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Mangga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUpvtPru29I/AAAAAAAAAKU/2of-Fb7XEnU/s1600-h/mangga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 164px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUpvtPru29I/AAAAAAAAAKU/2of-Fb7XEnU/s200/mangga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281156336140082130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi botani tanaman mangga adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;        o Sub divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;              + Kelas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;                    # Keluarga : Anarcadiaceae&lt;br /&gt;                          * Genus : Mangifera&lt;br /&gt;                                o Spesies : Mangifera spp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis yang banyak ditanam di Indonesia Mangifera indica L. yaitu mangga arumanis, golek, gedong, manalagi dan cengkir dan Mangifera foetida yaitu kemang dan kweni.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah mangga yang matang merupakan buah meja yang banyak digemari. Mangga yang muda dapat diawetkan dengan kadar gula tinggi menjadi manisan baik dalam bentuk basah atau kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat penanaman mangga di Pulau Jawa adalah Probolinggo, Indramayu, Cirebon. Tahun 1994 jumlah tanaman yang menghasilkan adalah 8.901.309 tanaman dengan produksi 668.048 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim kering selama 3 bulan. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Tanah yang baik untuk budidaya mangga adalah gembur mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang.&lt;br /&gt; 2. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok adalah 5.5-7.5. Jika pH di bawah 5,5 sebaiknya dikapur dengan dolomit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Tempat Ketinggian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangga yang ditanam didataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak dari pada di dataran tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Perbanyakan dengan Biji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Biji dipilih dari tanaman yang sehat, kuat dan buahnya berkualitas. Biji dikeringanginkan dan kulitnya dibuang.&lt;br /&gt; 2. Siapkan kotak persemaian ukuran 100 x 50 x 20 cm 3 dengan media tanah kebun dan pupuk kandang (1:1), biji ditanam pada jarak 10-20 cm. Dapat pula mangga disemai dikebun dengan jarak tanam 30 x 40 atau 40 x 40 cm di atas tanah yang gembur. Persemaian diberi naungan dari plastik/sisa-sisa tanaman, tetapi jangan sampai udara di dalam persemaian menjadi terlalu lembab. Biji ditanam dengan perut ke arah bawah supaya akar tidak bengkok. Selama penyemaian, bibit tidak boleh kekurangan air. Pada umur 2 minggu bibit akan berkecambah. Jika dari 1 biji terdapat lebih dari 1 anakan, sisakan hanya satu yang benar-benar kuat dan baik. Bibit di kotak persemaian harus dipindahtanamkan ke dalam polybag jika tingginya sudah mencapai 25-30 cm. Seleksi bibit dilakukan pada umur 4 bulan, bibit yang lemah dan tumbuh abnormal dibuang. Pindahtanam ke kebun dilakukan jika bibit telah berumur 6 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Okulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyakan terbaik adalah dengan okulasi (penempelan tunas dari batang atas yang buahnya berkualitas ke batang bawah yang struktur akar dan tanamannya kuat). Batang bawah untuk okulasi adalam bibit di persemaian yang sudah berumur 9-12 bulan. Setelah penempelan, stump (tanaman hasil okulasi) dipindahkan ke kebun pada umur 1,5 tahun. Okulasi dilakukan di musim kemarau agar bagian yang ditempel tidak busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pencangkokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang yang akan dicangkok memiliki diameter 2,5 cm dan berasal dari tanaman berumur 1 tahun. Panjang sayatan cangkok adalah 5 cm. Setelah sayatan diberi tanah dan pupuk kandang (1:1), lalu dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Persiapan : Penetapan areal untuk perkebunan mangga harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi dan sumber air.&lt;br /&gt; 2. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;        * Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.&lt;br /&gt;        * Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.&lt;br /&gt; 3. Pengaturan Jarak Tanam : Pada tanah yang kurang subur, jarak tanam dirapatkan sedangkan pada tanah subur, jarak tanam lebih renggang. Jarak tanam standar adalah 10 m dan diatur dengan cara:&lt;br /&gt;       1. segi tiga sama kaki.&lt;br /&gt;       2. diagonal.&lt;br /&gt;       3. bujur sangkar (segi empat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat dengan panjang, lebar dan kedalaman 100 cm. Pada waktu penggalian, galian tanah sampai kedalaman 50 cm dipisahkan dengan galian dari kedalaman 50-100 cm. Tanah galian bagian dalam dicampur dengan pupuk kandang lalu dikeringanginkan beberapa hari. Masukkan tanah galian bagian atas, diikuti tanah galian bagian bawah. Pembuatan lubang tanam dilakukan pada musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam yang telah ditimbun digali kembali dengan ukuran panjang dan lebar 60 cm pada kedalaman 30 cm, taburi lubang dengan furadan 10-25 gram. Polibag bibit digunting sampai ke bawah, masukkan bibit beserta tanahnya dan masukkan kembali tanah galian sampai membentuk guludan. Tekan tanah di sekitar batang dan pasang kayu penyangga tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Penanaman Pohon Pelindung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon pelindung ditanam untuk menahan hembusan angin yang kuat. Jenis yang biasa dipakai adalah pohon asam atau trembesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penyiangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan tidak dapat dilakukan sembarangan, rumput/gulma yang telah dicabut dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi. Penyiangan juga biasa dilakukan pada waktu penggemburan dan pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penggemburan/Pembubunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang padat dan tidak ditumbuhi rumput di sekitar pangkal batang perlu digemburkan, biasanya pada awal musim hujan. Penggemburan tanah di kebun mangga cangkokan jangan dilakukan terlalu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Perempelan/Pemangkasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi yang baik dan meningkatkan produksi. Ketika tanaman telah mulai bertunas perlu dilakukan pemangkasan tunas agar dalam satu cabang hanya terdapat 3–4 tunas saja. Tunas yang dipilih jangan terletak sama tinggi dan berada pada sisi yang berbeda. Tunas dipelihara selama kurang lebih 1 tahun saat tunas-tunas baru tumbuh kembali. Pada saat ini dilakukan pemangkasan kedua dengan meninggalkan 2-3 tunas. Pemangkasan ketiga, 1 tahun kemudian, dilakukan dengan cara yang sama dengan pemangkasan ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pupuk organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Umur tanaman 1-2 tahun: 10 kg pupuk kandang, 5 kg pupuk kandang.&lt;br /&gt; 2. Umur tanaman 2,5–8 tahun: 0,5 kg tepung tulang, 2,5 kg abu.&lt;br /&gt; 3. Umur tanaman 9 tahun: tepung tulang dapat diganti pupuk kimia SP-36, 50 kg pupuk kandang, 15 kg abu.&lt;br /&gt; 4. Umur tanaman &gt; 10 tahun: 100 kg pupuk kandang, 50 kg tepung tulang, 15 kg abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kandang yang dipakai adalah pupuk yang sudah tercampur dengan tanah. Pemberian pupuk dilakukan di dalam parit keliling pohon sedalam setengah mata cangkul (5 cm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pupuk anorganik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Umur tanaman 1-2 bulan : NPK (10-10-20) 100 gram/tanaman.&lt;br /&gt; 2. Umur tanaman 1,5-2 tahun: NPK (10-10-20) 1.000 kg/tanaman.&lt;br /&gt; 3. Tanaman sebelum berbunga: ZA 1.750 gram/tanaman, KCl 1.080 gram/tanaman.&lt;br /&gt; 4. Tanaman waktu berbunga : ZA 1.380 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 970 gram/tanaman, KCl 970 gram/tanaman.&lt;br /&gt; 5. Tanaman setelah panen: ZA 2700 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 1.940 gram/tanaman, KCl 1.940 gram/tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Peningkatan Kuantitas Buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah besar bunga yang muncul hanya 0,3% yang dapat menjadi buah yang dapat dipetik. Untuk meningkatkan persentase ini dapat disemprotkan polinator maru atau menyemprotkan serbuk sari diikuti pemberian 300 ppm hormon giberelin. Dengan cara ini, persentase pembentukan buah yang dapat dipanen dapat ditingkatkan menjadi 1,3%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.&lt;br /&gt;    Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Menyerang buah dan masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.&lt;br /&gt; 2.&lt;br /&gt;    Bubuk buah mangga&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.&lt;br /&gt; 3.&lt;br /&gt;    Bisul daun(Procontarinia matteiana.)&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.&lt;br /&gt; 4.&lt;br /&gt;    Lalat buah&lt;br /&gt;        * Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas.&lt;br /&gt;        * Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.&lt;br /&gt; 5. Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)&lt;br /&gt;        * Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang membeku menimbulkan jamur kerak hitam.&lt;br /&gt;        * Pengendalian dengan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.&lt;br /&gt; 6. Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga.&lt;br /&gt;        * Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.&lt;br /&gt; 7. Codot&lt;br /&gt;        * Memakan buah mangga di malam hari.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. 1) Penyakit mangga&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.&lt;br /&gt;        * Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.&lt;br /&gt; 2. 2) Penyakit diplodia&lt;br /&gt;        * Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.&lt;br /&gt;        * Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.&lt;br /&gt; 3. 3) Cendawan jelaga&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.&lt;br /&gt; 4. 4) Bercak karat merah&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.&lt;br /&gt; 5. 5) Kudis buah&lt;br /&gt;        * Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.&lt;br /&gt; 6. 6) Penyakit Blendok&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. PANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga okulasi pada umur 5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10 jumlah buah dapat mencapai 300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh di bulan September-Oktober. Tanda buah sudah dapat dipanen adalah adanya buah yang jatuh karena matang sedikitnya 1 buah/pohon, warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tua kebiruan, warna buah mangga golek/gedok berubah menjadi kuning/merah Buah yang dipetik harus masih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh sampai memar. Buah dipetik di sore hari dengan menggunakan pisau tajam atau dengan galah yang diujungnya terdapat pisau dan keranjang penampung buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga panen dilakukan satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon, buah tidak akan masak bersamaan sehingga dilakukan beberapa kali panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat sampai 300-500 buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur 15 tahun dan 2.000 buah pada waktu produksi maksimum di umur 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCAPANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah hasil panen dikumpulkan di tempat yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangga yang rusak dipisahkan dengan mangga yang mulus. Setelah sortasi buah mangga dilap untuk menghilangkan getah yang dapat menurunkan mutu terutama jika buah akan dipasarkan ke pasar swalayan atau luar negeri. Buah yang akan dipasarkan di dalam negeri dapat diperam untuk mempercepat pemasakan. Sortasi didasarkan berat buah atau ukuran buah. Kelas berdasarkan berat buah antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Kelas I: &gt; 320 gram/buah&lt;br /&gt; 2. Kelas II: 270 - 320 gram/buah&lt;br /&gt; 3. Kelas III: 200 - 270 gram/buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan berdasarkan ukuran buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Klasifikasi Besar: arum manis &gt; 17,5 cm, golek &gt; 20 cm&lt;br /&gt; 2. Klasifikasi Sedang: arum manis 15 - 17,5 cm, golek 17,5 - 20 cm&lt;br /&gt; 3. Klasifikasi Kecil: arum manis &lt;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8663422654690420154?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8663422654690420154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8663422654690420154&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8663422654690420154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8663422654690420154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-mangga.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Mangga&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUpvtPru29I/AAAAAAAAAKU/2of-Fb7XEnU/s72-c/mangga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-1268956672986237975</id><published>2008-12-18T00:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T00:20:34.041+07:00</updated><title type='text'>Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A. Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media hidroponik yang baik memiliki pH yang netral atau antara 5.5 - 6.5. Selain itu media harus porous dan dapat mempertahankan kelembaban. Media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media untuk persemaian atau pembibitan&lt;br /&gt;Untuk persemaian dapat digunkan media berupa pasir halus, arang sekam atau rockwool. Pasir halus sering digunakan karena mudah diperoleh dan harganya murah, namun kurang dapat menahan air dan tidak terdapat nutrisi di dalamnya. Media yang biasa digunakan adalah campuran arang sekam dan serbuk gergaji atau serbuk sabut kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Media untuk tanaman dewasa&lt;br /&gt;Media untuk tanaman dewasa hampir sama dengan media semai, yaitu pasir agak kasar, arang sekam, rockwool dan lain - lain. Media yang ideal adalah arang sekam. Keuntungannya adalah kebersihan dan sterilitas media lebih terjamin bebas dari kotoran maupun organisme yang dapat mengganggu seperti cacing, kutu dan sebagainya yang dapt hidup dalam pasir. Media arang sekam bersifat lebih ringan namun lebih mudah hancur, penggunaannya hanya dapat untuk dua kali pemakaian. Arang sekam dapat dibeli di toko - toko pertanian atau membuat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan benih sangat penting karena produktivitas tanaman teranganutng dari keunggulan benih yang dipilih. Periksa label kemasan benih, yaitu tanggal kadaluarsa, persentase tumbuh dan kemurnian benih. Pemilihan komoditas yang akan ditanam diperhitungkan masak-masak mengenai harga dan pemasarannya. Contoh sayuran eksklusif yang mempunyai nilai jual di atas rat - rata adalah tomat Recento, ketimun Jepang, Melon, parika, selada, kailan, melon dan lain - lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Peralatan Budidaya Hidroponik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan yang diperlukan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadah semai, bisa menggunakan pot plastik, polybag kecil, bak plastik, nampan semai, atau kotak kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadah tanaman dewasa, umumnya digunakan polybag berukuran 30 - 40 cm dengan lobang secukupnya untuk mengalirkan kelebihan air saat penyiraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas tissu / koran basah untuk menjaga kelembaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayakan pasir untuk mengayak media semai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handsprayer untuk penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Centong pengaduk media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinset untuk mengambil bibit dari wadah semai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polybag ukuran 5 kg untuk penanaman transplant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang rami (seperti yang sering digunakan tukang bangunan) untuk mengikat tanaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ember penyiram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan media semai&lt;br /&gt;Sebelum melakukan persemaian, sempuran media semai diaduk dahulu secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persemaian tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persemaian benih besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk benih yang berukuran besar seperti benih melon dan ketimun, sebaiknya dilakukan perendaman di dala air hangat kuku selama 2 - 3 jam dan langsung ditanamkan dalam wadah semai yang berisi media dan telah disiram dengan air. Benih diletakkan dengan pinset secara horisontal 4 - 5 mm dibawah permukaan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transplanting bibit dari wadah semai ke wadah yang lebih besar dapat dilakukan ketika tinggi bibit sekitar 12 - 15 cm (28 - 30 hari setelah semai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persemaian benih kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk benih berukuran kecil seperti tomat, cabai, terong dan sebagainya cara persemaiannya berbeda dengan benih besar. Pertama siapkan wadah semai dengan media setebal 5 - 7 cm. Di tempat terpisah tuangkan benih yang dicampurkan dengan pasir kering steril secukupnya dan diaduk merata. Benih yang telah tercampur dengan pasir ditebarkan di atas permukaan media semai secara merata, kemudian ditutup dengan media semai tipis - tipis (3 - 5 mm). Setelah itu permukaan wadah semai ditutup dengan kertas tisu yang telah dibasahi dengan handsprayer kemudian simpan di tempat gelap dan aman.Wadah semai sebaiknya dikenakan sinar matahari tip pagi selama 1 - 2 jam agar perkecambahan tumbuh dengan baik dan sehat. Setelah benih mulai berkecambah, kertas tisu dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bibit mencapai tinggi 2 - 3 cm dipindahkan ke dalam pot / polybag pembibitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan semai&lt;br /&gt;Bibit kecil yang telah berkecambah di dalam wadah semai perlu disirami dengan air biasa. Penyiraman jangan berlebih, karena dapat menyebabkan serangan penyakit busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembibitan&lt;br /&gt;Setalah bibit berumur 15 - 17 hari (bibit yang berasal dari benih kecil) perlu dipindahkan dari wadah semai ke pot / polybag pembibitan agar dapat tumbuh dengan baik. Caranya adalah dengan mencabut kecambah di wadah semai (umur 3 - 4 minggu setelah semai) secara hati - hati dengan tangan agar akar tidak rusak kemudian tanam pada lubang tanam yang telah dibuat pada pot / polybag pembibitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transplanting/pindah tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dilakukan pindah tanam, perlu dilakukan persiapan media tanam, yaitu dengan mengisikan media tanam ke polybag. Sebaiknya pengisian dilakukan di dekat lokasi penanaman di dalam green house agar sterilitas media tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wadah tanam siap dan dibuatkan lubang tanam, maka transplanting siap dilakukan. Transplanting dilakukan dengan membalikkan pot pembibitan secara perlahan - lahan dan menahan permukaannya dengan jemari tangan (bibit dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah). Jika pada pembibitan digunakan polybag, maka cara transplanting bisa dilakukan dengan memotong / menggunting dasar polybag secara horisontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan secara kontinu, dengan indikator apabila media tumbuh dipegang dengan tangan terasa kering. Meida tanam hidroponik bersifat kering sehingga penyiraman tanaman jangan sampai terlambat. Jenis dan cara penyiraman adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman manual&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan dengan handsprayer, gembor / emprat atau gayung. Cara penyiramannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa persemaian&lt;br /&gt;Cara penyiraman untuk benih berukuran kecil cukup dengan handsprayer 4 - 5 kali sehari untuk menjaga kelembaban media. Untuk benih berukuran besar digunakan gembor/emprat berlubang halus atau tree sprayer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pembibitan&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan dengan gembor dilakukan sebanyak 5 - 6 kali sehari dan ditambahkan larutan encer hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pertumbuhan dan produksi&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan dengan memeberikan 1.5 - 2.5 l larutan encer hara setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman otomatis&lt;br /&gt;Penyiraman dapat dilakukan dengan Sprinkle Irrigation System dan Drip Irrigation System, yaitu sistem penyiraman semprot dan tetes . Sumber tenaga berasal dari pompa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan Tanaman. Perawatan tanaman yang perlu dilakukan antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang tidak dikehendaki, tunas air, atau cabang yang terkena serangan penyakit. Pemangkasan dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Misal pada tomat recento hanya dipelihara satu batang utama untuk produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikatan&lt;br /&gt;Tanaman yang telah berada di wadah tanam selama 7 hari memerlukan penopang agar dapat berdiri tegak sehingga tanaman dapat tumbuh rapi dan teratur. Penopang tersebut diberikan dengan cara mengikat tanaman dengan tali (benang rami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan bunga (pada sayuran buah)&lt;br /&gt;Penjarangan bunga perlu dilakukan agar pertumbuhan buah sama besar. Namun hasil penelitian penjarangan bunga pada ketimun Gherkin tidak menunjukkan hasil yang berbeda dengan perlakuan tanpa penjarangan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian hama dan penyakit&lt;br /&gt;Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen dan Pasca panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanenan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemanenan perlu diperhatikan cara pengambilan buah / hasil panen agar diperoleh mutu yang baik, misalnya dengan menggunakan alat bantu pisau atau gunting panen. Cara panen yang benar dan hati-hati akan mencegah kerusakan tanaman yang dapat mengganggu produksi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria panen masing-masing jenis sayuran berlainan satu sama lainnya dan tergantung dari pasar. Makin besar buah belum tentu makin mahal / laku, malah termasuk kriteria buah afkir sehingga waktu panen yang tepat dan pengawasan pada proses produksi perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan pasca panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasaran produk hasil budidaya hidroponik sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Standar harga penjualan produksi tergantung dari menarik atau tidaknya produk yang dihasilkan, terutama dilihat dari penampilan produk (bentuk, warna, dan ukuran). Perlakuan pasca panen sangat penting karena kualitas produk tidak semata-mata dari hasil produksi saja, melainkan sangat tegantung dan ditentukan oleh penanganan pasca panen, kemasan, sistem penyusunan, metode pengangkutam maupun selektivitas produk. Kerusakan produk dapat dikurangai dengan penanganan pasca panen yang tepat sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pada produk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-1268956672986237975?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/1268956672986237975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=1268956672986237975&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/1268956672986237975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/1268956672986237975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/teknik-budidaya-sayuran-secara.html' title='&lt;center&gt;Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-8136239922038340357</id><published>2008-12-18T00:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T00:11:47.196+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Kemangi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkyVDGKopI/AAAAAAAAAKM/9K1rw4SxXBw/s1600-h/kemangi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkyVDGKopI/AAAAAAAAAKM/9K1rw4SxXBw/s200/kemangi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280807375258428050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kemangi yang banyak diusahakan adalah jenis lokal yang belum jelas nama/varietasnya. Penampilan tanaman cukup rimbun. Daun berwama hijau muda. Bunga putih kurang menarik. Bila dibiarkari berbunga maka pertumbuhan daun lebih sedikit dan tanaman cenderung cepat tua dan gampang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemangi (Ocimum canum) lebih sering digunakan sebagai lalap. Ada juga yang menggunakannya sebagai campuran sayur tertentu. Sayuran ini memiliki aroma harum dan rasa yang khas. Belum banyak petani yang mengusahakan kemangi dalam skala besar, paling hanya di sepetak tanah saja. Ini dikarenakan nilai komersial sayur kemangi memang masih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemangi tidak menuntut syarat tumbuh yang rumit. Dapat dikatakan semua wilayah di Indonesia bisa ditanami kemangi. Yang jelas tanahnya bersifat asam. Kemangi juga toleran terhadap cuaca panas maupun dingin. Perbedaan iklim ini hanya mengakibatkan penampilan tanacnan sedikit berbeda. Kemangi yang ditanam di daerah dingin daunnya lebih lebar dan lebih hijau. Sedang kemangi di daerah panas daunnya kecil, tipis, dan berwama hijau pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih Kemangi diperbanyak dengan bijinya. Biji diperoleh dari buah kemangi yang masak di batang. Ciri biji yang tua ialah berwama - hitam dan kering. Biji kemangi harus disemai terlebih dahulu sebelum ditanam. Tanah untuk persemaian diolah hingga gembur. Campur dengan sedikit pupuk kandang. Bila tanah terlalu lengket tambahkan pasir. Lantas taburkan biji kemangi dan tutupi dengan lapisan tanah tipis-tipis. Rawatlah tanaman yang sudah tumbuh di persemaian. Tanaman yang terlalu rapat dikurangi. Cabut tanaman yang lemah atau pertumbuhannya terganggu. Setelah berumur sekitar 4 minggu tanaman muda ini sudah bisa dipindah ke lahan. Kebutuhan benih kemangi untuk penanaman satu hektar lahan sekitar 2-5 kg. Penanaman Kemangi biasanya ditanam dalam bedengan-bedengan. Bedengan berukuran 1-1 m dengan panjang sesuai ukuran lahan. Sebelum penanaman, bedengan diberi pupuk kandang. Antar bedengan dibuat parit pengairan selebar 35 cm. Jarak tanam kemangi ialah 50 x 50 cm atau 60 x 60 cm. Buat lubang tanam kecil saja, yang penting tanaman muda bisa masuk dan tidak sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan Tanaman muda yang sudah di lahan perlu dicek apakah tumbuh dengan baik. Bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya jelek, harus segera disulam. Penyiangan perlu juga dilakukan. Gulma yang tumbuh dicabut atau dikored. Waktu penyiangan tak perlu menunggu hingga rumput tumbuh besar atau banyak. Rumput-rumput liar ini justru lebih berbahaya saat tanaman masih mada karena daya saing akar tanaman dalam menyerap hara masih sangat rendah. Bunga-bunga yang tumbuh harus dibuang. Bila tidak maka produksi pucuk segarnya akan menurun. Kuncup bunga dibuang seminggu sekali seraya melakukan pemangkasan. Aturlah agar percabangan menjadi kompak dan pertumbuhan pucuk nantinya tidak berat sebelah, melainkan merata ke segala penjuru. Pemupukan Dosis pupuk kandang yang diberikan ialah 10 ton/ha. Kemangi perlu mendapat tambahan pupuk yang banyak mengandung nitrogen, sepeni Urea. Unsur ini penting untuk merangsang perlumbuhan daun kemangi secara terus-menerus. Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman berumur 3 minggu. Pemupukan kedua saat tanaman berumur 5 minggu. Setiap kali memetik, berikan 3 g pupuk nitrogen per tanaman. Kebutuhan pupuk Urea untuk tanaman kemangi ialah 150 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama penyakit yang menyerang tanaman kemangi sangat sedikit. Bahkan petani kemangi sangat jarang melakukan penyemprotan insektisida. Penyemprotan ini memang dihindari karena dikhawatirkan residunya masih tertinggal di daun yang dipanen rutin. Meskipun demikian, bila ditemukan ulat yang menyerang daun kemangi dalam jumlah besar, dapat dilakukan pengendalian dengan insektisida Azodrin sebanyak 20-30 cc/1 air; atau Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/1 air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen dan Pasca Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak umur 50 hari sesudah tanam, daun kemangi sudah bisa dipetik. Lakukan pemetikan pada daun-daun muda seperti melakukan pemetikan pucuk teh. Pemetikan akan merangsang pertumbuhan cabang-cabang baru yang memungkinkan lebih banyak tunas baru tumbuh. Tunas-tunas baru ini dapat dipanen pada periode panen berikutnya. Panen pucuk kemangi dapat dilakukan hingga tanaman berumur tua. Bila ingin tanaman berumur panjang, jangan.biarkan sampai berbunga dan berbuah. Pisahkan tanaman yang khusus untuk diambil bijinya sebagai bibit. Dengan cara ini, tanaman yang hendak diambil pucuknya tak terganggu produkdvitasnya. Altematif lain dengan menyisakan satu atau dua cabang yang dibiarkan berbunga dan berbuah. Setelah bijinya tua cabang ini dipangkas. Biasanya kemangi dipetik sepanjang 15 cm. Bila ingin dipasarkan kemangi disatukan dalam ikatan kecil yang berisi 5-10 batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-8136239922038340357?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/8136239922038340357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=8136239922038340357&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8136239922038340357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/8136239922038340357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-kemangi.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Kemangi&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkyVDGKopI/AAAAAAAAAKM/9K1rw4SxXBw/s72-c/kemangi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-5050212754621057880</id><published>2008-12-17T23:53:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T00:02:37.882+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Buah Naga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkvJhL0QyI/AAAAAAAAAKE/ybjb2cJA0kc/s1600-h/naga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 159px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkvJhL0QyI/AAAAAAAAAKE/ybjb2cJA0kc/s200/naga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280803878641877794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanaman satu ini belakangan makin digemari. Konon, buahnya punya khasiat menyembuhkan banyak penyakit. Selain itu, penampilannya tak kalah menawan dibanding tanaman hias. Namanya belakangan jadi buah bibir. Kenapa? Penampilannya, jelas memang menarik. Bulat mengerucut dengan batang segitiga yang tak lazim. Biasanya, segi empat atau malah banyak segi. Tubuhnya dihiasi duri, meski pendek dan tidak mencolok. Sepintas, mirip kaktus. Bobot tubuhnya lumayan, per buah mencapai setengah kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mal atau supermarket, ia biasa dijual sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilo. Rasanya manis segar, sedikit asam. Ada pula yang mengaitkannya dengan mitos, katanya ia mampu menurunkan kadar gula darah dan kolesterol. Akhir-akhir ini, ia juga mulai dimanfaatkan sebagai tanaman hias berbuah yang ditanam di pot.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namanya buah Naga. Mungkin ada yang masih asing. Maklum, di samping relatif baru di Indonesia, yakni sekitar awal 2000-an, belum banyak orang yang mengusahakannya. Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. karena biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar. Oleh karena itu orang Vietnam menyebut buah naga atau dalam bahasa Vietnam disebut dengan nama Thang Loy di Thailand diberi nama Keaw Mang Kheon, dalam istiiah Inggris diberi nama DRAGON FRUIT clan di Indonesia dikenal dengan nama BUM NAGA Sebenarnya tanaman ini bukan tanaman asil daratan Asia, tetapi merupakan tanaman ask Meksiko clan Amerika Selatan bagian utara ( Colombia ). Pada awalnya buah naga ini dibawa kekawasan Indocina ( Vietnam ) oleh seorang Perancis sekitar tahun 1870. dari Guyama Amerika Selatan sebagai hiasan sebab sosoknya yang unik dan bunganya yang cantik dan berwarna putih. Baru sekitar tahun 1980 setelah dibawa ke Okinawa Jepang tanaman ini mendunia karena sangat menguntungkan. Pada tahun 1977 buah ini dibawa ke Indonesia clan berhasil disemaikan kemudian dibudidayakan. Buah naga kaya akan vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini juga disebut night blooming cereus. Ia berbunga hanya semalam (one night only). Saat panjang sekitar 30 cm, kuncup bunga biasanya akan membuka. Sekitar pukul 9 malam, mahkota bunga bagian luar yang berwarna krem tampak mekar. Di tengah malam, pukul 00.00, mahkota bagian dalam yang putih dan benangsari kuning akan bermekaran dan memancarkan aroma harum. Bau ini biasanya mengundang datangnya kelelawar, yang ternyata punya "tugas" menyerbuki bunganya. Dari bunga lalu jadilah buah. Bulat mengerucut, berkulit tebal 2-3 cm, dan, ini yang khas, di permukaan kulit buah terdapat "jambul-jambul" 1-2 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa khasiat dari DRAGON FRUIT adalah :&lt;br /&gt; 1. Penyeimbang kadar gula&lt;br /&gt; 2. Pencegah Kolesterol tinggi&lt;br /&gt; 3. Pencegah kanker usus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA BUDIDAYA BUAH NAGA&lt;br /&gt;1. Persyaratan Tumbuh Tanam&lt;br /&gt;Ditanam di dataran rendah, pada ketinggian 20 - 500 m diatas permukaan laut.&lt;br /&gt;Kondisi tanah yang gembur, porous, banyak mengandung bahan organik clan banyak mengandung unsur hara, pH tanah 5 - 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air cukup tersedia, karena tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan membusuk bila kelebihan air Membutuhkan penyinaran cahaya matahari penuh, untuk mempercepat proses pembungaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persiapan Lahan&lt;br /&gt;Persiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tidak mempunyai batang primer yang kokoh. Dapat menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapikan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi besi yang berbentulk lingkaran untulk penopang dari cabang tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sebelum tanam, terlebih dahulu dibuatkan lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 - 4 Lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tian penyangga. Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 - 10 kg dicampur dengan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Persiapan bibit dan penanaman&lt;br /&gt;Buah naga dapat diperbanyak dengan cara : Stek dan Biji.&lt;br /&gt;Umumnya ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 - 30 cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir clan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.&lt;br /&gt;Setelah bibit berumur ? 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemeliharaan&lt;br /&gt;Pengairan&lt;br /&gt;Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 - 2 hari sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak 5 - 10 Kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)&lt;br /&gt;Sementara belum ditemukan adanya serangan hama clan penyakit yang potensial. Pembersilhan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m ), clan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi clan ditumbuhkan 2cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Panen&lt;br /&gt;Setelah tanaman umur 1,5 - 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri - ciri warna kulit merah&lt;br /&gt;mengkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar. Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 - 650 gram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret. Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15 - 20 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-5050212754621057880?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/5050212754621057880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=5050212754621057880&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5050212754621057880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/5050212754621057880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-buah-naga.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Buah Naga&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUkvJhL0QyI/AAAAAAAAAKE/ybjb2cJA0kc/s72-c/naga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-7005393484919598369</id><published>2008-12-17T23:37:00.000+07:00</published><updated>2008-12-18T00:03:44.976+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Seledri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUktpWmAFSI/AAAAAAAAAJ8/I67DokeM09U/s1600-h/seledri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 165px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUktpWmAFSI/AAAAAAAAAJ8/I67DokeM09U/s200/seledri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280802226531472674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Family          APIACEAE&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terna tegak, tahunan, tinggi 25-100 cm. Batang bersegi dan beralur membujur. Bunga banyak, kecil-kecil, berwarna putih atau putih kehijauan. Dapat dibudidayakan di mana-mana dari dataran rendah sampai dataran tinggi, menyukai tempat yang lembab dan subur. Sering ditanam dalam pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daunnya digunakan sebagai penambah aroma/rasa pada masakan, juga sebagai sayuran atau sebagai salad. Selain itu, tanaman ini banyak mengandung vitamin A, C, dan zat besi., dan berkhasiat sebagai obat rematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seledri merupakan tanaman dataran tinggi yang dapat tumbuh baik pada kisaran suhu 7-16° C. Tanah yang baik untuk areal penanamannya adalah yang subur dan gembur dengan pH 5,5-6,8.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSEMAIAN Seledri dikembangbiakkan dengan biji. Oleh karena itu, untuk mendapat pertumbuhan dan produksi yang baik, maka harus ditunjang dengan benih yang baik pula. Beberapa jenis seledri seperti parsley dan celery, bibitnya umumnya didatangkan dari luar negeri. Sebelum disemaikan, sebaiknya biji seledri direndam dalam air dengan suhu 50° C selama 15 menit untuk merangsang perkecambahan. Benih-benih ini kemudian ditaburkan pada alur-alur dalam kotak atau bedeng persemaian. Jarak antaralur 2 cm dan dalamnya 1 cm. Alur lalu ditutup setipis mungkin dengan tanah agar mudah berkecambah. PENGOLAHAN TANAH Pengolahan tanah dilakukan sebelum tanaman di persemaian dipindahkan ke lahan. Tanah dibajak atau dicangkul, diberi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha, digemburkan, serta dibuat bedengan-bedengan. Lebar bedengan lm dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Bedengan-bedengan itu kemudian disiram dengan air secukupnya, lalu didiamkan selama seminggu sehingga reaksi-reaksi di dalam tanah menjadi stabil. PENANAMAN Setelah berumur 2 minggu, bibit seledri sudah dapat dipindahkan ke bedengan yang telah disiapkan. Jarak tanam yang digunakan tergantung jenisnya, tetapi umumnya digunakan jarak tanam (40 x 40) cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMUPUKAN Selain penggunaan pupuk kandang sebagai pupuk dasar, tanah juga perlu diberi pupuk susulan berupa pupuk buatan, yaitu urea 435 kg/ha, TSP 400 kg/ha, dan KCl 300 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama yang sering menyerang pertanaman seledri adalah sebagai berikut. NEMATODA Bagian tanaman yang diserang adalah akar sehingga tampak berbintil-bintil besar atau kecil. Keadaan ini akan mengganggu aktivitas akar dalam penyerapan air dan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Serangan yang berat pada saat tanaman muda dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil. Hama ini dapat dikendalikan dengan insektisida Curacron dengan dosis 1,3 cc/liter air. KUTU DAUN (APHID) Hama ini menimbulkan kerusakan pada daun. Daun muda yang terserang menjadi kuning dan akhirnya mengering. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat. Hama ini dapat diberantas dengan insektisida Basudin 60 EC dengan dosis 2 cc/1 air. PENYAKIT Penyakit pada seledri berupa bercak-bercak klorosis dan nekrosis yang bisa meluas pada daun dan tangkai daun. Pada bagian yang mengalami nekrosis tampak bintik-bintik hitam. Sedangkan pada tangkai daun bercak cokelat tampak memanjang. Penyakit ini dinamakan late night yang disebabkan oleh cendawan Septoria sp. Penyakit lain yang juga sering menyerang adalah bakterial soft rot yang disebabkan oleh Erwinia carotovora. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan Dhitane dengan dosis 1,5 g/1 air. Namun, jika tanaman telah terserang, sebaiknya dicabut dan dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen dan Pasca Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seledri mulai dapat dipanen pada umur 6-8 minggu setelah tanam. Yang dipanen adalah daun yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Parsley dapat dipanen beberapa kali hingga mencapai umur maksimum 5 bulan, biasanya satu tanaman dapat dipanen 6-8.helai daun. Sedangkan celery dipanen dengan cara dipotong pangkal batangnya tepat di atas akar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8615106632604406491-7005393484919598369?l=cerianet-agricultur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/feeds/7005393484919598369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8615106632604406491&amp;postID=7005393484919598369&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7005393484919598369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8615106632604406491/posts/default/7005393484919598369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-seledri.html' title='&lt;center&gt;Budidaya Seledri&lt;/center&gt;'/><author><name>crew_cerianet</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17322119111341187805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/S9-WHMB0ObI/AAAAAAAAAP0/o0v9czmm4vM/S220/crew_cerianet.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUktpWmAFSI/AAAAAAAAAJ8/I67DokeM09U/s72-c/seledri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8615106632604406491.post-1090696746918772772</id><published>2008-12-17T00:02:00.000+07:00</published><updated>2008-12-17T00:07:06.125+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Bayam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUff2uXUWQI/AAAAAAAAAJ0/JejL5W3ZJTY/s1600-h/spinach.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUff2uXUWQI/AAAAAAAAAJ0/JejL5W3ZJTY/s200/spinach.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280435219366959362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spp. Kata "amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting" (abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya berada pada kisaran luas panen antara 13.0 - 2.376 hektar. Di Indonesia total luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau menempati urutan ke-11 dari 18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan oleh Indonesia. Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per hektar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam (Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan daunnya kaku (kasap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri - ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan atau hijau keputih - putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya putih disebut bayam putih.&lt;br /&gt;  2. Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri - ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar - lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu:&lt;br /&gt;        1. A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak
